Review: Soul (2020)

Di tahun 2019, selepas merilis Toy Story 4 (Josh Cooley) di tahun tersebut, Pixar Animation Studios memberikan pernyataan bahwa mereka tidak akan lagi memproduksi sekuel dari film-film rilisan mereka terdahulu. Sebuah pernyataan yang jelas disambut baik oleh para penikmat, penggemar, sekaligus pecinta film-film animasi buatan rumah produksi rumah produksi milik The Walt Disney Company tersebut. Harus diakui, selain beberapa rilisan seperti Toy Story 3 (Lee Unkrich, 2010), Inside Out (Pete Docter, 2015), dan Coco (Unkrich, 2017), filmografi Pixar Animation Studios pada satu dekade lalu memang lebih banyak diisi dengan film-film sekuel maupun film-film dengan cerita orisinal yang kualitasnya jelas terasa medioker – tentu saja, “medioker” dalam ukuran film yang dihasilkan oleh rumah produksi sekelas Pixar Animation Studios. Membuka dekade baru, Pixar Animation Studios merilis Onward (2020) arahan Dan Scanlon yang tampil cukup meyakinkan sebagai sebuah sajian hiburan. Namun, Pixar Animation Studios benar-benar menunjukkan tajinya sebagai rumah produksi film animasi paling prestisius di dunia lewat film terbaru arahan Docter, Soul.

Sukar untuk tidak memberikan perbandingan antara Soul dengan Inside Out. Selain sama-sama dihasilkan oleh arahan Docter, kedua film tersebut juga secara beriringan berbicara tentang eksistensi manusia serta bagaimana kepribadian manusia terbentuk – Inside Out berfokus pada perkembangan emosi manusia sementara Soul membahas mengenai keberadaan jiwa manusia sebelum kelahiran dan sesudah kematian. Bahasan yang bernilai serius dan (terlalu) mendalam? Soul, seperti halnya Inside Out, menemukan cara yang lugas untuk menggambarkan bagaimana “kehidupan” dari jiwa manusia sebelum ia “terpilih” untuk dilahirkan ke dunia atau sesudah kematian menghampiri, membuka tiap lapisan kisah secara perlahan, dan menyajikannya dengan tampilan visual dan sangat, sangat indah. Tidak lupa, Soul juga dihangatkan dengan dialog-dialog ringan yang kadang begitu jenaka namun seringkali juga mampu tampil menyentuh. Sebuah tata pengisahan cerdas a la Pixar Animation Studios yang telah begitu familiar dan kini berhasil diaplikasikan secara kuat dan efektif.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Docter bersama dengan Mike Jones (EvenHand, 2002) dan Kemp Powers (One Night in Miami, 2020), alur cerita Soul dimulai ketika seorang guru musik bernama Joe Gardner (Jamie Foxx) berhasil meraih impiannya selama ini untuk menjadi seorang musisi ketika dirinya diterima untuk tampil mendampingi seorang musisi jazz legendaris, Dorothea Williams (Angela Bassett). Sial, sehari sebelum penampilannya bersama dengan sang musisi legendaris, Joe Gardner terjatuh ke sebuah lubang got dan mengalami koma. Joe Gardner lantas terbangun dan menyadari bahwa jiwanya sekarang berada diantara alam kehidupan dan kematian. Tidak mau menyerah begitu saja pada kematian, Joe Gardner berusaha untuk menemukan cara agar jiwanya dapat kembali ke tubuhnya. Dalam perjalanannya, Joe Gardner bertemu dan berkenalan dengan sosok yang disebut sebagai 22 (Tina Fey) yang merupakan perwujudan dari sebuah jiwa yang belum dilahirkan ke dunia. Meskipun sering terganggu dengan kehadiran 22, Joe Gardner tahu bahwa 22 lebih tahu banyak tentang lingkungan alam yang sedang mereka tinggali sekarang dan lantas meminta dampingannya untuk dapat keluar dari sana.

Layaknya film-film klasik buatan Pixar Animation Studios lainnya, cerita mengenai hubungan antara karakter tetap menjadi jiwa sekaligus nyawa dalam pengisahan Soul. Naskah cerita Soul begitu mampu menyelami berbagai hubungan yang dijalin karakter Joe Gardner dengan karakter-karakter lain yang berada di sekitarnya. Sosok Joe Gardner sebagai seorang guru yang begitu sabar dalam menghadapi murid-muridnya yang tidak semuanya memiliki talenta musik tergambar dengan baik bahkan semenjak Soul memulai pengisahannya. Begitu pula dengan jalinan kisah hubungan antara sang karakter utama dengan ibunya, Libba Gardner (Phylicia Rashad). Alur kisah antara karakter ibu dan anak ini memang berkesan tradisional – kisah tentang seorang ibu yang bersikeras agar sang anak memilih jalur aman yang telah tersedia daripada terus bergantung pada impian yang belum tentu dapat diwujudkan. Plot ini sebenarnya merupakan bagian kecil dari struktur pengisahan Soul secara keseluruhan. Meskipun begitu, plot cerita tersebut mampu dikembangkan dengan seksama dan bahkan berhasil memberikan sentuhan emosional yang begitu mendalam.

