Review: Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (2020)


Dua tahun setelah mengarahkan Wiro Sableng, Angga Dwimas Sasongko kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk film drama keluarga Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini. Diadaptasi dari buku berjudul sama yang ditulis oleh Marchella FP, Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini bercerita tentang Awan (Rachel Amanda), anak bungsu dari pasangan Faris (Donny Damara) dan Ajeng Narendra (Susan Bachtiar), yang merasa dirinya selalu berada dibawah bayang dan awasan sang ayah dalam melakukan sesuatu. Sikap (over)protektif sang ayah ternyata tidak hanya berpengaruh pada kehidupan Awan. Anak sulung keluarga tersebut, Angkasa (Rio Dewanto), sering merasa terbeban akan berbagai tanggungjawab berlebihan yang diberikan sang ayah dalam mengawasi adik-adiknya. Sementara itu, sang anak tengah, Aurora (Sheila Dara), telah lama merasa dirinya telah kehilangan perhatian kedua orangtuanya semenjak mereka lebih memilih untuk memberikan perhatian pada dua saudaranya yang lain. Barisan konflik yang terpendam dalam jiwa setiap anggota keluarga tersebut secara perlahan mulai memberikan pengaruh pada hubungan mereka di keseharian.

Tidak sukar untuk merasa jatuh hati dengan barisan karakter yang dituliskan Sasongko bersama dengan Jenny Jusuf (Mantan Manten, 2018) dan Melarissa Sjarief untuk mengisi linimasa penceritaan film ini. Karakter-karakter tersebut, dengan serangkaian masalah dan perjuangan mereka, mampu dihadirkan dengan tata cerita yang hangat sekaligus begitu membumi. Di saat yang bersamaan, cukup sulit untuk merasa terhubung secara emosional dengan kisah-kisah yang dipaparkan oleh film ini ketika tidak satupun dari kisah-kisah tersebut mampu ditangani secara kuat dan matang. Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini berusaha untuk menghadirkan galian sebuah masalah dari sudut pandang kelima(!) karakternya. Diawali dengan fokus pada karakter Awan – yang sebenarnya tidak memiliki rangka cerita yang terlalu menarik untuk dijadikan pusat perhatian – Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini secara perlahan mengalihkan arah cerita ke karakter Angkasa – yang memiliki banyak potensi kuat namun gagal untuk dikembangkan dengan seksama.

Bangunan cerita yang dimiliki oleh karakter Aurora sebenarnya mampu bertutur dengan lantang tentang posisinya yang merasa tersingkirkan dari keluarganya. Namun, porsi cerita yang terlalu minimalis membuat kisah akan karakter tersebut terlanjur tenggelam dan tidak mampu mengikat perhatian secara lebih kuat lagi ketika dihadirkan secara ringkas di penghujung paruh kedua pengisahan Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini. Beberapa adegan dengan tata cerita kilas balik memberikan perspektif mendalam pada jalinan hubungan pasangan Faris dan Ajeng – yang di bagian ini diperankan oleh Oka Antara dan Niken Anjani. Cukup mampu untuk memperluas sudut pandang penonton akan setiap problema yang dihadapi oleh para karakter namun tidak tergarap dengan cukup handal untuk menjadikannya sebagai pembangun elemen emosional bagi jalan cerita film secara keseluruhan. Meskipun adegan “adu teriak” di paruh ketiga film terasa sebagai bagian pengisahan yang terlalu klise bagi film yang berkisah tentang konflik keluarga, pilihan Sasongko untuk tetap menjaga Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini agar terhindar dari kesan terlalu sentimental rasanya layak diganjar kredit lebih. Proses penyelesaian konflik cerita juga dihadirkan elegan sehingga kisah di film ini mampu berakhir dengan kesan yang meyakinkan.

Meskipun dengan konstruksi cerita yang tidak terlalu kuat, pengarahan yang diberikan Sasongko sendiri cukup mampu untuk menjadikan berbagai cerita yang ingin disampaikan oleh film ini mengalir dengan baik. Setiap lapisan cerita dibuka secara apik. Dukungan sinematografi garapan Yadi Sugandi jelas juga memberikan pengaruh besar pada asupan atmosfer pengisahan di banyak adegan. Desain produksi di banyak bagian juga tampil meyakinkan. Well… pilihan artistik untuk menghadirkan iringan musik di banyak adegan mungkin bukanlah suatu sentuhan yang benar-benar dibutuhkan. Belum lagi dengan deretan lagu-lagu yang mengalun yang kadang tidak benar-benar berhasil untuk merepresentasikan adegan yang sedang diiringi. Banyak momen dalam Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini yang sebenarnya dapat tampil lebih kuat jika disajikan tanpa embel-embel musik maupun lagu. Momen yang kebanyakan berorientasi pada dialog yang sedang berlangsung antar para karakter tersebut akhirnya terdistraksi dan kehilangan kekhidmatannya.

Satu hal yang pasti, Sasongko mendapatkan dukungan yang sangat solid dari penampilan para pengisi departemen akting filmnya. Bahkan dengan karakter yang lebih sering digambarkan sebagai sosok yang pasif, Dara mampu menjadikan karakter Aurora sebagai sosok yang dapat berbicara lantang dalam mengungkapkan isi otaknya lewat gestur tubuh maupun gerak matanya. Bachtiar sebenarnya juga melakukan hal yang sama untuk karakter Ajeng yang ia perankan. Namun porsi pengisahan karakternya yang benar-benar terbatas menjadikan penampilan Bachtiar lebih sering terasa kosong daripada menghasilkan pengaruh yang maksimal. Amanda, Dewanto, Damara, Antara, dan Anjani juga berhasil menghidupkan karakter-karakter yang mereka perankan dengan baik. Ardhito Pramono juga mencuri perhatian lewat karakternya yang menjadi sosok pencuri hati bagi karakter Awan. Rangkaian penampilan yang terus memastikan Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini tetap layak untuk disimak terlepas dari betapa sukarnya film ini untuk menghasilkan narasi yang mengikat.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

nanti-kita-cerita-tentang-hari-ini-movie-posterNanti Kita Cerita tentang Hari Ini (2020)

Directed by Angga Dwimas Sasongko Produced by Anggia Kharisma Written by Jenny Jusuf, Angga Dwimas Sasongko, Melarissa Sjarief (screenplay), Marchella FP (novel, Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini) Starring Rachel Amanda, Rio Dewanto, Sheila Dara, Donny Damara, Susan Bachtiar, Oka Antara, Niken Anjani, Ardhito Pramono, Agla Artalidia, Sinyo, Nayla Denny Purnama, Alleyra Fakhira Kurniawan, Muhammad Adhiyat, Syaqilla Afiffah Putri, Arswendi Bening Swara, Tanta Ginting Music by Ofel Obaja Cinematography Yadi Sugandi Editing by Hendra Adhi Susanto Studio Visinema Pictures Running time 120 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s