Review: Black Christmas (2019)

Para penggemar horor jelas telah merasa familiar dengan Black Christmas (Bob Clark, 1974). Meskipun ketika masa perilisan awal film tersebut mendapatkan respon yang kurang menyenangkan dari para kritikus film, secara perlahan, Black Christmas mampu meraih popularitasnya – film tersebut dianggap sebagai salah satu slasher pertama yang dirilis secara luas oleh Hollywood, mendapatkan semakin banyak penggemar seiring dengan perjalanan waktu, serta memberikan banyak pengaruh pada film-film sejenis yang dirilis sesudahnya, termasuk Halloween (1978) arahan John Carpenter. Popularitas Black Christmas yang terus bertahan tersebut, tentu saja, menggoda Hollywood untuk kembali mereplikasi, memperbaharui, dan mengenalkannya pada barisan generasi penonton film yang berbeda. Sutradara Glen Morgan mengarahkan versi buat ulang Black Christmas di tahun 2006 yang dibintangi barisan aktris muda papan atas Hollywood di era tersebut seperti Katie Cassidy, Michelle Trachtenberg, Mary Elizabeth Winstead, dan Lacey Chabert namun gagal untuk meraih pujian dari segi kualitas presentasi cerita maupun mendapatkan keuntungan secara komersial dalam jumlah yang signifikan.

Empat dekade setelah perilisan Black Christmas arahan Clark dan lebih dari sepuluh tahun setelah kegagalan Black Christmas arahan Morgan, Jason Blum bersama dengan rumah produksinya, Blumhouse Productions, yang dikenal sebagai rumah produksi yang menghasilkan beberapa film horor paling ikonik dalam satu dekade terakhir seperti Paranormal Activity (2009), Insidious (James Wan, 2011), dan Get Out (Jordan Peele, 2017), mencoba untuk memberikan interpretasi terbaru pada alur pengisahan Black Christmas. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Sophia Takal (Always Shine, 2016), bersama dengan penulis naskah April Wolfe, versi terbaru dari Black Christmas ini mencoba menerapkan tema mengenai perlawanan terhadap sistem sosial patriarki serta tindak pelecehan dan kekerasan seksual yang selalu menindas hingga menjadikan kaum perempuan sebagai korbannya. Sebuah tema yang jelas terasa relevan dengan kondisi sekarang namun, sayangnya, gagal untuk diolah dan dikelola dengan penceritaan yang berkualitas.

Jalan cerita Black Christmas sendiri berfokus pada perkumpulan mahasiswi di sebuah universitas bernama Hawthorne College dengan menempatkan Riley Stone (Imogen Poots), Kris Presley (Aleyse Shannon), Marty (Lily Donoghue), serta Jesse Bradford (Brittany O’Grady) sebagai karakter-karakter sentralnya. Di malam menjelang Natal, keempat mahasiswi yang terpaksa menerima nasib mereka untuk tetap tinggal di asrama selama masa libur Natal tersebut baru menyadari bahwa beberapa mahasiswi anggota perkumpulan mereka yang sebelumnya telah berangkat pergi meninggalkan asrama untuk merayakan Natal ternyata belum sampai di tempat tujuan mereka masing-masing. Curiga, keempatnya mulai mencoba untuk memecahkan misteri keberadaan teman-teman mereka yang lantas mambawa mereka pada masa lalu dari Riley Stone yang pernah menjadi korban tindak kekerasan seksual yang dilakukan oleh mantan kekasihnya, Brian Huntley (Ryan McIntyre). Secara tiba-tiba, asrama milik perkumpulan mahasiswi tersebut mendapatkan serangan dari sekelompok orang asing yang ternyata berusaha untuk membunuh orang-orang yang berada di dalamnya.

Usaha Takal dan Wolfe untuk melibatkan berbagai topik hangat yang belakangan selalu dikaitkan dengan #MeToo Movement – mulai dari tindakan perkosaan terhadap sosok pacar yang dilakukan tanpa persetujuan dan melibatkan obat-obatan terlarang, pandangan bahwa laki-laki lebih tinggi dan/atau lebih baik derajatnya dari kaum perempuan, hingga berbagai isu mengenai sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang otoritas utama – jelas layak untuk diberikan apresiasi lebih dalam memberikan warna pengisahan baru dan lebih segar pada struktur penceritaan film-film slasher yang biasanya selalu terpaku pada formula penceritaan yang serupa. Di saat yang bersamaan, cukup sulit untuk tidak mengerutkan dahi ketika topik-topik relevan tersebut dihadirkan Takal dan Wolfe dalam penyampaian yang cenderung jauh dari kesan subtil. Alih-alih mampu memberikan penontonnya kajian tema sosial yang kuat dan mengikat, penyampaian Takal dan Wolfe berakhir dengan kesan sebagai ceramah yang cenderung menggurui, hampa, serta dengan dimensi pengisahan yang monoton.

Tidak hanya jalan penceritaannya yang terasa kaku dan tergarap dengan struktur karakter dan konflik yang berantakan, pengarahan horor yang diberikan Takal juga jauh dari mengesankan. Semenjak awal, Takal gagal untuk membangun atmosfer horor yang tepat bagi filmnya. Black Christmas terasa lebih mementingkan penyampaian pesan dan/atau moral cerita secara frontal daripada menyajikan presentasi horor yang menarik. Sama sekali tidak ada momen horor yang benar-benar kuat maupun mengikat di sepanjang 92 menit durasi pengisahan film ini. Bahkan momen-momen kejutan yang biasanya selalu hadir – dan gampang diprediksi keberadaannya – juga hadir tanpa intensitas yang berarti. Takal juga tidak mampu mendapatkan penampilan yang meyakinkan dari para pengisi departemen aktingnya. Seluruh karakter dihadirkan dengan tatanan penampilan yang lemah yang membuat tidak satupun karakter dalam jalan cerita film ini akan mampu membuat para penonton merasa peduli dengan keberadaan atau nasib mereka. Presentasi horor yang buruk.

popcornpopcornpopcorn2popcorn2popcorn2

Black-Christmas-2019-movie-posterBlack Christmas (2019)

Directed by Sophia Takal Produced by Jason Blum, Ben Cosgrove, Adam Hendricks Written by Sophia Takal, April Wolfe (screenplay), A. Roy Moore (original screenplay, Black Christmas) Starring Imogen Poots, Lily Donoghue, Aleyse Shannon, Brittany O’Grady, Caleb Eberhardt, Cary Elwes, Madeleine Adams, Ben Black, Simon Mead, Nathalie Morris, Zoë Robins, Ryan McIntyre, Mark Neilson, Lucy Currey Music by Will Blair, Brooke Blair Cinematography Mark Schwartzbard Edited by Jeff Betancourt Production company Blumhouse Productions/Divide/Conquer Running time 92 minutes Country United States Language English

Leave a Reply