Review: Antologi Rasa (2019)


Merupakan film kedua yang diadaptasi dari novel karangan Ika Natassa setelah Critical Eleven (Monty Tiwa, Robert Ronny, 2017), Antologi Rasa berkisah mengenai kisah cinta segi empat yang terjalin antara empat sahabat, Harris (Herjunot Ali), Keara (Carissa Perusset), Ruly (Refal Hady), dan Denise (Atikah Suhaime). Bagaimana rumitnya jalinan persahabatan dan asmara yang terbentuk antara keempat karakter tersebut? Well… Harris telah memendam rasa suka terhadap Keara semenjak pertama kali mereka berkenalan. Namun, di saat yang bersamaan, Keara justru menaruh hati kepada Ruly. Sial, Ruly ternyata begitu mengagumi serta tidak dapat melupakan sosok Denise yang juga merupakan teman kecilnya dan kini telah menikah dengan pria lain. Baik Harris, Keara, dan Ruly memilih untuk menyimpan rasa suka yang mereka rasakan demi menjaga dan tidak merusak hubungan persahabatan yang telah terbentuk sekian lama. Tentu saja, tidak peduli seberapa keras mereka telah berusaha untuk menyembunyikan perasaan masing-masing, Harris, Keara, dan Ruly akhirnya terjerat dalam kebimbangan hati yang semakin lama justru menghadirkan ruang dan jarak dalam hubungan mereka.

Sebagai film yang ingin mengeksplorasi deretan karakter dan bentuk jalinan hubungan yang tercipta diantara mereka, naskah cerita Antologi Rasa, sayangnya, justru kekurangan banyak amunisi untuk menggali secara dalam sisi pengisahan tersebut. Digarap oleh Ferry Lesmana (Suzzana: Bernapas dalam Kubur, 2017) dan Donny Dhirgantoro (Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, 2013), naskah cerita Antologi Rasa seringkali terasa kebingungan untuk menetapkan alur yang kuat dan tepat sebagai fokus pengisahan. Rasa kebingungan tersebut bahkan begitu tercermin ketika Antologi Rasa memilih untuk membuka dan mengenalkan setiap karakter dan konflik yang mereka hadapi dengan membiarkan masing-masing karakter berbicara sendiri melalui voice-over. Pilihan yang malas dan berakhir tidak efektif dalam membangun hubungan emosional yang intim antara penonton dengan karakter-karakter tersebut. Konflik-konflik yang disajikan dalam Antologi Rasa juga lebih sering dieksekusi layaknya kumpulan sketsa drama yang dihadirkan secara episodik daripada tampil sebagai sebuah pengisahan yang utuh. Hal ini khususnya begitu terasa ketika film ini berusaha memberikan gambaran yang lebih mendalam antara hubungan yang terjalin antara karakter Harris dengan karakter Keara atau antara karakter Keara dengan karakter Ruly.

Sebuah catatan khusus mungkin layak diberikan pada salah satu adegan Antologi Rasa yang cukup mengganggu. Dalam adegan tersebut, karakter Keara dan karakter Harris digambarkan “tidur bersama” setelah mereka berpesta dan sama-sama mabuk. Adegan tersebut sebenarnya dapat berlalu begitu saja dan dianggap sebagai salah satu insiden yang terjadi dalam hubungan antara kedua karakter. Namun, kesan bermasalah dan mengganggu mulai muncul ketika barisan dialog yang dihadirkan justru menggambarkan bagaimana karakter Keara sama sekali tidak sadar dan tidak ingat akan pilihannya untuk “tidur bersama” dengan karakter Harris – meskipun adegan tersebut diawali dengan gambaran bagaimana karakter Keara yang memberikan ciuman terlebih dahulu kepada karakter Harris. Bukankah pilihan untuk “meniduri” seseorang ketika dirinya tidak mampu untuk menghasilkan keputusan dalam keadaan sadar adalah sebuah tindak pemerkosaan? Sialnya, konflik “pemerkosaan” tersebut kemudian terasa diromantisasi dengan alur kisah romansa yang kemudian terbentuk antara karakter Harris dan karakter Keara. Bukan sebuah pengisahan yang cukup bijak atau layak untuk ditampilkan.

