Review: Asih (2018)


Well… dengan kesuksesan luar biasa dari dua seri Danur, Danur: I Can See Ghosts (2017) dan Danur 2: Maddah (2018) arahan Awi Suryadi yang keduanya berhasil menarik minat lebih dari dua juta penonton meskipun mendapatkan tanggapan yang medioker dari para kritikus film, Suryadi dan MD Pictures melanjutkan perjalanan untuk mengembangkan semesta pengisahan Danur dengan Asih. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh penulis naskah dua seri Danur sebelumnya, Lele Laila, berdasarkan buku berjudul sama karangan Risa Saraswati, Asih diniatkan hadir untuk menggali secara lebih dalam mengenai pengisahan sosok karakter supranatural bernama Asih yang dahulu popular setelah ditampilkan dalam Danur: I Can See Ghosts. Sayangnya, tidak banyak hal menarik yang dapat diperoleh dari presentasi film ini. Pengembangan cerita yang berjalan monoton menyebabkan Asih sering terasa membosankan – meskipun Suryadi mampu menghadirkan kualitas pengarahan yang, sekali lagi, tampil lebih baik.

Berlatarbelakang waktu pengisahan 37 tahun sebelum linimasa Danur: I Can See Ghosts berjalan, Asih berfokus pada pasangan suami istri, Andi (Darius Sinathrya) dan Puspita (Citra Kirana), yang baru saja mendapatkan puteri pertama mereka. Dibantu dengan ibu Andi (Marini Soerjosoemarno) yang tinggal bersama mereka, kehidupan Andi dan Puspita sebagai pasangan orangtua baru awalnya berjalan lancar dan bahagia. Namun, sebuah kekuatan tak terlihat mulai menyebarkan teror ketakutan. Berawal dari peringatan yang diberikan oleh bidan yang membantu kelahiran anaknya, Sekar (Djenar Maesa Ayu), yang menceritakan kisah tragis tentang seorang wanita yang bunuh diri setelah membunuh anaknya sendiri, Puspita dan keluarganya terus dihantui oleh berbagai kejadian aneh. Puncaknya, Puspita tidak dapat menemukan keberadaan puterinya yang secara tiba-tiba menghilang begitu saja. Puspita dan Andi kini harus menemukan siapa yang mengambil atau menyembunyikan puteri mereka sebelum keadaan semakin bertambah buruk.

Pengembangan Danur Universe sepertinya mengikuti dengan patuh pola pengisahan yang sebelumnya telah diterapkan James Wan dalam The Conjuring Universe. Seperti halnya Annabelle (John R. Leonetti, 2014) yang menjadi film sempalan perdana dari The Conjuring (Wan, 2013), Asih juga tidak serta merta memberikan pengisahan yang frontal akan kehidupan sang karakter yang namanya dijadikan judul film ini. Asih justru sekali lagi menempatkan karakter supranatural tersebut sebagai karakter yang menghantui sederetan karakter yang belum pernah ditampilkan dalam pengisahan film-film sebelumnya. Hal tersebut membuat Asih terasa sebagai versi modifikasi dari Danur: I Can See Ghosts – dengan lagu tradisional Lingsir Wengi kini digantikan oleh lagu tradisional lain, Indung-indung, yang “dieksploitasi” untuk memberikan nuansa kengerian pada banyak adegan film – dan mudah untuk ditebak arah pengisahannya. Kisah hidup dari karakter Asih sendiri juga tidak mendapatkan banyak eksplorasi lanjutan dan mengulang apa yang telah digambarkan pada Danur: I Can See Ghosts. Repetisi cerita yang membuat Asih kehilangan daya tarik dan kejutnya.

Untungnya, Suryadi tidak memberikan perlakuan pengarahan yang sama seperti yang dahulu ia tampilkan dalam Danur: I Can See Ghosts. Asih tampil dengan atmosfer pengisahan yang lebih mendekati atmosfer pengisahan Danur 2: Maddah: terasa lebih tenang, tanpa kehadiran banyak adegan-adegan kejutan, serta dengan tata sinematografi yang hadir dengan nuansa yang lebih kelam. Pengarahan Suryadi menjadi elemen kuat yang tetap menjaga kesinambungan pengisahan Asih bahkan ketika karakter-karakter maupun konflik pengisahan film ini tampil stagnan dan berjalan secara datar. Kualitas produksi juga berhasil tergarap dengan kualitas yang tidak mengecewakan dan mampu menyokong penuh kesan masa lampau yang ingin dikedepankan oleh atmosfer presentasi Asih.

Dengan karakter-karakter yang tidak mendapatkan penggalian ruang kisah yang cukup luas, tidak mengherankan jika melihat departemen akting film ini hadir dengan kapasitas penampilan yang medioker. Sinathrya, Kirana, dan Soerjosoemarno tampil datar dan gagal untuk memberikan ikatan emosional yang kuat bagi karakter mereka. Bahkan Ayu dan Alex Abbad, yang biasanya dapat selalu diandalkan untuk menghadirkan penampilan akting yang apik terlepas dari lemahnya kualitas naskah cerita, juga tidak mampu memberikan detak kehidupan bagi karakter yang mereka perankan. Sementara itu, Shareefa Danish juga telah terlihat lelah dan jenuh dalam memerankan karakter Asih. Kualitas yang semakin melengkapi kenyataan bahwa Asih adalah pengembangan semesta pengisahan yang sia-sia dan tidak begitu berguna keberadaannya. [D]

asih-danur-universe-movie-posterAsih (2018)

Directed by Awi Suryadi Produced by Manoj Punjabi Written by Lele Laila (screenplay), Adam Ripp (story), Risa Saraswati (book, AsihStarring Citra Kirana, Darius Sinathrya, Shareefa Daanish, Alex Abbad, Marini Soerjosoemarno, Djenar Maesa Ayu, Egi Fedly Music by Ricky Lionardi Cinematography Adrian Sugiono Editing by Firdauzi Trizkiyanto, Audi Vandira Studio MD Pictures/Pichouse Films Running time 77 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

2 thoughts on “Review: Asih (2018)”

  1. Gue agak bingung sebenernya di mata mereka ‘spin-off’ itu apa? ASIH bisa aja disebut spin-off dari Danur, bukan? Hmm. Kayak Sabrina kemarin. Alih-alih spin-off, malah terasa kayak THE DOLL 3. Mereka seakan bingung mana yang sebetulnya harus digali. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s