Review: Mulan (2020)

Rencana Walt Disney Pictures untuk mengadaptasi film animasi Mulan (Barry Cook, Tony Bancroft, 1998) menjadi sajian live-action sebenarnya telah terdengar semenjak tahun 2010 yang lalu. Kala itu, Chuck Russell yang sebelumnya mengarahkan film-film seperti The Mask (1994), Eraser (1996), dan The Scorpion King (2002) didapuk untuk duduk di kursi penyutradaraan dengan aktris Zhang Ziyi direncanakan untuk memerankan sang karakter utama. Sayang, entah kenapa, rencana tersebut gagal untuk berubah menjadi nyata. Ide untuk memproduksi versi live-action dari Mulan kembali muncul pada awal tahun 2015 dan dipersiapkan secara lebih matang – khususnya ketika Walt Disney Pictures berhasil membuktikan bahwa film-film adaptasi live-action yang mereka produksi seperti Alice in Wonderland (Tim Burton, 2010), Maleficent (Robert Stromberg, 2014), dan Cinderella (Kenneth Branagh, 2015) mampu menghasilkan pendapatan komersial yang menggiurkan. Dalam pengembangannya, adaptasi live-action dari Mulan lantas memilih Niki Caro (The Zookeeper’s Wife, 2017) untuk duduk di kursi sutradara, aktris Liu Yifei untuk memerankan karakter Mulan, serta nama-nama seperti Gong Li, Donnie Yen, Tzi Ma, hingga Jet Li hadir untuk memperkuat barisan pemerannya.

Dengan naskah cerita yang digarap oleh Rick Jaffa (Jurassic World, 2015), Amanda Silver (In the Heart of the Sea, 2015), Elizabeth Martin, dan Lauren Hynek, Mulan masih menghadirkan jalinan kisah yang telah familiar meskipun dengan sejumlah perubahan pada beberapa bagian linimasa ceritanya. Tidak ingin ayahnya, Hua Zhou (Ma), kembali turut berperang setelah mendapat panggilan dari kerajaan, Hua Mulan (Liu) kemudian memilih untuk mewakili keluarganya dalam berperang bersama pasukan tentara kerajaan. Tentu saja, dengan memilih untuk menjadi seorang tentara kerajaan, Hua Mulan harus menutupi identitasnya sebagai seorang perempuan. Bukan sebuah tugas yang mudah, tentu saja. Selain harus terus berhati-hati agar identitasnya tidak diketahui, Hua Mulan juga harus melewati serangkaian pelatihan militer yang sangat menguras kemampuan fisik dan mentalnya. Dengan tekad yang kuat, Hua Mulan ternyata mampu menjadi sosok tentara yang dapat diandalkan keberadaannya. Namun, keharusan untuk menutupi identitas dirinya terus saja menghantui diri Hua Mulan.

Dengan durasi pengisahan yang lebih panjang jika dibandingkan dengan film animasi pendahulunya, Mulan justru hadir dengan pengelolaan cerita yang terasa lebih hambar. Selain banyak menghilangkan unsur komedi dari linimasa pengisahannya, versi teranyar dari Mulan juga memberikan fokus yang lebih banyak – meskipun tidak terasa lebih mendalam – pada sosok karakter Hua Mulan dan berbagai intrik yang sedang dihadapinya. Pilihan tersebut, sayangnya, membuat ruang pengisahan bagi karakter-karakter lain yang berada di sekitarnya menjadi terasa minim atau gagal berkembang dengan seksama. Hal ini khususnya begitu terasa pada sosok-sosok karakter seperti Chen Honghui (Yoson An) yang sepertinya dibentuk sebagai love interest bagi sosok karakter Hua Mulan, atau karakter Cricket (Jun Yu) yang sepertinya dihadirkan untuk memberikan sentuhan komedi pada jalan cerita Mulan, atau sosok-sosok karakter antagonis seperti Böri Khan (Jason Scott Lee) dan Xianniang (Gong). Karakter-karakter tersebut, akhirnya, hanya berguna pada momen-momen tertentu dan gagal untuk menghadirkan pengisahan yang lebih kuat.

Garapan cerita yang disediakan film ini bagi sosok karakter utamanya juga tidak begitu mengesankan. Daripada mampu menghadirkan sebagai sosok pejuang perempuan dengan jalinan kisah perjuangan yang utuh, banyak elemen pengisahan bagi karakter Hua Mulan terasa disajikan sebagai ringkasan cerita belaka. Mulan seperti tidak terlalu berniat untuk menonjolkan daya tarik sang karakter utama, kemampuan-kemampuan yang ia miliki, atau berbagai dilema yang ia hadapi. Beruntung, Liu masih mampu menghadirkan penampilan akting yang cukup memikat untuk menjadikan kehadiran sosok Hua Mulan menjadi karakter yang masih menarik untuk diikuti kisahnya. Selain Liu, talenta akting yang membentuk barisan pemeran Mulan harus diakui tampil dengan kapasitas yang memadai. Memuaskan, meskipun cukup mengecewakan melihat nama-nama seperti Gong atau Li hadir dengan galian cerita karakter yang begitu terbatas.

Arahan Caro sendiri sebenarnya cukup handal dalam menonjolkan Mulan sebagai sebuah sajian aksi. Garapan yang diberikannya untuk ritme pengisahan, koreografi aksi, hingga desain produksi tampil meyakinkan. Meskipun tidak lagi menghadirkan lagu-lagu di berbagai adegannya, tata musik garapan Harry Gregson-Williams tampil lugas dalam menambahkan sentuhan emosional pada banyak adegan lewat komposisi musiknya. Oh, jangan sampai melewatkan versi teranyar dari Reflection yang masih dinyanyikan oleh Christina Aguilera yang kali ini tergarap semakin megah dan sesuai dengan citra yang ingin dikedepankan dari versi live-action dari Mulan. Cukup disayangkan untuk melihat Mulan kemudian gagal meninggalkan kesan yang lebih kuat akibat penataan ceritanya yang berkesan terlalu menyederhanakan berbagai gambaran konflik maupun karakter.

Mulan (2020)

Directed by Niki Caro Produced by Chris Bender, Jake Weiner, Jason T. Reed Written by Rick Jaffa, Amanda Silver, Lauren Hynek, Elizabeth Martin Starring Yifei Liu, Donnie Yen, Jason Scott Lee, Yoson An, Gong Li, Jet Li, Tzi Ma, Rosalind Chao, Xana Tang, Ron Yuan, Jun Yu, Jimmy Wong, Chen Tang, Doua Moua, Nelson Lee, Cheng Pei-pei, Arka Das, Ming-Na Wen, Crystal Rao, Elena Askin Music by Harry Gregson-Williams Cinematography Mandy Walker Edited by David Coulson Production company Walt Disney Pictures/Jason T. Reed Productions/Good Fear Productions Running time 115 minutes Country United States Language English

3 thoughts on “Review: Mulan (2020)”

Leave a Reply