Review: Mank (2020)

Dengan naskah cerita yang telah selesai ditulis oleh sang ayah, Jack Fincher, di tahun 1990an, Mank awalnya direncanakan akan menjadi film terbaru arahan David Fincher setelah ia menyelesaikan proses produksi The Game (1997). Fincher bahkan telah memilih Kevin Spacey dan Jodie Foster sebagai bintang utama dari filmnya. Sayang, niatan Fincher untuk menghadirkan film yang berkisah tentang proses penulisan naskah dari film Citizen Kane (Orson Welles, 1941) tersebut dalam presentasi hitam-putih menyebabkan banyak studio film menarik minat mereka untuk mendanainya. Jack Fincher sendiri tidak pernah berkesempatan untuk menyaksikan film yang naskah ceritanya ia tulis hingga dirinya meninggal dunia di tahun 2003. Lebih dari dua dekade kemudian, tepatnya pada pertengahan tahun 2019, Fincher mengumumkan bahwa dirinya akan melanjutkan proses untuk memfilmkan Mank dengan bantuan Netflix guna mempertahankan seluruh estetika presentasi dan penceritaan yang memang diinginkannya semenjak awal.

Jadi bagaimana sebenarnya presentasi dari Mank yang diinginkan oleh Fincher? Well… layaknya Citizen Kane yang menjadi bahasan utama dalam linimasa pengisahannya, Fincher menghadirkan Mank dalam tatanan penampilan dan pengisahan yang menyerupai film arahan Welles tersebut: tidak berwarna, penggunaan jenis huruf pada kredit pembuka film, efek cigarette burns – sebuah indikator visual yang dahulu lazim digunakan pada cetakan film gambar bergerak sebagai isyarat untuk memberi sinyal kepada projeksionis bahwa gulungan film tertentu telah berakhir – di berbagai adegan, serta plot pengisahan yang disampaikan secara non-linear. Dengan bantuan sinematografer Erik Messerschmidt yang mampu menghasilkan gambar-gambar hitam-putih berkelas, tatanan musik garapan Trent Reznor dan Atticus Ross bernuansa klasik yang begitu menghanyutkan, desain produksi hingga tata busana, rias dan rambut yang dapat ditangani secara handal, Mank dengan mudah membawa setiap mata untuk kembali ke era The Golden Age of Hollywood.

Alur kisah non-linear dalam Mank digunakan Fincher untuk menggambarkan bagaimana proses sang karakter utama, Herman J. Mankiewicz atau yang lebih dikenal dengan sapaan Mank (Gary Oldman), dalam menggarap naskah cerita dari film yang nantinya akan dikenal dunia dengan judul Citizen Kane serta berbagai konflik dan karakter dalam kehidupan profesionalnya yang memberikan pengaruh pada bangunan cerita tersebut. Lewat interaksinya dengan tokoh-tokoh perfilman Hollywood seperti Louis B. Mayer (Arliss Howard), Irving Thalberg (Ferdinand Kingsley), William Randolph Hearst (Charles Dance), dan Marion Davies (Amanda Seyfried), Mank menyusun cerita tentang kesuksesan seorang pengusaha yang mampu membangun sebuah kerajaan bisnis dari nol namun kemudian jatuh dan terjerembab akibat godaan uang dan kekuasaan yang menyertai kesuksesan tersebut. Meskipun digunakan sebagai gambaran mengenai kejadian atau tokoh mana yang menginspirasi kehadiran sesosok karakter ataupun sebuah konflik dalam pengisahan Citizen Kane, harus diakui, penggunaan tatanan kisah non-linear oleh Fincher sering membuat Mank tampil kurang solid dalam penyajian ritme ceritanya. Kadang mengalir dengan lancar dan cepat namun tidak jarang terasa hambar dan datar dalam sejumlah bagian penuturannya.

