Review: Scary Stories to Tell in the Dark (2019)


Dirilis perdana pada tahun 1981, Scary Stories to Tell in the Dark adalah judul dari buku cerita anak-anak yang ditulis oleh penulis asal Amerika Serikat, Alvin Schwartz, yang berisi kumpulan kisah pendek bernuansa horor yang kental dipengaruhi oleh dongeng maupun mitos yang telah familiar bagi masyarakat Amerika Serikat. Kesuksesan Scary Stories to Tell in the Dark lantas menginspirasi Schwartz untuk merilis dua sekuel lanjutan untuk bukunya, More Scary Stories to Tell in the Dark yang dirilis pada tahun 1984 dan Scary Stories 3: More Tales to Chill Your Bones yang dirilis pada tahun 1991, sekaligus menggoda Guillermo del Toro (The Shape of Water, 2017) untuk membawa dan menghidupkan kumpulan kisah horor tersebut menjadi sebuah presentasi film layar lebar. Bekerjasama dengan dua penulis naskah Dan Hageman dan Kevin Hageman – yang sebelumnya juga menuliskan naskah bagi serial animasi garapannya, Trollhunters: Tales of Arcadia (2016 – 2018) – del Toro lantas menyeleksi sejumlah cerita pendek dari seri buku Scary Stories to Tell in the Dark dan kemudian menyatukannya menjadi sebuah kisah petualangan horor bagi para karakternya. Apakah del Toro akan berhasil menterjemahkan kengerian Scary Stories to Tell in the Dark pada bentuk media pengisahannya yang baru?

Dengan latar belakang pengisahan di tahun 1968 – waktu ketika publik Amerika Serikat sedang berseteru pendapat tentang keterlibatan negara mereka pada Perang Vietnam serta nama Richard Nixon mulai mendominasi masa kampanye kepresidenan, Scary Stories to Tell in the Dark dimulai ketika empat orang remaja, Stella Nicholls (Zoe Colletti), Ramón Morales (Michael Garza), Auggie Hilderbrandt (Gabriel Rush), dan Chuck Steinberg (Austin Zajur), memutuskan untuk mengunjungi sebuah rumah (yang dikabarkan) berhantu di kota tempat tinggal mereka ketika sedang merayakan Halloween bersama. Dalam penelusurannya di rumah tersebut, Stella Nicholls lantas menemukan sebuah buku yang berisi cerita-cerita pendek bernuansa horor yang seluruhnya ditulis dengan tinta yang berwarna merah. Penasaran akan penulis dari kisah-kisah horor tersebut, Stella Nicholls memilih untuk membawa pulang buku misterius tersebut ke rumahnya. Keputusan buruk, tentu saja. Seiring dengan berakhirnya malam Halloween, kejadian-kejadian aneh mulai mengikuti Stella Nicholls serta teman-temannya dan bahkan mulai mengancam nyawa mereka.

Pilihan del Toro untuk menggabungkan beberapa kisah pendek dari buku Scary Stories to Tell in the Dark dan kemudian menjadikannya sebagai barisan konflik horor yang harus dihadapi oleh sekelompok karakter remaja memang akan mengingatkan sejumlah penonton film ini pada It (Andy Muschietti, 2017). Sayangnya, ketika It mampu menciptakan narasi persahabatan yang erat bagi deretan karakternya, Scary Stories to Tell in the Dark hanya menjadikan para remaja dalam jalinan kisahnya nyaris hanya sebagai korban ataupun calon korban bagi teror horor yang kemudian dihadirkan. Galian karakterisasi yang kurang mendalam – baik terhadap masing-masing karakter maupun terhadap kisah persahabatan yang terjalin antara mereka – membuat elemen kisah yang menjadi tulang punggung bagi kehadiran kisah-kisah horor di film ini menjadi goyah dan terasa kurang kuat. Hal yang sama juga dapat dirasakan pada pengembangan kisah misteri tentang rumah berhantu yang dikunjungi para karakter utama. Terasa tersaji secara terburu-buru dan kurang matang.

Beberapa kekurangan tersebut tidak lantas menjadikan Scary Stories to Tell in the Dark sebagai sebuah presentasi horor yang gagal. Film ini mampu menghadirkan banyak momen-momen menyenangkan ketika kisahnya berfokus pada teror horor yang diadaptasi langsung dari buku cerita Scary Stories to Tell in the Dark. Layaknya The Shape of Water atau film-film lain arahan del Toro yang menghadirkan sosok makhluk-makhluk berwujud aneh, Scary Stories to Tell in the Dark juga menampilkan beberapa sosok berpenampilan horor yang mampu digarap dengan begitu meyakinkan. Sutradara André Øvredal (The Autopsy of Jane Doe, 2016) juga sukses dalam menjaga presentasi filmnya dalam atmosfer kelam yang begitu mendukung nuansa kengerian cerita serta ritme pengisahan yang tertata dengan baik. Lihat saja pada beberapa adegan bernuansa horor dalam film ini yang disajikan dengan tata pengarahan yang begitu cermat dalam mencengkeram perhatian para penonton.

Kurangnya pendalaman kisah bagi tiap karakter yang hadir dalam jalan cerita film memang menjadikan banyak karakter dalam film ini terasa tidak begitu menarik untuk diikuti kisahnya. Meskipun begitu, jajaran pemeran film – yang kebanyakan berasal dari jajaran aktor maupun aktris muda – mampu menyajikan penampilan akting yang menawan dalam menghidupkan tiap karakter yang mereka perankan. Colletti, khususnya, layak diberikan perhatian khusus berkat kehandalannya dalam membuat karakter Stella Nicholls yang ia perankan menjadi begitu memikat pada setiap adegannya. Dukungan kualitas produksi yang mumpuni pada tata musik hingga tata sinematografi turut menjadikan Scary Stories to Tell in the Dark sebagai presentasi horor yang cukup berhasil untuk membuat para penikmat horor merasa terpuaskan – meskipun tidak dengan tingkat kengerian yang maksimal. [B-]

scary-stories-to-tell-in-the-dark-movie-posterScary Stories to Tell in the Dark (2019)

Directed by André Øvredal Produced by Guillermo del Toro, Sean Daniel, Jason F. Brown, J. Miles Dale, Elizabeth Grave, Joshua Long, Roberto Grande Written by Dan Hageman, Kevin Hageman (screenplay), Guillermo del Toro, Patrick Melton, Marcus Dunstan (story), Alvin Schwartz (book, Scary Stories to Tell in the Dark) Starring Zoe  Colletti, Michael Garza, Gabriel Rush, Dean Norris, Gil Bellows, Lorraine Toussaint, Austin Zajur, Natalie Ganzhorn, Austin Abrams, Kathleen Pollard, Stephanie Belding, Hershel Blatt, Javier Botet, Will Carr, Will Corno, Elias Edraki, Daniel Gravelle, Andrew Jackson, Troy James, Brandon Knox, Jane Moffat, Tavia Pereira, Amanda Smith, Mark Steger, David Tompa, Marie Ward Music by Marco Beltrami, Anna Drubich Cinematography Roman Osin Edited by Patrick Larsgaard Production company CBS Films/Entertainment One/1212 Entertainment/Double Dare You Productions/Sean Daniel Company Running time 108 minutes Country United States, Canada Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s