Review: Star Wars: The Rise of Skywalker (2019)


Rasanya cukup sukar untuk tidak menyinggung “kericuhan” yang disebabkan oleh Star Wars: The Last Jedi (Rian Johnson, 2017) sebelum membicarakan Star Wars: The Rise of Skywalker. Meskipun mendapatkan ulasan yang sangat positif dari banyak kritikus film, pilihan Johnson untuk menghadirkan linimasa pengisahan film dengan warna plot, karakter, konflik, dan humor yang sedikit berbeda serta lebih progresif jika dibandingkan dengan film-film dalam seri Star Wars lainnya membuat Star Wars: The Last Jedi ditanggapi cukup dingin oleh banyak penggemar berat seri film yang kini telah berusia lebih dari 40 tahun tersebut. Ketidaksukaan para penggemar setia Star Wars terhadap film garapan Johnson tersebut – yang ditandai dengan membanjirnya penilaian dan komentar negatif tentang Star Wars: The Last Jedi di berbagai situs internet – terasa begitu kental sehingga beberapa kali mendapatkan tanggapan langsung baik dari aktor, produser, bahkan Johnson sebagai sang sutradara film. Ketidakmampuan Johnson untuk memuaskan para penggemar berat Star Wars itu pula yang dikabarkan menjadi penyebab mengapa Johnson tidak kembali dilibatkan oleh Walt Disney Studios ketika Colin Trevorrow – yang awalnya didapuk untuk mengarahkan Star Wars: The Rise of Skywalker – kemudian memilih untuk meninggalkan proyek film tersebut.

Singkat cerita, Walt Disney Studios bersama dengan Lucasfilm Ltd. lantas memilih untuk memberikan kursi penyutradaraan kembali pada J. J. Abrams yang sebelumnya telah memiliki catatan sempurna ketika dirinya berhasil menghidupkan Star Wars: The Force Awakens (2015) sebagai film pertama dalam trilogi sekuel bagi Star Wars (1977 – 1983) yang memiliki latar belakang waktu pengisahan 30 tahun semenjak berbagai konflik yang diceritakan pada film terakhir trilogi tersebut, Return of the Jedi (1983). Abrams sepertinya cukup memahami berbagai “kegelisahan” yang dirasakan oleh sekelompok penggemar berat Star Wars atas berbagai pilihan radikal yang diambil Johnson pada Star Wars: The Last Jedi. Lewat naskah cerita yang ia garap bersama dengan Chris Terrio (Argo, 2012), Abrams menghadirkan serangkaian konflik sekaligus pengembangan karakter yang jelas terasa sangat familiar bagi para penikmat seri film ini. Sebuah pilihan yang bijaksana atau menandakan sebuah langkah mundur bagi Star Wars?

Pengisahan Star Wars: The Rise of Skywalker dimulai dengan pertemuan antara Kylo Ren (Adam Driver) dengan Palpatine (Ian McDiarmid) yang dahulu pernah memimpin Galactic Empire. Lewat pertemuan tersebut, Palpatine mengungkapkan bahwa adalah idenya untuk menciptakan Snoke (Andy Serkis) guna memimpin First Order serta menjadi sosok yang paling berperan dalam menggiring Kylo Ren untuk merangkul sisi gelapnya. Palpatine juga meminta agar Kylo Ren segera menemui Rey (Daisy Ridley) dan membunuhnya karena Rey adalah sosok penting dalam gerakan perlawanan yang dilakukan oleh kelompok Resistance. Melalui mata-mata mereka yang berada di First Order, Rey, Finn (John Boyega), Poe Dameron (Oscar Isaac), dan Chewbacca (Joonas Suotamo) mengetahui perihal kembalinya Palpatine. Segera, dengan ditemani C-3PO (Anthony Daniels) dan BB-8, mereka berangkat untuk mencari cara agar dapat menemui Palpatine dan melenyapkannya sebelum ia dapat menjalankan berbagai rencana jahatnya.

Berbeda dengan Johnson yang mencoba untuk melemparkan berbagai ide baru dalam jalan cerita film Star Wars yang diarahkannya, Abrams terasa memberikan perlakuan yang sama antara Star Wars: The Rise of Skywalker dengan Star Wars: The Force Awakens dimana elemen nostalgia menjadi faktor krusial dalam linimasa penceritaan film. Sama sekali tidak ada yang baru dalam alur pengisahannya – Abrams bahkan secara nekat menghadirkan banyak karakter popular dalam seri film ini melalui perantaraan adegan kilas balik maupun dalam perwujudan “karakter bayangan.” Tentu saja, pilihan untuk kembali memilih alur pengisahan bernada tradisional ini berarti turut mengorbankan beberapa alur cerita yang sebelumnya telah dibangun Johnson melalui Star Wars: The Last Jedi. Lihat saja bagaimana karakter Rose Tico (Kelly Marie Tran) yang kini tidak diberikan porsi pengisahan yang berarti – termasuk dengan menghilangkan potensi kisah romansanya dengan karakter Finn. Beberapa konflik maupun karakter lain yang sebelumnya diberikan perhatian khusus juga kini tidak lagi diindahkan dalam jalan cerita Star Wars: The Rise of Skywalker.

