Review: Love for Sale 2 (2019)


Masih ingat dengan sosok Arini (Della Dartyan) yang mampu meluluhlantakkan hati (dan kehidupan) seorang pria penyendiri bernama Richard (Gading Marten) dalam pengisahan Love for Sale (Andibachtiar Yusuf, 2018)? Well… kisah perjalanan sang “gadis penjaja cinta” yang bekerja di sebuah perusahaan aplikasi kencan daring bernama Love Inc. tersebut berlanjut lewat Love for Sale 2. Kali ini, Arini ditugaskan untuk “mendampingi” Ican (Adipati Dolken), seorang pria berusia 32 tahun yang mulai kewalahan untuk menghadapi permintaan sang ibu, Rosmaida (Ratna Riantiarno), agar dirinya segera menikah. Oleh Ican, Arini diperkenalkan kepada sang ibu sebagai mantan kekasih di saat menjalani masa kuliah dahulu yang kini sedang bertugas di Jakarta. Rosmaida jelas merasa senang melihat kedekatan putera keduanya tersebut dengan seorang perempuan yang dirasakannya sangat memenuhi kriteria sebagai seorang menantu idaman: taat beribadah, pintar memasak, dan masih kental pemahamannya akan adat istiadat. Seperti halnya karakter Richard dalam Love for Sale, Ican mulai melihat perubahan yang dibawa Arini dalam kehidupannya dan merasakan hal yang berbeda ketika dirinya sedang menatap atau sedang bersama gadis tersebut. Ya, seperti ibunya, Ican sudah jatuh cinta dengan sosok Arini.

Harus diakui, Love for Sale 2 adalah sekuel yang lebih menyenangkan jika dibandingkan dengan pendahulunya yang memiliki tata pengisahan yang terasa lebih muram. Jika Love for Sale menghadirkan eksplorasi yang terasa personal dan intim terhadap karakter Richard dengan menghadirkan karakter Arini – dengan, sayangnya, tanpa memberikan sedikitpun ruang pengisahan bagi karakter Arini, pengaruh kehadiran karakter Arini pada Love for Sale 2 kini tidak lagi hanya terpaku pada sang karakter utama dalam film ini. Love for Sale 2 bekerja lebih efektif sebagai sebuah film yang berusaha menggambarkan kedinamisan hubungan antara anggota sebuah keluarga yang dihubungkan dengan “ketidakmampuan” dari sang karakter utama untuk menemukan pendamping hidupnya. Naskah cerita yang masih digarap Yusuf bersama dengan M. Irfan Ramli sangat mampu untuk menangkap pergerakan sikap antara setiap karakter di dalam keluarga tersebut, konflik pendukung yang berada di sekitar mereka, sekaligus aliran emosional yang mengalir diantaranya. Tidak mengherankan bila Love for Sale 2 mampu menghasilkan sentuhan emosi yang lebih bervariasi serta bahkan terkadang lebih mendalam.

Di saat yang bersamaan, cukup sulit untuk menutup mata dari fakta bahwa naskah cerita Love for Sale 2 dibangun berdasarkan garisan konflik maupun karakter yang cukup lemah. Walau mendapatkan sedikit (baca: sangat sedikit) ruang pengisahan karakter di paruh ketiga film, karakter Arini nyaris tidak bergerak dari sosok karakter yang tampil hanya dengan satu karakterisasi di sepanjang pengisahan Love for Sale 2. Tampilannya sebagai seseorang yang selalu tersenyum dan hanya menampilkan apa yang ingin dilihat atau dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya terasa begitu dangkal ketika disajikan, lagi-lagi, tanpa pemahaman latar belakang karakter yang lebih kokoh. Penampilan berdimensi tunggal ini kemudian membuat perubahan positif yang dihadirkan karakter Arini pada para anggota keluarga Ican menjadi terasa semu dan jauh dari meyakinkan.

Hal yang sama juga terasa terjadi pada karakter-karakter lain – mulai dari karakter Rosmaida yang tergambar begitu relijius hingga karakter-karakter minor seperti Ndoy (Ariyo Wahab) dan Buncun (Bastian Steel) yang sebenarnya memiliki potensi pengisahan menarik namun tidak pernah benar-benar diberikan galian kisah yang lebih baik. Hadir tanpa pergerakan karakter yang berarti yang kemudian menyebabkan konflik yang terjalin antara karakter-karakter tersebut terasa sebagai repetisi yang dilakukan secara terus-menerus. Dibandingkan dengan karakter Richard dalam pengisahan Love for Sale, karakter Ican sendiri sebenarnya dihadirkan dengan penataan karakter yang membuat kehadirannya lebih mudah disukai. Namun, seperti karakter-karakter lain yang ada dalam film ini, linimasa pengisahan dari karakter sentral tersebut mulai menarik ketika Love for Sale 2 mulai menyajikan friksi dalam hubungan antara karakternya dengan karakter Arini. Datar. Luasnya kehampaan pada ruang penceritaan konflik dan karakter inilah yang kemudian membuat kehadiran Love for Sale 2 menjadi tiada berarti sebagai sebuah sekuel. Lanskap cerita boleh saja bergerak dari pengisahan personal dan mengarah ke kisah keluarga namun Love for Sale 2 jelas tampil dengan formula sekaligus berbagai permasalahan penceritaan yang sama dengan film pendahulunya.

Beruntung, Love for Sale 2 masih mendapatkan dukungan solid dari pengarahan Yusuf dan penampilan para pengisi departemen aktingnya. Pilihan Yusuf untuk menghadirkan film dengan warna yang lebih cerah serta atmosfer cerita yang lebih ringan cukup membantu Love for Sale 2 untuk bercerita dan mengalir dengan baik. Tidak pernah terasa membosankan meskipun alur ceritanya tidak pernah mampu menghadirkan klimaks emosi yang benar-benar memuaskan. Barisan pemeran film juga tampil lugas dalam menghidupkan setiap karakter yang ada dalam penceritaan film. Dolken dan Riantiarno, khususnya, menampilkan akting yang kuat untuk menjadikan dua karakter sentral yang mereka perankan mampu menyita perhatian secara utuh. Entahlah. Mungkin Love for Sale 2 memang hanya dimaksudkan untuk menjadi cerita pengisi jeda sebelum akhirnya Yusuf dan Ramli memberikan gambaran cerita yang lebih utuh di film berikutnya?

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

love-for-sale-2-adipati-dolken-della-dartyan-movie-posterLove for Sale 2 (2019)

Directed by Andibachtiar Yusuf Produced by Kori Adyaning Written by Andibachtiar Yusuf, M. Irfan Ramli Starring Della Dartyan, Adipati Dolken, Ratna Riantiarno, Ariyo Wahab, Bastian Steel, Putri Ayudya, Taskya Namya, Gading Marten, Egi Fedly, Yayu Unru, Abdurrahman Arif, Revaldo, Tersi Eva Ranti, Roy Marten, Rukman Rosadi, Dayu Wijanto, Adriano Qalbi, Sabrina R. Kalangie Music by McAnderson Cinematography Ferry Rusli Editing by Hendra Adhi Susanto Studio Visinema Pictures/TMF Films Running time 92 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s