Review: Dr. Seuss’ The Grinch (2018)


Merupakan adaptasi layar lebar dalam bentuk animasi pertama dari buku anak-anak popular How the Grinch Stole Christmas! yang ditulis oleh Dr. Seuss – namun merupakan kali kedua buku yang sama diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar setelah sebelumnya Ron Howard mengarahkan Dr. Seuss’ How the Grinch Stole Christmas (2000) dalam bentuk live-action dengan Jim Carrey sebagai bintangnya – Dr. Seuss’ The Grinch arahan Scott Mosier dan Yarrow Cheney (The Secret Life of Pets, 2016) harus diakui tidak memberikan dimensi pengisahan baru dari alur pengisahan yang sebelumnya telah diterapkan oleh Dr. Seuss dalam bukunya. Film ini masih setia dengan fokus yang kuat pada karakter The Grinch dan sikap ketidaksukaannya pada suasana Natal. Meskipun begitu, cukup sulit untuk mempertahankan diri dari daya tarik Dr. Seuss’ The Grinch ketika Mosier dan Cheney mampu mengemas filmnya dengan tampilan animasi yang menyenangkan dan penuh warna sekaligus nada pengisahan yang begitu hangat untuk dinikmati untuk seluruh kalangan penonton.

Dengan naskah cerita yang digarap bersama oleh Michael LeSieur (Keeping Up with the Joneses, 2016) dan Tommy Swerdlow (Snow Dogs, 2002), Dr. Seuss’ The Grinch dimulai dengan mengenalkan sang karakter utama, The Grinch (Benedict Cumberbatch), yang dikenal sebagai sosok penyendiri, penggerutu, dan tidak menyukai keramaian yang membuatnya memilih tinggal di wilayah pegunungan yang jauh dari wilayah Whoville yang ditempati oleh orang-orang yang kesehariannya diisi dengan kebahagiaan dan keceriaan. Gerutuan The Grinch akan keceriaan para penduduk Whoville semakin bertambah ketika Natal menjelang dan para penduduk Whoville mempersiapkan diri mereka dalam menyambut musim liburan tersebut. Tidak ingin kebahagiaan tersebut berlangsung lama, The Grinch kemudian menyusun sebuah rencana untuk merusak suasana Natal di Whoville yang akan dilaksanakannya di malam Natal.

Tidak terlalu banyak hal yang dapat digali dari struktur pengisahan Dr. Seuss’ The Grinch. Jika dibandingkan dengan Dr. Seuss’ How the Grinch Stole Christmas arahan Howard, naskah cerita Dr. Seuss’ The Grinch garapan LeSieur dan Swerdlow tidak menawarkan terlalu banyak pengembangan arah cerita pada konflik yang dihadirkan oleh film ini. Dengan jalan cerita yang sepertinya disesuaikan untuk menjadi sebuah tontonan aman bagi kalangan keluarga, Dr. Seuss’ The Grinch lebih memilih untuk berfokus pada karakter The Grinch dan sikap sinis yang selalu mewarnai kesehariannya. Meskipun begitu, LeSieur dan Swerdlow tetap mampu menata dan menyajikan elemen komedi pada Dr. Seuss’ The Grinch – khususnya yang terbentuk dari interaksi antara karakter The Grinch dengan hewan peliharaannya, Max – yang menjadikan sosok The Grinch tetap mampu mencuri hati para penontonnya.

Pengarahan Mosier dan Cheney juga berhasil menutupi kesederhanaan (baca: kekurangan) dari kualitas penulisan naskah cerita film. Ketika pengisahan film ini lebih memilih untuk terus berfokus pada karakter The Grinch dan mengenyampingkan karakter-karakter lain yang berada di sekitarnya – dan lalu menyajikan sebuah perubahan karakter yang berkesan terburu-buru pada paruh akhir pengisahan, tempo penceritaan yang bergerak cepat mampu memberikan kedinamisan tersendiri pada pergerakan cerita Dr. Seuss’ The Grinch. Tentu saja, penataan departemen produksi yang kuat juga mampu memberikan sokongan yang maksimal bagi kualitas film secara keseluruhan. Tampilan animasi yang penuh warna dengan nuansa Natal yang kental membuat pengisahan Dr. Seuss’ The Grinch sangat menyenangkan untuk diikuti. Tata musik garapan Danny Elfman juga bekerja efektif dalam menghasilkan ikatan emosional kepada penonton.

Vokal Cumberbatch sendiri hadir dengan maksimal untuk memberikan karakterisasi yang kuat bagi karakter ikonik tersebut. Lewat barisan gerutuannya, Cumberbatch menjadikan The Grinch sebagai sosok yang cukup menyebalkan dengan segala pandangan negatifnya akan lingkungan sekitarnya namun tidak pernah menjelma menjadi sesosok karakter yang layak untuk dibenci. Dr. Seuss’ The Grinch juga menampilkan vokal dari Rashida Jones, Angela Lansbury, Keenan Thompson, dan Pharrell Williams yang berhasil memberikan banyak warna pada tampilan vokal karakter di sepanjang pengisahan film. Secara keseluruhan, Dr. Seuss’ The Grinch adalah sebuah film animasi bertema Natal yang sangat menyenangkan – bahkan mampu tampil menyentuh pada beberapa bagiannya. Tidak istimewa namun setidaknya akan berhasil menjadi sajian Natal yang hangat bagi keluarga maupun penggemar film-film sejenis. [B-]

dr-seuss-the-grinch-movie-posterDr. Seuss’ The Grinch (2018)

Directed by Scott Mosier, Yarrow Cheney Produced by Chris Meledandri, Janet Healy Written by Michael LeSieur, Tommy Swerdlow (screenplay), Dr. Seuss (book, How the Grinch Stole Christmas!) Starring Benedict Cumberbatch, Cameron Seely, Rashida Jones, Kenan Thompson, Angela Lansbury, Tristan O’Hare, Ramone Hamilton, Sam Lavagnino, Scarlett Estevez, Pharrell Williams Music by Danny Elfman Edited by Chris Cartagena Production company Universal Pictures/Illumination Running time 86 minutes Country United States Language English

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s