Review: The Glorias (2020)

Diadaptasi dari autobiografi milik aktivis perempuan Gloria Steinem yang berjudul My Life on the Road, The Glorias bertutur tentang perjalanan kehidupan Steinem semenjak dirinya kecil, remaja, hingga dewasa dan dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan kaum perempuan di Amerika Serikat hingga saat ini. Alur pengisahan film ini dimulai dengan mengenalkan penonton pada kehidupan Gloria Steinem pada masa kecilnya (Ryan Kiera Armstrong dan Lulu Wilson) yang harus berhadapan dengan berbagai masalah akibat perceraian kedua orangtuanya (Timothy Hutton dan Enid Graham). Beruntung, berbagai tantangan di masa kecil tersebut justru mengasah Gloria Steinem untuk menjadi sosok yang kuat dan kritis – khususnya ketika berhubungan dengan berbagai permasalahan yang harus dihadapi kaum perempuan ketika berhadapan dengan kaum pria dalam keseharian mereka. Perkenalannya dengan banyak aktivis perempuan lain semakin mendidik dan mempertajam pemikiran Gloria Steinem dewasa (Alicia Vikander dan Julianne Moore) dalam perjuangannya untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi kaumnya.

Dengan berbagai peristiwa bersejarah yang pernah melibatkan nama Steinem, My Life on the Road jelas bukanlah sebuah catatan kehidupan yang mudah ditaklukkan untuk kemudian “disederhanakan” menjadi sebuah presentasi film berdurasi 147 menit. Memang, The Glorias acapkali terasa kewalahan dalam menangani deretan konflik maupun karakter yang ingin dikedepankan linimasa penceritaannya. Pada beberapa bagian, variasi konflik dan karakter yang muncul dalam film ini sering berkesan bagaikan kilasan atau rangkuman peristiwa daripada sebagai garapan satuan kisah yang utuh. Meskipun begitu, naskah cerita yang digarap oleh Sarah Ruhl bersama dengan sutradara film ini, Julie Taymor, tampil cukup lugas dalam menuturkan peristiwa-peristiwa krusial yang membentuk kepribadian serta jiwa dari sosok setangguh Steinem. Cukup berhasil untuk membuka wawasan penonton film ini tentang Steinem maupun tentang pergerakan feminis di Amerika Serikat.

Seperti barisan film yang ia arahkan sebelumnya seperti Frida (2002), Across the Universe (2007), hingga The Tempest, eksekusi cerita yang dihadirkan Taymor untuk The Glorias juga tidak selalu bergerak secara linear. Mewujudkan artian dari judul buku yang menjadi sumber pengisahan film ini, The Glorias dibentuk sebagai sebuah dialog yang terjadi antara empat karakter Gloria Steinem – Gloria Steinem dari masa kecil, Gloria Steinem ketika masa remaja, dan dua sosok Gloria Steinem dewasa – dalam sebuah bus yang terus bergerak. Dialog-dialog yang terbentuk antara keempat Gloria Steinem tersebut menjadi refleksi atas berbagai hal yang pernah terjadi dalam kehidupan Steinem sekaligus harapan akan berbagai mimpi dan cita yang ingin digapainya. Sentuhan artistik Taymor juga dihadirkan dalam sebuah adegan bernuansa fantasi yang disajikan dengan penuh warna. Garapan tegas nan kuat yang mampu mendorong penuh esensi cerita yang ingin disampaikan oleh film ini.

Jiwa dari pengisahan The Glorias jelas berasal dari penampilan barisan pengisi departemen aktingnya. Moore, Vikander, Wilson, dan Armstrong berhasil menghadirkan gambaran yang menggugah akan sosok Steinem pada setiap tahapan kehidupannya. Moore dan Vikander, khususnya, tampil dengan penampilan akting yang kuat namun tetap humanis sebagai seorang karakter perempuan yang terus berusaha untuk menuntut kehidupan yang lebih baik bagi dirinya serta para perempuan di masa kini dan yang akan datang. Departemen akting The Glorias juga semakin solid dengan dukungan penampilan apik dari Hutton – yang beberapa kali mencuri perhatian dengan penampilannya sebagai sosok ayah yang kehidupannya bergitu bermasalah namun terus memberikan dukungan bagi puteri kesayangannya, Janelle Monáe, Lorraine Toussaint, Kimberly Guerrero, serta Bette Midler.

Mungkin My Life on the Road yang berisi banyak momen krusial dalam kehidupan seorang Gloria Steinem terlalu luas untuk disajikan dalam satu film saja? Mungkin. The Glorias memang beberapa kali tertatih untuk bertutur secara padat tentang alur kehidupan karakter utamanya. Namun, kehandalan pengarahan Taymor mampu mencegah film ini untuk terpuruk dalam kualitas ceritanya dan bahkan berhasil untuk mengikat perhatian penonton di setiap kesempatan. Dan, yang paling utama, arahan Taymor sukses dalam menghantarkan berbagai visi maupun misi yang dimiliki oleh Steinem secara emosional tanpa pernah menghadirkannya dalam balutan melodrama yang terasa berlebihan (atau dipaksakan). Powerful.

 

The Glorias (2020)

Directed by Julie Taymor Produced by Julie Taymor, Lynn Hendee, Alex Saks Written by Sarah Ruhl, Julie Taymor (screenplay), Gloria Steinem (book, My Life on the Road Starring Julianne Moore, Alicia Vikander, Timothy Hutton, Lorraine Toussaint, Janelle Monáe, Bette Midler, Lulu Wilson, Ryan Kiera Armstrong, Enid Graham, Kimberly Guerrero, Monica Sanchez, Margo Moorer, Jay Huguley, Michael Lowry Music by Elliot Goldenthal Cinematography Rodrigo Prieto Edited by Sabine Hoffman Production company Page Fifty-Four Pictures/Artemis Rising Foundation Running time 147 minutes Country United States Language English

One thought on “Review: The Glorias (2020)”

Leave a Reply