Alur kisah utama Soul, tentu saja, menampilkan dinamika hubungan dalam petualangan yang dijalani oleh karakter Joe Gardner bersama dengan 22 secara maksimal. Keduanya adalah dua sosok kepribadian dengan arah pemikiran yang berbeda: jika Joe Gardner menolak untuk menyerah pada kematian, maka 22 menolak untuk dilahirkan ke dunia. Lewat jalinan kisah perjalanan yang mereka lalui, Soul mampu melakukan meditasi akan kematian, rasa depresi, hingga berbicara tentang krisis paruh baya. Tentu, bahasan-bahasan tersebut adalah bahasan yang (sepertinya) merupakan bahasan yang hanya dapat dipahami oleh orang dewasa. Namun, naskah film ini mampu secara cerdik membangun kisah tentang problematika orang dewasa tersebut melalui visual akan sebuah dunia fantasi yang penuh warna dan menarik untuk dilihat. Hasilnya, Soul setidaknya masih mampu untuk memberikan hiburan tersendiri bagi penonton yang berasal dari kalangan muda.

Hubungan antara kedua karakter utama juga tergali dengan baik dan sangat menyenangkan untuk diikuti. Dua karakter yang awalnya terasa saling memaksakan diri untuk bersama secara perlahan tumbuh menjadi dua karakter yang saling mengerti satu sama lain. Hangat. Karakter-karakter yang tampil dalam linimasa pengisahan film ini juga mendapatkan dukungan solid dari para pengisi suaranya. Chemistry antara Foxx dan Fey tampil begitu meyakinkan dan menjadi salah satu elemen krusial yang membuat perjalanan mereka terus terasa hidup dan menarik untuk diikuti. Selain Foxx dan Fey, barisan pengisi suara Soul juga memberikan penampilan vokal yang begitu mengesankan. Bassett tampil begitu berwibawa sebagai sosok musisi jazz legendaris. Rashad hadir dengan nada vokal yang hangat dan bijaksana – layaknya seorang ibu. Rachel House mencuri perhatian lewat penampilan vokalnya sebagai Terry sang penghitung jiwa. Richard Ayoade, Alice Braga, Wes Studi, Fortune Feimster dan Zenobia Shroff juga menghadirkan olah vokal yang menyenangkan sebagai sosok-sosok pengasuh jiwa yang belum dilahirkan kedua yang semuanya bernama Jerry.

Memberikan pujian pada kualitas produksi dari film yang dihasilkan oleh Pixar Animation Studios mungkin terasa tidak begitu krusial mengingat Pixar Animation Studios telah memiliki standar kualitas teratas tersendiri diantara rumah produksi film animasi lainnya. Tetap saja, capaian yang diberikan Docter lewat Soul adalah sebuah raihan yang begitu istimewa dan akan mendorong film ini ke jajaran kualitas teratas dari film-film yang dihasilkan oleh Pixar Animation Studios. Dalam membahas dua dunia yang berbeda, Docter menghadirkan dua cara pengelolaan gambar yang berbeda pula. Lihat saja bagaimana Docter memperlakukan warna pada gambaran New York City dengan begitu hidup – salah satu gambaran paling indah dari New York City dalam sebuah film. Sementara, ketika Soul berada di dunia lainnya, film ini hadir dalam warna yang cenderung monoton. Meskipun begitu, gambaran akan karakter-karakter yang dihadirkan tetap menjadikan elemen pengisahan tersebut begitu menarik untuk terus diikuti.

Jangan lupakan salah satu elemen terbaik dari presentasi film ini, musik. Docter memilih pasangan Trent Reznor dan Atticus Ross (Mank, 2020) serta musisi Jon Batiste untuk memperkuat nyawa pengisahan tiap adegan dengan iringan musik mereka. Sama seperti penggambaran akan dua dunia yang berbeda, Reznor dan Ross menggarap komposisi musik ketika Soul berada di dunia para jiwa dan Batiste mengisi adegan-adegan di New York City dengan elemen musik jazz yang begitu menghipnotis. Barisan musik yang dihasilkan oleh ketiganya mampu tampil begitu memukau, khususnya ketika elemen elektronik yang dihasilkan oleh Reznor dan Ross berhasil berpadu dengan elemen jazz yang dipersembahkan Batiste. Docter berhasil mengemas Soul sebagai sebuah surat cinta bagi kehidupan itu sendiri. Tidak hanya Soul berhasil melampaui standar tinggi yang selalu diterapkan dalam presentasi film-film buatan Pixar Animation Studios, Soul juga mampu memberikan seluruh elemen pengisahan cerita terbaik yang dapat dihasilkan rumah produksi tersebut: keindahan, humor, hati, dan, tentu saja, berbagai elemen kisah yang akan membuat setiap orang mempertanyakan eksistensi diri mereka. Glorious!

Soul (2020)

Directed by Pete Docter Produced by Dana Murray Written by Pete Docter, Mike Jones, Kemp Powers Starring Jamie Foxx, Tina Fey, Questlove, Phylicia Rashad, Daveed Diggs, Angela Bassett, Graham Norton, Rachel House, Richard Ayoade, Alice Braga, Wes Studi, Fortune Feimster, Zenobia Shroff, Donnell Rawlings, June Squibb, Esther Chae, Cody Chesnutt, Cora Champommier, Margo Hall, Rhodessa Jones, Sakina Jaffrey, Calum Grant, Laura Mooney, Peggy Flood, Ochuwa Oghie, Jeannie Tirado, Cathy Cavadini Music by Jon Batiste, Trent Reznor, Atticus Ross Cinematography Matt Aspbury, Ian Megibben Edited by Kevin Nolting Production company Walt Disney Pictures/Pixar Animation Studios Running time 100 minutes Country United States Language English

3 thoughts on “Review: Soul (2020)”

Leave a Reply