Review: Anak Garuda (2020)

Meskipun sama-sama berkisah tentang kehidupan para pelajar dari sekolah Selamat Pagi Indonesia, sama-sama memiliki barisan karakter dengan nama serta potongan kisah yang serupa, serta sama-sama diarahkan oleh Faozan Rizal berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Alim Sudio, Anak Garuda bukanlah sebuah sekuel dan sama sekali tidak memiliki keterikatan penceritaan dengan Say I Love You yang dahulu sempat dirilis di penghujung tahun 2019. Sebuah reboot berusia dini? Mungkin saja. Jika Say I Love You memiliki konsentrasi cerita yang berada pada sosok karakter Sheren dan Robet, maka kedua karakter tersebut kini menjadi bagian dari tatanan pengisahan yang lebih luas dalam jalan cerita Anak Garuda. Sayangnya, menghadirkan skala cerita dalam ukuran lebih besar tidak serta merta menjadikan sebuah film menjadi lebih baik. Kehadiran banyak karakter yang coba mengisi linimasa penceritaan Anak Garuda justru membuat film ini tidak memiliki fokus cerita yang kuat sekaligus bangunan konflik yang benar-benar menarik.

Anak Garuda memulai pengisahannya dengan memperkenalkan penontonnya pada sekolah Selamat Pagi Indonesia, sebuah sekolah gratis khusus yatim piatu yang berlokasi di Batu, Malang, Jawa Timur yang memfokuskan pendidikannya untuk membentuk barisan wirausahawan handal dengan bantuan kurikulumnya yang unik dan inovatif. Dalam keseharian, pendiri sekolah tersebut, Julianto Eka Putra atau yang akrab disapa Koh Jul (Kiki Narendra), dibantu oleh beberapa alumni sekolah Selamat Pagi Indonesia yang kini bekerja bersama dirinya, Sheren (Rania Putrisari), Olfa (Clairine Clay), Wayan (Geraldy Kreckhoff), Dilla (Rebecca Klopper), Sayyida (Tissa Biani), Yohana (Violla Georgie), dan Robet (Ajil Ditto), sebagai sebuah tim kerja. Ketika Koh Jul memutuskan untuk memilih Yohana sebagai pemimpin sementara ketika dirinya bertugas ke luar kota, hubungan antara anggota tim kerja tersebut mulai memanas yang secara perlahan mulai mempengaruhi stabilitas lingkungan sekolah Selamat Pagi Indonesia. Hal tersebut masih ditambah dengan munculnya Rocky (Krisjiana Baharudin) yang membuat hubungan mereka makin memanas.

Diatas kertas, Anak Garuda sepertinya di-desain untuk menjadi sebuah presentasi cerita yang berniat untuk tampil inspiratif dengan tema-tema seperti “persatuan dalam keberagaman” atau “kerjasama” atau “persahabatan.” Lengkap dengan barisan dialog yang dapat dipetik sebagai kutipan kata-kata bijaksana. Well… tentu tidak ada salahnya untuk terus “mengeksploitasi” tema-tema tersebut guna memberikan pengaruh yang… well… positif maupun mendidik(?) kepada penonton. Sayangnya, daripada menggarap bangunan kisah yang menarik dan segar, naskah cerita garapan Sudio justru seringkali terjebak dengan alunan konflik maupun dialog berkesan klise tentang tema-tema yang dibawakan. Tidak hanya usang, konflik yang digunakan dalam 129 menit(!) pengisahan film ini juga tampil setengah matang dan repetitif. Lihat saja bagaimana paruh awal film ini berkisah tentang kepemimpinan dari karakter Yohana yang gagal ketika menggantikan posisi karakter Koh Jul di sekolah Selamat Pagi Indonesia sedangkan paruh lanjutan film ini bercerita tentang… kepemimpinan dari karakter Yohana yang gagal ketika menggantikan posisi Koh Jul ketika mereka sedang berliburan di Eropa. Cukup menggelikan melihat karakter-karakter dalam jalan cerita Anak Garuda sama sekali tidak pernah belajar dari kesalahan di masa lalu – dan membuang-buang waktu liburan mereka di Eropa dengan banyak pilihan dan kegiatan yang tidak berguna.

Dengan banyaknya konflik dan karakter yang benar-benar jauh dari kesan menarik yang dihadirkan Anak Garuda, tidak mengherankan jika film ini kemudian berakhir sebagai presentasi cerita yang panjang dan melelahkan – khususnya ketika dihadirkan dengan durasi penceritaan yang terlalu berlebihan. Pengarahan yang diberikan Rizal juga tidak menghadirkan banyak manfaat bagi kualitas film secara keseluruhan. Fokus yang terpecah ke banyak konflik dan karakter membuat Anak Garuda tidak pernah mampu menyajikan ritme cerita yang dapat dinikmati dengan baik. Terburu-buru dalam beberapa bagian serta sangat bertele-tele di banyak bagian lainnya. Kualitas produksi film juga tidak terasa istimewa. Sebagai sosok yang lebih dikenal sebagai seorang sinematografer di industri film Indonesia, tatanan sinematografi yang dihadirkan Rizal melalui garapan sinematografer Amalia TS cenderung berkualitas medioker. Tidak ada masalah yang cukup berarti di bidang teknis yang lain meskipun, sekali lagi, tidak pernah cukup berhasil untuk memberikan sokongan yang solid bagi kualitas presentasi Anak Garuda.

Anak Garuda masih cukup beruntung memiliki talenta-talenta akting muda nan berbakat dalam departemen aktingnya. Meskipun karakter-karakter mereka tersaji kurang matang, para pemeran film ini mampu menghadirkan penampilan yang cukup meyakinkan. Pujian khusus layak disematkan pada barisan aktris muda dalam film ini. Penampilan Putrisari, Clay, Klopper, Biani, dan Georgie adalah barisan penampilan yang seringkali menghadirkan detak kehidupan pada jalan pengisahan Anak Garuda yang acapkali terasa monoton dan tanpa kesan yang berarti.

popcornpopcornpopcorn2popcorn2popcorn2

anak-garuda-movie-posterAnak Garuda (2020)

Directed by Faozan Rizal Produced by Verdi Solaiman Written by Alim Sudio Starring  Tissa Biani, Violla Georgie, Ajil Ditto, Clairine Clay, Geraldy Kreckhoff, Rania Putrisari, Rebecca Klopper, Kiki Narendra, Krisjiana Baharudin, Rizky Mocil, Faradina Mufti, Laras Sardi, Fatih Unru, Iqbal Solaiman, Toran Waibro, Aldy Rialdy, Jenny Zhang, Sheila Kusnadi, Patty Sandya, Michael Handjaja, Rukman Rosadi, Brillin Desi, Abigael Tandailing, Alghaziah Tsalasa Putri A, Matosin, Anita Desi H, Sri Ari Bawati, Michelle Kusuma, Anis Dyah Wahyuti, Ibnu Gundul, Citra Azila Nandyasa, Kuswidiantoro Music by Aghi Narottama, Bemby Gusti, Tony Setiaji Cinematography Amalia TS Editing by Ary Prama Studio Butterfly Pictures Running time 129 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply