Review: Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018)


Jelas tidak mudah untuk tidak memandang sebelah mata terhadap Suzzanna: Bernapas dalam Kubur dan menganggapnya hanya sebagai sebuah usaha murahan para produsernya untuk meraup kesuksesan komersial dengan cara memanfaatkan elemen nostalgia terhadap salah satu aktris film Indonesia paling ikonik tersebut. Dan jelas bukanlah sebuah prasangka yang salah pula – setidaknya kualitas yang ditampilkan dua seri Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! (Anggy Umbara, 2016 – 2017) serta Benyamin Biang Kerok (Hanung Bramantyo, 2018) layak mendapatkan prasangka tersebut. Seperti halnya dua film yang telah disebutkan sebelumnya, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur juga bukanlah sebuah film yang jalan ceritanya mendaur ulang pengisahan yang dahulu pernah ditampilkan dalam film-film horor yang dibintangi Suzzanna. Film ini memilih untuk “mengekploitasi” berbagai karakteristik peran yang membuat Suzzanna menjadi aktris horor Indonesia yang ikonik dan membingkainya dengan struktur pengisahan yang baru – meskipun bukanlah bangunan pengisahan yang benar-benar terasa segar. And strangelyit works pretty well!

Dengan naskah cerita yang digarap oleh Bene Dion Rajagukguk – penulis naskah yang sama dengan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 dan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! – Part 2, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur berkisah mengenai pasangan suami istri, Suzzanna (Luna Maya) dan Satria (Herjunot Ali), yang harus berpisah untuk sementara ketika Satria ditugaskan oleh perusahaannya untuk berangkat ke luar negeri. Sial, satu malam ketika Suzzanna sedang berada sendirian di rumahnya, ia didatangi oleh sekelompok pria yang berniat merampok rumahnya. Suzzanna yang memergoki para perampok tersebut mencoba memberikan perlawanan. Sayangnya, perlawanan tersebut berakhir tragis ketika salah seorang perampok kemudian membunuh Suzzanna yang sebenarnya sedang dalam keadaan hamil muda. Kisah Suzzanna tidak lantas berakhir. Rasa marah yang dirasakan ketika ia dan bayi yang sedang dikandungnya terbunuh kemudian mengubah Suzzanna menjadi sesosok makhluk supranatural yang berniat untuk membalaskan dendam kematiannya.

Diarahkan oleh Umbara yang posisinya kemudian digantikan oleh Rocky Soraya (Sabrina, 2018) di tangah masa produksi film – namun keduanya mendapatkan kredit yang setara sebagai sutradara, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur sebenarnya masih belum begitu mampu untuk melepaskan dirinya dari bayangan sebagai sebuah proyek film yang eksploitatif akan rasa nostalgia terhadap sosok seorang Suzzanna. Naskah cerita garapan Rajagukguk – yang disusun berdasarkan elemen-elemen cerita yang dikumpulkannya bersama dengan Sunil Soraya (The Guys, 2017) dan Ferry Lesmana (Danur, 2017) – masih menjagokan berbagai formula yang dahulu selalu berada dalam film-film horor yang dibintangi Suzzanna dan tidak pernah tampil berani untuk meninggalkan “zona aman” pengisahan tersebut. Sajian horor yang turut dibalut dengan kisah romansa serta deretan celetukan komedi tampil bergantian serta beriringan dalam mengisi linimasa pengisahan film ini. Bukan sebuah hal yang mengecewakan – khususnya jika Anda memilih untuk memandang perlakuan cerita tersebut sebagai sebuah tribut utuh bagi film-film horor popular yang dibintangi Suzzanna.

Jika pengisahan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur terasa hadir dalam kapasitas penceritaan yang tradisional, maka pengarahan yang diberikan Soraya dan Umbara cukup berhasil mendorong film ini untuk mampu terhidang dengan kesan modern yang kuat. Disajikan sebagai sebuah horor dengan tampilan gothic yang kental, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur bercerita dengan dukungan departemen produksi yang berkelas. Departemen artistik film – mulai dari tata rias, tata busana, hingga desain set film – sukses membangun atmosfer horor tahun ‘80an yang kental. Komposisi musik dari Andhika Triyadi juga menjadi salah satu elemen pengisahan yang cukup tampil menonjol dalam Suzzanna: Bernapas dalam Kubur. Iringan musik Triyadi tampil dengan iringan orkestra yang megah dan kelam dengan inspirasi dari film-film horor klasik namun tetap berhasil tampil intim pada beberapa bagian cerita. Berbagai dukungan tatanan produksi tersebut mampu membungkus film ini untuk tampil sebagai sebuah film horor yang berkesan mewah dan jauh dari kesan tergarap secara sembarangan.

Berbicara mengenai pengarahan yang ditampilkan oleh Soraya dan Umbara, keduanya sepertinya sadar bahwa naskah cerita yang dibawakan oleh film mereka hadir dengan tahapan-tahapan pengisahan yang berkembang secara terbatas dan berkesan (telah terlalu) familiar. Hal inilah yang sepertinya mendorong Soraya dan Umbara untuk menjalankan pengisahan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur dalam ritme yang perlahan. Pilihan tersebut menjadikan film ini memiliki energi lebih dalam menyebarkan teror psikologis ceritanya daripada hanya sekedar mengandalkan adegan-adegan yang diniatkan untuk mengejutkan para penonton. Namun, di saat yang bersamaan, kefamiliaran kisah yang disajikan film ini tidak dapat disangkal membuat perjalanan kisah yang tampil seringkali memiliki kesan bertele-tele dan cenderung membosankan – yang lantas mendorong durasi pengisahan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur lebih panjang 30 menit dari durasi yang sebenarnya sesuai untuk jalan cerita yang ditawarkan.

