Review: Mudik (2020)

Di tengah keriuhan arus kendaraan di musim mudik tahun 2018, pasangan suami istri, Firman (Ibnu Jamil) dan Aida (Putri Ayudya), tengah berjuang agar mereka dapat tiba di kampung halaman menjelang malam Lebaran sembari dibebani ketegangan akan pemikiran tentang pernikahan mereka yang sedang bermasalah. Sebuah permasalahan baru ternyata menghampiri keduanya ketika mobil yang mereka kendarai terlibat dalam sebuah kecelakaan lalu lintas yang menewaskan seorang pengendara motor. Berniat bertanggungjawab, Firman dan Aida lantas berkunjung ke rumah duka dan bertemu dengan Santi (Asmara Abigail). Tidak disangka, perkenalan dengan ibu dari satu orang anak tersebut kemudian memberikan sudut cerita baru bagi perjalanan pernikahan Firman dan Aida – sebuah bagian cerita yang memantik bom waktu dari permasalahan rumah tangga yang selama ini telah coba diredam oleh keduanya.

Merupakan film panjang kedua yang diarahkan Adriyanto Dewo setelah menyelesaikan Tabula Rasa (2014), Mudik disajikan sebagai pengisahan intim dengan memberikan fokus yang utuh kepada para karakternya. Tidak ada konflik yang digarap rumit maupun berlapis. Namun, terlepas dari kesederhanaan penceritaan tersebut, Dewo mampu membangun penceritaannya dengan kisah drama rumah tangga yang getir serta balutan kritik tentang posisi perempuan dalam strata sosial yang lumayan mengena. Kata “mudik” yang digunakan Dewo untuk judul filmnya juga bukan hanya bertumpu pada kisah seputar ritual perjalanan tahunan masyarakat Indonesia tersebut. Perjalanan spiritual masing-masing karakter dalam linimasa cerita film ini untuk kembali meraih kedamaian dari berbagai problema yang menghimpit hati mereka turut menguatkan tema cerita yang dibawakan Mudik. Tidak mengherankan jika film yang juga dirilis dengan judul Homecoming ini lebih sering dihadirkan dalam tatanan dialog yang minim guna menguatkan atmosfer kesunyian yang dirasakan oleh setiap karakternya.

Dengan fokus besar yang diberikan pada karakter-karakter dalam jalan cerita film, Dewo berhasil mendapatkan penampilan-penampilan kuat dari para pengisi departemen aktingnya. Meskipun berada dalam porsi sebagai karakter pendukung, Abigail dan Yoga Pratama selalu mampu mencuri perhatian dengan penampilan yang sangat berhasil dalam menghidupkan karakter yang mereka perankan. Jamil dan Ayudya juga tampil kuat dalam peran mereka sebagai pasangan suami istri yang sedang dirundung duka dan masalah. Lewat penampilan Jamil dan Ayudya, penonton dapat merasakan ketidaknyamanan yang timbul dalam kebersamaan karakter Firman dan Aida yang mereka perankan. Ayudya, khususnya, menjadi kunci keberhasilan Mudik dalam menghadirkan banyak momen-momen emosional yang akan mampu tinggal di benak para penontonnya bahkan jauh setelah mereka menyaksikan film ini.

Tidak hanya berhasil dieksekusi dalam kualitas cerita dan akting yang meyakinkan, kemampuan pengarahan Dewo juga terasa begitu handal pada tatanan teknis film. Tata sinematografi film dari Vera Lestafa berhasil menghadirkan gambar-gambar yang berkesan sederhana namun mampu menguak begitu banyak artian yang mendukung atmosfer cerita yang ingin dihadirkan film. Paduan antara gambar dan suara yang menangkap keriuhan suasana mudik namun tetap mengedepankan kesunyian yang dirasakan oleh hati para karakter juga menjadi elemen yang membuat Mudik begitu memikat. Komposisi musik garapan Lie Indra Perkasa memang tidak selalu terdengar di setiap adegan. Meskipun begitu, Perkasa sepertinya memastikan bahwa iringan musiknya mampu memberikan dorongan emosional yang lebih kental dalam setiap adegan yang menghadirkannya.

Mudik (2020)

Directed by Adriyanto Dewo Produced by Perlita Desiani Written by Adriyanto Dewo Starring Putri Ayudya, Ibnu Jamil, Asmara Abigail, Yoga Pratama, Ayda Nandara Ochtavia, Lukman Hakim, Agus Lemu, Sapta Sutrisno, Eduwart Manalu, Yulian Dwi Susanto, Muhammad Abe Music by Lie Indra Perkasa Cinematography Vera Lestafa Edited by Arifin Cuunk Production companies Lifelike Pictures/Relate Films Running time 93 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply