Review: Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi (2020)

Boy Candra is at it. AGAIN!

Masih ingat momen-momen buruk ketika Anda menyaksikan Malik & Elsa (Eddy Prasetya, 2020) yang dirilis MAX Pictures bersama Disney+ Hotstar pada minggu lalu? Well… novel-novel karangan Candra sepertinya memang tengah menjadi komoditas terhangat untuk diadaptasi oleh para produser film Indonesia. Tidak lama setelah perilisan Malik & Elsa, kini giliran IFI Sinema dan Screenplay Films yang bekerjasama dengan Netflix untuk merilis Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi yang alur kisahnya juga diambil dari novel tulisan Candra yang berjudul sama. Keberadaan Jefri Nichol sebagai pemeran utama, Lasja F. Susatyo (Cinta dari Wamena, 2013) di kursi penyutradaraan, serta Upi (#TemantapiMenikah, 2018) sebagai penulis naskah memang memberikan secercah harapan pada film drama romansa remaja ini. Sayang, talenta-talenta industri perfilman Indonesia tersebut ternyata tidak mampu membalut kualitas dasar cerita yang sepertinya memang tidak dapat diselamatkan lagi.

Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi berkisah mengenai persahabatan antara Kevin (Nichol) dan Nara (Aurora Ribero) yang telah terjalin semenjak mereka kecil. Kevin adalah tempat bersandar bagi Nara dalam setiap keluh kesah, khususnya ketika Nara sedang jatuh cinta maupun patah hati. Nara tidak mengetahui bahwa, dibalik kesetiaan Kevin untuk mendengarkan setiap curahan hati Nara, Kevin memiliki cinta terpendam bagi sahabatnya tersebut. Kevin memilih mendiamkan saja rasa cinta yang ia miliki daripada mengambil resiko kehilangan persahabatannya dengan Nara seandainya cinta yang ia miliki ternyata bertepuk sebelah tangan. Kesabaran Kevin dalam menyembunyikan rasa cintanya kembali diuji ketika Nara jatuh cinta pada Juned (Axel Matthew Thomas). Melihat rasa cinta Nara yang begitu mendalam pada Juned membuat Kevin merasa bahwa ia telah kehilangan seluruh harapan untuk dapat menggenggam cinta Nara.

Berkaca pada alur cerita film ini serta Malik & Elsa, novel-novel garapan Candra memiliki kecenderungan untuk mengutamakan kehadiran dialog puitis yang sepertinya akan dikutip banyak remaja di akun Instagram mereka daripada pengelolaan plot serta karakter yang lebih dinamis. Sial, entah dengan alasan apa, naskah cerita Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi garapan Upi bersama dengan Piu Syarif (Moammar Emka’s Jakarta Undercover, 2017) juga mengikuti dengan patuh pada pakem tersebut. Daripada berusaha menyajikan penggalian plot maupun karakter yang lebih padat sekaligus efektif, Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi lebih memilih untuk berputar pada cinta persegi antara karakter Kevin, Nara, Juned, dan Tiara (Nadya Arina) dengan bumbu dialog-dialog (yang maunya terdengar) puitis dan mendalam. 86 menit durasi pengisahan film ini dihabiskan berputar pada konflik serupa yang jauh dari kesan menggairahkan untuk diikuti. Monoton.

And then there’s this Thomas guy. Jelas adalah sebuah kesalahan besar untuk menempatkan sesosok aktor yang sama sekali tidak dapat berakting pada peran yang cukup krusial seperti Juned. Thomas hadir dengan ekspresi yang nyaris seragam pada tiap adegan, datar. Tampilan sosok pemuda yang berduka karena rasa patah hati yang mendalam baginya adalah dengan hadir bersungut-sungut dalam setiap adegan. Chemistry-nya dengan Ribero juga tampil minimalis – jika tidak ingin disebut sebagai hampa – sehingga sulit untuk percaya bahwa karakter Nara dapat merasakan cinta yang begitu mendalam pada karakter Juned yang diperankan Thomas. Penampilan fisik yang menawan mungkin menjadi nilai jual bagi sebuah film yang menyasar pada kaum muda. Namun mengenyampingkan kemampuan akting mereka jelas membunuh kesempatan sebuah film untuk bercerita dengan lebih baik.

Thomas jelas harus belajar banyak dari rekan sepantarannya, Nichol. Meskipun sekali lagi hadir dalam film drama romansa remaja dengan nada pengisahan yang tidak begitu berbeda dengan film-film yang dahulu pernah dibintanginya, Nichol masih mampu tampil dengan akting yang apik. Tidak banyak memang yang dapat dilakukannya dengan sosok karakter Kevin yang kurang begitu berkembang namun Nichol setidaknya berhasil membuat karakternya terlihat meyakinkan. Ribero juga dapat menjadi sosok pendamping yang baik bagi penampilan akting Nichol. Para pemeran lain yang mengisi departemen akting film seperti Arina dan Karina Suwandi juga tampil tidak mengecewakan meskipun, lagi-lagi, dengan porsi pengisahan yang begitu terbatas.

Pengarahan yang diberikan Susatyo untuk Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi setidaknya membuat film ini mengalir dalam ritme yang teratur meskipun dengan banyaknya keterbatasan pada tata pengisahannya. Kualitas departemen produksi juga membuat presentasi film terasa mewah dan cukup nyaman untuk disaksikan. Tidak banyak membantu kualitas penceritaan film ini secara keseluruhan memang namun setidaknya membuat Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi terlihat lebih berkelas.

Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi (2020)

Directed by Lasja F. Susatyo Produced by Adiyanto Sumardjono, Wicky V. Olindo Written by Upi, Piu Syarif (screenplay), Boy Candra (novel, Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi) Starring Jefri Nichol, Aurora Ribero, Axel Matthew Thomas, Nadya Arina, Karina Suwandi, Rebecca Klopper,  Aida Nurmala, Pascal Azhar,  Tina Astari,  Indra Aksa, Harris Soedarto, Jauhar Roberts, Gerald Abdullah, Richard Oh, Kelly Tandiono, Faishal Tanjung, Asyraf Jamal, Caecilia Dili, Dimitri Hariastuti Music by Joseph S. Djafar Cinematography Nurhidayat Edited by Wawan I. Wibowo Production company IFI Sinema/Screenplay Films Running time 86 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply