Review: Milly & Mamet (2018)


Jika Mira Lesmana dan Riri Riza membutuhkan waktu selama 16 tahun untuk membawa kembali Cinta dan teman-temannya untuk hadir dalam sekuel Ada Apa dengan Cinta? (Rudy Soedjarwo, 2002), Ada Apa dengan Cinta? 2 (Riza, 2016), maka tidak membutuhkan waktu begitu lama bagi Lesmana dan Riza untuk menyajikan film sempalan pertama dalam semesta pengisahan film Ada Apa dengan Cinta?, Milly & Mamet. Seperti yang dituturkan oleh judul film ini, daripada mengeksplorasi kembali kelanjutan kisah cinta antara karakter Cinta dan Rangga, film ini mengalihkan fokusnya pada hubungan asmara yang terjalin antara karakter Milly dan Mamet – yang sebelumnya telah dikenalkan pada Ada Apa dengan Cinta? 2. Milly & Mamet juga memilih nada pengisahan yang cukup berbeda dengan dua film Ada Apa Dengan Cinta? Jika kedua film tersebut hadir dengan atmosfer drama dan romansa yang kental, maka Milly & Mamet, yang diarahkan oleh Ernest Prakasa (Susah Sinyal, 2017), tampil dengan penuturan komedi yang lebih maksimal seperti yang selalu dihadirkan Prakasa dalam setiap film-filmnya. Sebuah penyegaran yang cukup menyenangkan meskipun sentuhan komedi Prakasa – seperti yang terjadi pada dua film terakhir yang ia tulis dan arahkan, Cek Toko Sebelah (2016) dan Susah Sinyal – acapkali membayangi unsur drama yang sebenarnya membutuhkan lebih banyak ruang untuk berkembang.

Setelah linimasa pengisahannya dimulai dengan adegan kilas balik yang mengisahkan bagaimana awal mula kisah cinta antara Milly (Sissy Prescillia) dan Mamet (Dennis Adhiswara) mulai terjalin, perjalanan Milly & Mamet kemudian berlanjut dengan konflik yang terjadi dalam kehidupan pernikahan kedua karakter utamanya. Milly kini dikisahkan telah berhenti dari pekerjaannya demi mengurus anak pertamanya bersama Mamet. Sementara itu, Mamet, yang sebenarnya memiliki passion memasak dan sempat bekerja sebagai seorang juru masak, kini bekerja di pabrik tekstil milik ayah Milly, Sony (Roy Marten). Satu hari, sahabat lama Mamet, Alexandra (Julie Estelle), datang dan menawarkan agar Mamet bekerja sebagai juru masak di restoran yang akan segera dikelolanya. Didorong oleh Milly, Mamet akhirnya menerima tawaran tersebut dan meninggalkan posisinya di pabrik tekstil meskipun ayah mertuanya tidak menyetujui keputusan tersebut. Bekerja sesuai passion yang dimiliki memang telah menjadi impian sendiri bagi Mamet. Namun, secara perlahan, fokus kepada passion-nya membuat Milly seringkali merasa dinomorduakan dan kesepian dalam kesehariannya sekarang.

Pujian jelas layak untuk diberikan pada Prakasa yang telah berani untuk menjejakkan kakinya pada sebuah seri film legendaris yang begitu dicintai jutaan umat penikmat film Indonesia. Apalagi, Prakasa tidak hanya sekedar mengambil alih kursi penyutradaraan. Ia turut memberikan desain ulang terhadap pola dan ritme pengisahan dengan turut menginfusikan berbagai identitas maupun jejak penceritaan khas bernuansa komedi seperti yang selalu ia tunjukkan dalam film-film arahannya. Hasilnya, Milly & Mamet mampu hadir dengan kapasitas komedi yang begitu menghibur bahkan semenjak adegan pembukanya. Dukungan barisan komika seperti Arafah Rianti, Aci Resti, Bintang Emon, hingga Dinda Kanyadewi – yang kembali menampilkan kemampuan komikalnya yang mencuri perhatian setelah Hangout (Raditya Dika, 2016), dan Isyana Sarasvati dengan barisan guyonan-guyonan mereka mampu dieksekusi secara kuat dan menghasilkan banyak momen komedi yang sangat, sangat menyenangkan bagi film ini. Prakasa memang memiliki timing komedi yang jenius jika dibandingkan banyak sutradara film Indonesia saat ini dan hal tersebut sukses ia tampilkan disini.

Di saat yang bersamaan, sulit untuk menyangkal bahwa kuatnya elemen komedi dalam Milly & Mamet tidak mampu diimbangi oleh pengembangan kisah drama yang lebih baik bagi kedua karakter utama film ini. Konflik yang dihadirkan bagi karakter Milly dan Mamet maupun pada karakter pendukung seperti Alexandra dan James (Yoshi Sudarso) justru menjadi dikesampingkan oleh banyaknya elemen komedi yang memang mampu tampil memikat penonton. Hal ini yang kemudian membuat konflik yang terbentuk antara karakter Mamet, Milly, dan ayahnya atau kisah antara Alexandra, James, dan ayahnya tidak pernah terasa benar-benar esensial maupun mengikat. Pada satu bagian di paruh ketiga film, karakter Milly dan Mamet bahkan terlibat dalam perseteruan yang harusnya mampu terasa emosional. Sayang, lemahnya bangunan konflik yang terbentuk antara keduanya membuat perseteruan tersebut kemudian berlalu begitu saja tanpa pernah mampu meninggalkan jejak yang lebih mendalam. Cukup disayangkan padahal naskah cerita yang digarap Prakasa bersama dengan Meira Anastasia telah cukup berani menyentuh berbagai isu tentang kehidupan pasangan suami istri di era modern saat ini.

Terlepas dari banyaknya penampilan komikal yang silih berganti mencuri perhatian dalam linimasa pengisahan Milly & Mamet, penampilan Prescillia dan Adhiswara tetap mampu berdiri tegak dalam setiap kehadiran karakter yang mereka perankan. Baik Prescillia dan Adhiswara berhasil membawakan elemen komikal dalam karakter mereka – yang semenjak kehadiran Ada Apa dengan Cinta? memang diniatkan untuk menjadi semacam comic relief bagi pengisahan film tersebut – dengan baik namun, di momen-momen lain yang terkesan lebih serius, juga mampu tampil dengan penampilan akting dramatis yang meyakinkan. Estelle, Marten, dan Sudarso juga tampil tidak mengecewakan dengan Dian Sastrowardoyo, Adinia Wirasti, dan Titi Kamal kembali hadir dan mengisi beberapa adegan guna memuaskan kerinduan para penggemar seri film Ada Apa dengan Cinta? terhadap karakter-karakter mereka. [C]

milly-mamet-sissy-prescillia-dennis-adhiswara-movie-posterMilly & Mamet (2018)

Directed by Ernest Prakasa Produced by Chand Parwez Servia, Mira Lesmana, Fiaz Servia Written by Ernest Prakasa, Meira Anastasia Starring Sissy Prescillia, Dennis Adhiswara, Ernest Prakasa, Julie Estelle, Yoshi Sudarso, Dian Sastrowardoyo, Adinia Wirasti, Titi Kamal, Surya Saputra, Isyana Sarasvati, Dinda Kanyadewi, Roy Marten, Eva Celia, Ardit Erwandha, Melly Goeslaw, Aci Resti, Muhadkly Acho, Arafah Rianti, Tike Priatnakusumah, Jevin Julian, Awwe, Pierre Gruno, August Melasz, Bintang Emon, Arnhezky Arzhanka, Gebi Ramadhan, Bagus Perdhana, M Abyan Nandan Music by Andhika Triyadi Cinematography Roby Herbi Edited by Ryan Purwoko Production company Starvision/Miles Films Running time 101 minutes Country Indonesia Language Indonesian

2 thoughts on “Review: Milly & Mamet (2018)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s