Apakah mereka yang belum pernah menyaksikan Citizen Kane dapat menikmati Mank? Tentu. Pemahaman akan kisah dari film yang sering dianggap sebagai film terbaik sepanjang masa tersebut (serta kondisi industri perfilman Hollywood di era tersebut) memang akan memberikan keleluasaan bagi penonton untuk mencerna Mank secara lebih mendalam. Meskipun begitu, naskah cerita garapan Jack Fincher tidak hanya bertutur soal trivia mengenai Citizen Kane maupun Hollywood. Mank juga dapat lugas untuk berkisah secara personal. Penggalian tentang kepribadian dari sosok Mank yang digambarkan sebagai sosok pria yang cerdas namun menyimpan begitu masalah dihadirkan dengan tingkat sensitivitas yang rasanya belum pernah hadir dalam film-film garapan Fincher sebelumnya. Lihat saja bagaimana interaksi antara karakter Mank dengan istrinya, Sara Mankiewicz (Tuppence Middleton), atau dengan sekretarisnya, Rita Alexander (Lily Collins), atau dengan karakter Marion Davies yang selalu berhasil memberikan momen-momen hangat pada linimasa penceritaan Mank.

Fincher juga dengan cerdas mampu mengelola naskah cerita garapan sang ayah yang bertutur tentang kondisi Hollywood (dan dunia) di tahun 1940an untuk dapat merefleksikan kondisi Hollywood (dan dunia) di era sekarang. Kisah tentang perjuangan untuk mendapatkan pengakuan atas hasil karya yang telah dihasilkan, usaha sekelompok orang dalam menggunakan kekuasaannya untuk mewujudkan segala keinginannya, hingga elemen tentang dunia politik yang sering dibumbui dengan kisah-kisah penuh kebohongan demi menjatuhkan sosok yang tidak disukai jelas masih sangat relevan hingga saat ini. Perseteruan sengit antara karakter Mank dengan Orson Welles (Tom Burke) juga diberikan porsi yang padat di paruh ketiga pengisahan Mank. Tidak begitu besar namun dapat memberikan narasi yang cukup kuat tentang salah satu perseteruan paling melegenda yang pernah terjadi di Hollywood.

Hidupnya pengisahan Mank juga tidak lepas dari kekuatan penampilan akting yang diberikan barisan pemeran film ini. Oldman tampil meyakinkan dan penuh kharisma sebagai sosok Mank. Dengan tata busana serta tata rias dan rambut yang tepat, Seyfried benar-benar terlihat sebagai aktris yang datang dari era keemasan Hollywood. Namun, lebih dari itu, Seyfried juga berhasil membuat sosok Marion Davies mampu mencuri perhatian dalam setiap kehadirannya tidak hanya melalui kecantikan namun juga sikap serta cerminan kecerdasannya. Middleton juga dapat membuat penonton merasa begitu terikat dengan sosok Sara Mankiewicz yang sering terasa terabaikan atau tersia-siakan keberadaannya. Penampilan lain dari Dance, Burke, Collins, Tom Pelphrey dan Sam Troughton juga memberikan dukungan atas solidnya kualitas departemen akting dari Mank. Sebuah pencapaian yang tidak hanya indah namun juga akan mampu meninggalkan kesan mendalam pada setiap mata yang menyaksikannya.

 

Mank (2020)

Directed by David Fincher Produced by Ceán Chaffin, Eric Roth, Douglas Urbanski Written by Jack Fincher Starring Gary Oldman, Amanda Seyfried, Lily Collins, Arliss Howard, Tom Pelphrey, Sam Troughton, Ferdinand Kingsley, Tuppence Middleton, Tom Burke, Joseph Cross, Jamie McShane, Toby Leonard Moore, Monika Gossmann, Charles Dance, Leven Rambin, Bill Nye, Jeff Harms Music by Trent Reznor, Atticus Ross Cinematography Erik Messerschmidt Edited by Kirk Baxter Production company Netflix International Pictures Running time 131 minutes Country United States Language English

One thought on “Review: Mank (2020)”

Leave a Reply