Terlepas dari beberapa kelemahan tersebut, Soraya dan Umbara cukup cerdas untuk memberikan sentuhan lebih modern pada penampilan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur dengan cara menghadirkan cukup banyak adegan-adegan berdarah yang cukup kuat namun tergarap dengan sangat baik. Hal yang sama juga dapat dirasakan dari elemen komedi yang ingin dipaparkan oleh film ini. Mereka yang telah mengenal film-film horor yang dibintangi Suzzanna jelas telah memahami bagaimana elemen komedi mampu menjadikan setiap film horor yang dibintangi Suzzanna tersebut menjadi lebih menarik – dan harus diakui menjadi salah satu faktor yang membuat setiap film horor yang dibintangi Suzzanna begitu nikmat untuk disaksikan beramai-ramai. Lewat bantuan tiga pemeran pendukung film ini, Asri Welas, Opie Kumis, dan Ence Bagus, elemen komedi dalam naskah cerita Suzzanna: Bernapas dalam Kubur mampu bekerja dengan baik, tampil mandiri dalam presentasinya, dan sama sekali tidak mendistraksi keberadaan unsur horor yang sebenarnya (dan seharusnya) menjadi unsur terkuat dalam pengisahan film

Menggantikan posisi Suzzanna jelas bukan sebuah pekerjaan yang mudah – bahkan pekerjaan yang tidak mungkin dapat dilakukan? – namun Maya cukup berhasil memberikan interpretasinya tersendiri atas karakter Suzzanna. Walau tata rias yang ditempatkan di wajahnya seringkali terasa terlalu berusaha untuk dimiripkan dengan tekstur fisik Suzzanna dan penampilan Maya sebagai karakter tersebut lebih sering terlihat sebagai mimicking daripada akting, namun Maya masih mampu memberikan jiwanya tersendiri pada karakter yang sedang ia perankan. Sayangnya, hal yang sama tidak dapat ditemukan pada penampilan Ali. Harus diakui, karakter Ali memang terasa sebagai sosok karakter sekunder (atau bahkan tersier) yang kurang dapat berkembang dengan baik. Namun, tetap saja, penampilan Ali terasa begitu monoton dan lemah – dan akan mengingatkan banyak orang pada penampilannya sebagai karakter Zainuddin dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (Sunil Soraya, 2013). Chemistry yang ia tampilkan bersama Maya juga terasa begitu datar. Salah satu elemen yang membuat kisah romansa antara karakter Suzzanna dengan Satria tidak begitu berhasil dalam pengisahan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur. Walau karakter-karakter yang mereka perankan terasa tidak istimewa namun penampilan Teuku Rifnu Wikana, Alex Abbad, Verdi Solaiman, dan Kiki Narendra mampu menjadikan karakter-karakter antagonis tersebut tampil begitu kuat. Cukup untuk membuat penonton merasa kegirangan di kursi duduk mereka ketika karakter-karakter tersebut akhirnya mendapatkan balasan setimpal atas perbuatan jahat yang mereka lakukan.

Cukup mudah untuk melihat bahwa Suzzanna: Bernapas dalam Kubur adalah sebuah film yang diproduksi sebagai sebuah tribut pada film-film horor Indonesia klasik yang dahulu sangat popular karena dibintangi oleh seorang Suzzanna. Walau hadir dengan kemasan yang lebih modern, Soraya dan Umbara tetap mempertahankan segala formula dan sentuhan klasik dalam film-film horor yang dibintangi Suzzanna tersebut dan merangkainya dengan pengisahan yang cukup menarik – walau kemudian terasa terlalu bertele-tele dalam penyampaiannya. Sebuah tribut atas kekuatan “kharisma” horor Suzzanna yang tergarap apik dan sangat, sangat menyenangkan. Mudah-mudahan perjalanan berikutnya dari “Suzzanna baru” ini di masa mendatang akan lebih berani dalam menjajal struktur pengisahannya daripada terus bergantung pada elemen nostalgia pengisahan dari masa lampau. [B-]

suzzana-bernapas-dalam-kubur-luna-maya-film-indonesia-movie-posterSuzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018)

Directed by Rocky Soraya, Anggy Umbara Produced by Sunil Soraya Written by Bene Dion Rajagukguk (screenplay), Bene Dion Rajagukguk, Sunil Soraya, Ferry Lesmana (story) Starring Luna Maya, Herjunot Ali, Clift Sangra, Teuku Rifnu Wikana, Alex Abbad, Verdi Solaiman, Kiki Narendra, Asri Welas, Opie Kumis, Ence Bagus, Norman Akyuwen, Lufthi Sandy Music by Andhika Triyadi Cinematography Ipung Rachmat Syaiful Editing by Sastha Sunu Studio Soraya Intercine Films Running time 125 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s