Arahan Rizal Mantovani sendiri sama sekali tidak memberikan dukungan yang kuat bagi film ini untuk bercerita lebih dinamis. Dengan kesederhanaan pengisahan yang dihadirkan, ritme cerita yang berjalan cukup lamban membuat Antologi Rasa terkesan bertele-tele dalam penyampaian alurnya. Arahan Mantovani untuk kualitas teknikal film ini juga terasa setengah hati. Banyak detil gambar yang terasa tidak mendapatkan perhatian secara utuh. Lihat saja bagaimana beberapa adegan yang mengambil lokasi di Singapura hadir dengan kualitas resolusi gambar yang rendah. Atau bagaimana adegan-adegan yang berlatar lokasi di Bali tidak mampu menangkap keindahan maupun keunikan yang ditawarkan oleh lokasi tersebut. Penataan gambar film ini juga beberapa kali tampil dalam kesan yang kasar. Dan penggunaan lagu secara berulang-ulang untuk mengisi adegan-adegan film – seperti yang dahulu pernah terjadi dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck – juga tidak begitu banyak membantu. Cukup mengherankan mengingat Antologi Rasa diproduksi oleh Soraya Intercine Films yang biasanya dikenal selalu unggul dalam penampilan kualitas tatanan produksi film-filmnya.

Permasalahan lain, dan paling fatal, yang merintangi Antologi Rasa sebagai sebuah film yang ingin mengeksplorasi deretan karakter dan bentuk jalinan hubungan yang tercipta diantara mereka adalah minimnya chemistry yang dapat dirasakan terbentuk antara Ali, Perusset, dan Hady. Ketiganya sebenarnya cukup mampu memberikan interpretasi yang tidak mengecewakan atas karakter-karakter yang berusaha mereka hidupkan – meskipun Ali kadang terasa terlalu komikal dan Perusset masih belum mampu menampilkan galian emosional yang lebih mendalam. Namun, ketika karakter-karakter tersebut ditampilkan secara bersama yang membuat miskinnya chemistry antara ketiganya begitu terasa. Tidak meyakinkan. Antologi Rasa beberapa kali mampu menghadirkan momen manis yang menyenangkan. Sayang, jika dibandingkan banyaknya momen hambar yang mendominasi durasi pengisahan film ini, Antologi Rasa jelas gagal untuk menciptakan kesan maupun rasa emosional yang lebih kuat bagi para penontonnya. [D]

antologi-rasa-film-indonesia-movie-posterAntologi Rasa (2019)

Directed by Rizal Mantovani Produced by Sunil Soraya Written by Ferry Lesmana, Donny Dhirgantoro (screenplay), Ika Natassa (novel, Antologi Rasa) Starring Herjunot Ali, Carissa Perusset, Refal Hady, Atikah Suhaime, Angel Pieters Music by Stevesmith Music Production Cinematography Muhammad Firdaus Edited by Sastha Sunu Production company Soraya Intercine Films Running time 108 minutes Country Indonesia Language Indonesian

2 thoughts on “Review: Antologi Rasa (2019)”

  1. Karakter Keara “tidak ingat dan tidak sadar” bukan karena memang tidak ingat, dia ingat itu tetapi ida maunya Harris tidak melakukan itu,sebab dia mabuk untuk menutup kesedihan hatinya yang kecewa krn Ruly. kalau dia tidak sadar krn memang dia mabuk. tetapi dia tetap memilih menjadi korban karena dia sama sekali tidak ada hati pada Harris, dan dia lebih lebih kecewa sebab semestinya Harris sebagai sahabat tidak melakukan itu dan kalaupun Harris mencintai dia,tidak Harris melakukan itu. Bagi saya chemistry ketiganya sudah bagus, Ali tidak terlalu komikal, Bila kondisi komik itu tidak ada,maka film ini akan jadi hambar.

    1. Memang di bagian tersebut yang saya maksud, Mas. “Consent.” Kalo satu pihak gak menginginkan terjadinya hubungan tersebut, bagian itu yang disebut sebagai “rape.” Dia tidak ingat. Dia tidak ingin. Dan karakter Harris, yang digambarkan masih ingat akan kejadian tersebut, otomatis jadi pihak yang “disudutkan” karena dia memanfaatkan kondisi karakter Keara yang sedang tidak mampu mengambil keputusan jelas karena dipengaruhi alkohol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s