Review: Perburuan (2019)


Seperti halnya Bumi Manusia (Hanung Bramantyo, 2019), Perburuan adalah sebuah film yang naskah ceritanya diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Jika Bumi Manusia memuat kisah yang berlatarbelakang masa penjajahan yang dilakukan oleh Belanda, Perburuan menghadirkan ceritanya pada momen-momen terakhir penjajahan Jepang di tanah Indonesia. Fokus penceritaannya sendiri berada pada karakter Hardo (Adipati Dolken), seorang mantan pemimpin peleton Pembela Tanah Air yang bersama dengan rekan-rekan yang sepemikiran dengannya kemudian melakukan pemberontakan demi menuntut kemerdekaan Indonesia dari Jepang. Sial, usaha pemberontakan tersebut mendapatkan pengkhianatan dan gagal terlaksana. Tentara Jepang jelas tidak tinggal diam. Hardo dan rekan-rekannya diburu dan terancam akan mendapatkan hukuman berat. Hardo berhasil melarikan diri. Selama beberapa waktu, Hardo terus berlari dan mengasingkan dirinya dari keramaian. Bukan perkara mudah. Kesendirian diri dan rasa rindu pada sosok orang-orang yang dicintai secara perlahan mulai membuat Hardo kehilangan akal sehatnya.

Dengan filmografi yang berisi film-film yang kental akan adegan penuh simbolisme atau dialog bernuansa puitis seperti Koper (2006), Melancholy is a Movement (2015), dan Terpana (2016), cukup menarik untuk melihat bagaimana Richard Oh menangani alur pengisahan Perburuan yang memiliki penyampaian cerita yang cenderung linear. Perburuan memang mampu terbangun dengan sajian kisah yang memiliki citarasa lebih konvensional jika dibandingkan dengan film-film arahan Oh sebelumnya. Bukan berarti Oh meninggalkan ciri penceritaannya secara penuh. Beberapa adegan – khususnya yang berkaitan dengan monolog maupun pengembangan kisah yang berhubungan dengan karakter Hardo – masih mampu ditampilkan dengan warna cerita khas Oh. Sayang, selain alur cerita yang mudah untuk diikuti, pengarahan Oh pada Perburuan lebih sering menghasilkan kesan berantakan daripada tertata apik dan menarik.

Adaptasi cerita yang dikerjakan Oh bersama dengan Husein M. Atmodjo (22 Menit, 2018) tidak mampu menggali lebih dalam setiap elemen konflik maupun karakter yang ingin disampaikan oleh Toer melalui novelnya. Konflik dan karakter berlalu lalang, silih berganti tanpa pernah diberikan kesempatan untuk berbicara secara leluasa. Kisah pengkhianatan yang dialami oleh karakter Hardo dan dilakukan oleh beberapa karakter yang berada di sekitarnya juga tidak pernah berhasil disajikan menarik – malah lebih sering membingungkan ketika Oh dan Atmodjo menghadirkan tema tersebut dengan tanpa diiringi bangunan latarbelakang kisah yang kuat. Arahan Oh terhadap Perburuan juga tidak membuahkan kualitas cerita yang lebih baik. Ritme cerita film berjalan tanpa arah yang pasti. Pilihan artistik dalam menghadirkan atmosfer masa penjajahan Jepang juga tidak sepenuhnya berhasil meyakinkan. Begitu pula dengan pilihan untuk menghadirkan setiap adegan dengan iringan orkestra musik. Mengganggu.

Cukup sulit untuk menemukan titik terang dalam kualitas presentasi Perburuan. Penampilan Dolken memang masih dapat diandalkan. Dolken dengan apik menyajikan perjalanan kewarasan sesosok karakter dalam menghadapi trauma dan kesendirian yang mewarnai kehidupannya. Namun, kualitas solo yang hadir dalam penampilan Dolken jelas tidak mampu menopang Perburuan begitu saja ketika elemen-elemen pengisahan lain dalam film ini tidak mampu hadir dengan kualitas berimbang. Perburuan berakhir sebagai sebuah kisah yang sangat melelahkan sekaligus menjemukan untuk diikuti. With this and Bumi Manusia… Toer is rolling in his grave right now. [D]

perburuan-adipati-dolken-movie-posterPerburuan (2019)

Directed by Richard Oh Produced by Frederica Written by Richard Oh, Husein M. Atmodjo (screenplay), Pramoedya Ananta Toer (book, Perburuan) Starring Adipati Dolken, Ayushita Nugraha, Ernest Samudra, Khiva Iskak, Michael Kho, Egy Fedli, Nobuyuki Suzuki, Kevin Andrean, Emil Kusumo, Otig Pakis, Rizky Mocil Music by Purwacaraka Cinematography Yoyok Budi Santoso Edited by Sentot Sahid, Reynaldi Christanto Production company Falcon Pictures Running time 98 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s