Review: Sabar Ini Ujian (2020)

Sabtu, 11 April 2020. Setelah ditelepon dan dibangunkan oleh sang ibu (Widyawati) serta ditelepon dan diingatkan kembali oleh sahabatnya, Billy (Ananda Omesh), Sabar (Vino G. Bastian) akhirnya harus menerima kenyataan bahwa dirinya harus menghadiri pernikahan mantan kekasihnya, Astrid (Estelle Linden), yang kini dipersunting oleh teman masa sekolah keduanya, Dimas (Mike Ethan). Menyaksikan mantan kekasih duduk bersanding di pelaminan dengan sosok pria lain memang merupakan sebuah cobaan berat. Belum lagi masih ditambah dengan dirinya yang harus mendengarkan guyonan-guyonan menjengkelkan dari dua temannya, Yoga (Rigel Rakelna) dan Aldi (Ananta Rispo), yang tidak berhenti menyinggung statusnya yang ditinggal nikah sang kekasih. Meski sulit, Sabar berhasil melalui hari itu dengan lancar. Sebuah keanehan terjadi. Esok paginya, Sabar kembali dibangunkan oleh sang ibu yang lagi-lagi mengingatkan dirinya untuk hadir ke pernikahan mantan kekasihnya. Tak disangka. Sabar terbangun di hari yang telah ia jalani sebelumnya.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Gianluigi Ch, Erwin Arnada (Guru Ngaji, 2018), dan Anggy Umbara (Si Manis Jembatan Ancol, 2019) yang juga bertugas sebagai sutradara untuk film ini, Sabar ini Ujian mencoba untuk mengaplikasikan konsep plot pengisahan yang melibatkan terjadinya time loop – situasi dimana satu/beberapa karakter harus terjebak dalam sebuah putaran waktu sebelum dirinya/mereka dapat memecahkan sebuah misteri yang dapat mengeluarkan mereka dari perjalanan waktu berulang tersebut – dan memang belum pernah digunakan oleh rilisan film Indonesia sebelumnya. Pilihan konsep cerita yang menarik sekaligus menantang mengingat konflik dengan kaitan time loop melibatkan linimasa cerita yang rumit namun mampu menjelma menjadi sajian yang benar-benar kuat ketika diimplementasikan dengan tepat. Lihat saja film-film buatan sineas luar macam Groundhog Day (Harold Ramis, 1993), Timecrimes (Nacho Vigalondo, 2007), Edge of Tomorrow (Doug Liman, 2014), hingga yang terbaru seperti Happy Death Day (Christopher Landon, 2017) dan Palm Springs (Max Barbakow, 2020). Lalu bagaimana dengan Umbara dan Sabar ini Ujian?

Well… sebagai film Indonesia pertama yang menghadirkan time loop dalam konflik ceritanya, Sabar ini Ujian hadir dengan kualitas yang tidak mengecewakan. Umbara jelas telah memahami benar konsep sekaligus rangkaian alur kisah yang ingin dihamparkan pada penonton – mulai dari landasan dari konflik, pengenalan akan keberadaan time loop yang menjadi tantangan bagi sang karakter, lapisan-lapisan insiden yang mengisi petualangan sang karakter dalam menjalani kehidupannya bersama sang putaran waktu, dan, tentu saja, paruh resolusi dimana sang karakter akhirnya akan mampu meraih kunci untuk keluar dari lingkaran masalah yang mengelilinginya. Konsep dan eksekusi Umbara memang terkesan matang. Sayangnya, eksekusi Umbara dilandaskan pada kualitas pengisahan yang tidak terlalu cemerlang. Hasilnya, pada banyak bagian, Sabar ini Ujian terasa sebagai sebuah perjalanan hampa dan tanpa adanya presentasi kisah yang benar-benar memiliki arti.

Dengan durasi yang mencapai 126 menit(!), Sabar ini Ujian benar-benar tampil layaknya ujian bagi batas kesabaran para penontonnya. Film ini menghabiskan waktu terlalu lama pada paruh pertamanya untuk mengenalkan konflik awal serta karakter-karakter yang berada di sekitar karakter utama. Ini masih ditambah dengan penampilan Rakelna dan Rispo yang hadir dengan guyonan yang sama sekali tidak lucu maupun menghibur – dan cenderung sangat mengganggu – di mayoritas bagian awal film serta banyak bagian film lanjutan. Ugh. Paruh kedua yang seharusnya dimanfaatkan untuk memperdalam konflik personal yang dialami oleh karakter Sabar yang nantinya akan menjadi fokus untuk resolusi konflik di paruh akhir juga terbuang dengan sia-sia dengan barisan adegan bernuansa komedi atau romansa yang tidak dapat tergali dengan seksama.

Kedangkalan cerita tersebut yang membuat kunci jawaban dari permasalahan dalam Sabar ini Ujian yang ingin berbicara tentang rasa sayang terhadap sosok ayah dan ibu, kelapangan dada untuk meminta atau memberi maaf, keegoisan diri, hingga usaha untuk melangkah dari kenangan masa lalu kemudian terasa dieksekusi dengan terburu-buru, lemah, dan berakhir hambar. Padahal, momen-momen tersebut diisi dengan penampilan apik dari Widyawati dan Adi Kurdi yang cukup menggugah. Akhir kisah film dimana karakter Sabar dipertemukan dengan sosok wanita yang kemudian menjadi love interest-nya juga cenderung terlihat menggelikan karena ketidakmampuan naskah cerita film untuk memberikan latar kisah yang lebih kokoh bagi hubungan kedua karakter.

Dengan lemahnya galian cerita pada tiap karakter yang muncul di linimasa pengisahan film yang menjadi film Indonesia pertama yang tayang perdana di Disney+ Hotstar yang baru saja diluncurkan di Indonesia ini, tidak mengherankan jika banyak pengisi aktingnya terasa hadir dalam kapasitas penampilan yang… well.. tidak buruk namun jelas tidak akan membekas lama di ingatan para penontonnya. Omesh, Linden, Luna Maya, dan Masayu Anastasia memberikan usaha terbaik mereka dalam menghidupkan setiap karakter dengan porsi pengisahan terbatas yang mereka perankan. Daya tarik Sabar ini Ujian memang diemban secara utuh oleh penampilan Bastian yang sekali lagi mampu menunjukkan kapasitasnya untuk berperan dalam film dengan nuansa komedi yang kental. And that’s pretty much all.

Sabar ini Ujian (2020)

Directed by Anggy Umbara Produced by Manoj Punjabi Written by Anggy Umbara, Gianluigi Ch, Erwin Arnada Starring Vino G. Bastian, Luna Maya, Ananda Omesh, Estelle Linden, Rigen Rakelna, Ananta Rispo, Anya Geraldine, Dwi Sasono, Widyawati, Mike Ethan, Adi Kurdi, Masayu Anastasia, Arief Didu, Ence Bagus, Susilo Badar, Arief Brata, David Nurbianto, Neneng Wulandari, Anggy Umbara Music by AL Cinematography Asep Kalila Edited by Cesa David Luckmansyah Production company MD Pictures/Umbara Brothers Film Running time 126 minutes Country Indonesia Language Indonesian

2 thoughts on “Review: Sabar Ini Ujian (2020)”

Leave a Reply