Review: Waiting for the Barbarians (2020)

Merupakan film berbahasa Inggris perdana bagi sutradara berkewarganegaraan Kolombia, Ciro Guerra (Embrace of the Serpent, 2015), Waiting for the Barbarians adalah sebuah film drama yang kisahnya diadaptasi dari novel garapan J. M. Coetzee berjudul sama. Alur ceritanya sendiri berkisah tentang seorang petugas hukum (Mark Rylance) yang bertugas untuk mengawasi sebuah wilayah di suatu kerajaan. Kondisi wilayah yang diawasi oleh sang petugas hukum sebenarnya berjalan dengan tatanan hukum. Namun, kekacauan mulai timbul ketika wilayah tersebut kedatangan seorang anggota pasukan militer kerajaan, Colonel Joll (Johnny Depp), yang menduga bahwa wilayah yang diawasi oleh sang petugas hukum telah disusupi orang-orang yang berniat untuk melakukan pemberontakan. Colonel Joll bahkan menjalankan aksi hukumnya sendiri yang mengutamakan unsur kekerasan. Niat sang petugas hukum untuk memberikan perlawanan kemudian berakhir tragis ketika dirinya lantas dituduh telah melakukan tindakan pengkhianatan dan diberikan hukuman berat.

Dengan naskah cerita yang juga digarap oleh Coetzee, Waiting for the Barbarians masih mempertahankan pengisahan bernuansa politisnya yang cukup kental. Tema tentang kolonialisme atau penaklukan dan penguasaan atas tanah dan harta penduduk asli oleh penduduk pendatang telah dikemukakan semenjak alur cerita film ini dimulai meskipun kemudian dikembangkan secara perlahan hingga akhirnya tampil dengan intensitas dan ketegangan yang lebih menguat pada tahapan cerita lanjutan. Sayangnya, meskipun dengan tema sentral cerita yang sebenarnya cukup menggugah, Coetzee tidak pernah mampu membentuk bangunan kisah yang benar-benar menarik. Tarik ulur yang terbentuk atas konflik yang dihadapkan pada karakter sang petugas hukum dan Colonel Joll berjalan monoton akibat perputaran kisah yang tidak bergerak dinamis. Berjalan datar dan hampir tanpa perkembangan yang berarti.

Arahan yang diberikan oleh Guerra bagi film yang tayang eksklusif secara streaming melalui Mola TV ini juga tidak banyak membantu bagi kualitas penuturannya secara keseluruhan. Pilihan Guerra untuk mengalirkan Waiting for the Barbarians lewat ritme yang terlampau lamban membuat jalan cerita yang minim dengan konflik yang lugas menjadi terasa kurang menggigit. Beruntung, Guerra masih cukup handal untuk menggarap kualitas tatanan produksi filmnya dengan apik. Meskipun film ini tidak memiliki latar belakang waktu dan lokasi pengisahan yang spesifik, Guerra mengemasnya menjadi sajian cerita yang berlatar dataran gurun pasir dengan kesan klasik yang kuat melalui perantaraan tata rias dan rambut, kostum, serta desain produksi. Pilihan gambar yang dihasilkan oleh sinematografer Chris Menges juga semakin memperkuat atmosfer cerita bernuansa keras yang ingin dibawakan Guerra.

Namun, tentu saja, daya tarik utama bagi Waiting for the Barbarians hadir dari penampilan prima para pengisi departemen aktingnya. Dengan karakter yang tampil hadir dalam setiap adegan film, Rylance mampu menjadikan karakternya dapat memainkan emosi setiap penonton dengan seksama. Hal yang sama juga datang dari penampilan Depp. Karakter antagonisnya ditampilkan dengan nuansa kesinisan yang rasanya akan berhasil membuat setiap mata yang menyaksikan merasa benci dengan sosoknya. Robert Pattinson turut berhasil memberikan penampilan akting yang mampu mengimbangi penampilan akting yang diberikan Rylance maupun Depp. Meskipun karakter yang diperankan Pattinson baru tampil di paruh akhir pengisahan, namun kehadiran Pattinson benar-benar mampu mencuri perhatian. Penampilan apik dari Gana Bayarsaikhan, Greta Scacchi, dan Harry Melling juga memperkuat kualitas departemen akting film ini.

waiting-for-the-barbarians-johnny-depp-movie-header-3waiting-for-the-barbarians-johnny-depp-movie-header2

Harus diakui, tidak begitu mudah untuk menyukai Waiting for the Barbarians. Meskipun begitu, sulit untuk menolak daya tarik dari penampilan-penampilan apik yang diberikan Rylance, Depp, dan Pattinson bagi film ini. Penampilan ketiga aktor handal tersebut menjadi nyawa sekaligus memberikan jiwa bagi perjalan cerita yang ingin dituturkan Guerra. Di Indonesia, Waiting for the Barbarians sendiri tayang eksklusif secara streaming melalui Mola TV. Dengan biaya berlangganan sebesar Rp12500 per bulan, Anda akan mendapatkan akses yang mudah untuk menyaksikan Waiting for the Barbarians serta berbagai film serta serial televisi lain yang tayang secara khusus dan eksklusif di Mola TV. Tidak lupa, berbagai tayangan olahraga juga masih dapat Anda akses dengan mudah melalui browser atau aplikasi Mola TV yang kini telah dapat diunduh melalui App Store di perangkat Apple atau PlayStore di perangkat Android yang Anda miliki.

Waiting for the Barbarians (2020)

Directed by Ciro Guerra Produced by Monika Bacardi, Michael Fitzgerald, Andrea Iervolino, Olga Segura Written by J. M. Coetzee (screenplay), J. M. Coetzee (novel, Waiting for the Barbarians) Starring Mark Rylance, Johnny Depp, Robert Pattinson, Gana Bayarsaikhan, Greta Scacchi, David Dencik, Sam Reid, Harry Melling, Bill Milner Music by Giampiero Ambrosi Cinematography Chris Menges Edited by Jacopo Quadri Production companies Iervolino Entertainment/AMBI Running time 112 minutes Country Italy/United States Language English, Mongolian

Leave a Reply