Namun, permasalahan utama bagi Star Wars: The Rise of Skywalker bukanlah pendekatan nostalgia yang benar-benar ditekankan Abrams guna menyenangkan para penggemar seri film ini. Dengan durasi pengisahan yang mencapai 142 menit, Star Wars: The Rise of Skywalker terasa menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berfokus pada hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting maupun berarti pada jalan cerita film secara keseluruhan. Naskah cerita garapan Abrams dan Terrio justru kemudian terasa memudahkan penyelesaian atas berbagai konflik yang sebenarnya terasa cukup rumit guna mendapatkan akhir kisah yang terkesan bahagia. Dan dengan pemanfaatan tata pengisahan opera yang begitu kental, Abrams dan Terrio juga tidak begitu mampu untuk menghadirkan momen-momen emosional yang kuat kepada para penontonnya. Tidak mengagetkan jika Star Wars: The Rise of Skywalker nantinya akan menjadi bagian yang mudah terlupakan dari seri film ini.

Terlepas dari lemahnya kualitas presentasi cerita, sulit untuk membantah bahwa Abrams mampu mengemas Star Wars: The Rise of Skywalker sebagai film penutup bagi sebuah trilogi yang cukup memuaskan. Driver, Ridley, Boyega, Isaac, dan barisan pengisi departemen akting film tampil dengan penampilan yang semakin meyakinkan dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Abrams juga sangat handal dalam mengeksekusi adegan-adegan pertarungan film sehingga sukses menjaga intensitas pengisahan sekaligus menghasilkan kesan epik yang sangat kuat bagi kualitas presentasi film – khususnya pada satu jam terakhir presentasinya. Mungkin akan tampil mengecewakan bagi mereka yang menginginkan sebuah langkah baru yang berani bagi Star Wars namun, secara keseluruhan, Star Wars: The Rise of Skywalker jelas bukanlah sebuah hasil akhir yang benar-benar buruk.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

star-wars-the-rise-of-skywalker-movie-posterStar Wars: The Rise of Skywalker (2019)

Directed by J. J. Abrams Produced by Kathleen Kennedy, J. J. Abrams, Michelle Rejwan Written by J. J. Abrams, Chris Terrio (screenplay), Derek Connolly, Colin Trevorrow, J. J. Abrams, Chris Terrio (story), George Lucas (characters) Starring Carrie Fisher, Mark Hamill, Adam Driver, Daisy Ridley, John Boyega, Oscar Isaac, Anthony Daniels, Naomi Ackie, Domhnall Gleeson, Richard E. Grant, Lupita Nyong’o, Keri Russell, Joonas Suotamo, Kelly Marie Tran, Ian McDiarmid, Billy Dee Williams, Cailey Fleming, Josefine Irrera Jackson, Billie Lourd, Greg Grunberg, Harrison Ford, Dominic Monaghan, Shirley Henderson, Hassan Taj, Lee Towersey, Dave Chapman, Brian Herring, J. J. Abrams, Nick Kellington, Martin Wilde, Anton Simpson-Tidy, Lukaz Leong, Tom Rodgers, Joe Kennard, Ashley Beck, Jodie Comer, Billy Howle, Mike Quinn, Kipsang Rotich, Denis Lawson, Warwick Davis, John Williams, Lin-Manuel Miranda, Jeff Garlin, Kevin Smith, Andy Serkis, James Earl Jones, Hayden Christensen, Olivia d’Abo, Ashley Eckstein, Jennifer Hale, Samuel L. Jackson, Ewan McGregor, Alec Guinness, Frank Oz, Angelique Perrin, Freddie Prinze Jr., Liam Neeson Music by John Williams Cinematography Dan Mindel Edited by Maryann Brandon, Stefan Grube Production company Lucasfilm Ltd./Bad Robot Productions Running time 142 minutes Country United States Language English

4 thoughts on “Review: Star Wars: The Rise of Skywalker (2019)”

  1. Sebenarnya apa yg jadi masalah fans di the last jedi?kurang fokus ke skywalker family?kalo saya sendiri malah kesalnya krn luke ‘dimatikan’ gitu aja.krn ada pencarian panjang.saya nunggu duel ama kylo…tp…hahaha

    1. Sebagai yang bukan bagian penggemar berat ‘Star Wars,’ saya sih ngeliat ‘Star Wars: The Last Jedi’ ngelempar banyak ide baru sebagai jembatan ke penceritaan berikutnya. Tapi oleh Rian Johnson banyak ide baru tersebut masuk kerasa mentah. Yah setengah matanglah. Jadi akhirnya nanggung. Mau menghibur seperti ‘Star Wars: The Force Awakens’ gak kesampaian. Mau tampil segar secara utuh juga gak tercapai.

  2. Ya mungkin film ini buat memuaskan fans starwars seperti avengers endgame dia penutup yg filmnya nginget2 dr 2008 sampai masa sekarang makanya 3 jam yg ngabisin waktu panjang dia bercerita battle cuma 15 menit. Sama halnya kayak starwars rise of skywalker mau nostalgia sama seperti film2 terdahulunya so wajar aja sih klo mengharapkan sesuatu yg baru mnurut gua jgn berharap ke sekuel penutup deh keknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s