Review: Munafik 2 (2018)


Selain karena memang telah direncanakan untuk hadir sebagai sebuah pengisahan trilogi, kesuksesan besar yang diraih Munafik ketika dirilis pada awal tahun 2016 yang lalu jelas menjadi alasan kuat lain mengapa sekuelnya kemudian diproduksi dan dirilis ke layar bioskop. Dengan pendapatan sebesar RM17.04 juta dari masa edarnya di Malaysia, film yang menjadi film kesembilan sekaligus film horor kedua yang diarahkan oleh Syamsul Yusof ini berhasil tercatat sebagai menjadi film dengan raihan komersial terbesar di negeri jiran pada tahun rilisnya. Kesuksesan komersial tersebut juga dilengkapi dengan kesuksesan secara kritikal ketika Munafik mampu meraih sembilan nominasi dan memenangkan lima diantaranya – termasuk kategori Pengarah Terbaik dan Penyunting Terbaik yang keduanya dimenangkan oleh Yusof – dari ajang penghargaan film tertinggi di Malaysia, Festival Filem Malaysia ke-28. Munafik 2 – yang telah dirilis di Malaysia sejak akhir Agustus lalu dan berhasil menjadi film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa dengan raihan sebanyak RM40 juta – masih menyajikan kisah horor dengan balutan nuansa Islami yang kental dengan kembali mengikuti perjalanan hidup dari sang karakter utama, Ustadz Adam (Yusof), yang bekerja sebagai pendakwah sekaligus pengusir setan. 

Kembali menampilkan Yusof sebagai seorang sutradara sekaligus penulis naskah, aktor utama, serta penata gambar film, Munafik 2 memiliki linimasa pengisahan yang berjarak dua tahun semenjak berbagai konflik yang dikisahkan pada film sebelumnya. Dikisahkan, walau masih sering mendapatkan berbagai mimpi aneh, Ustadz Adam kini mulai dapat melupakan duka yang ia rasakan setelah kematian istri serta anaknya dan kembali mengisi kesehariannya dengan kegiatan berdakwah. Sebuah tantangan datang ketika ia diminta untuk membantu seorang ibu tunggal bernama Sakinah (Maya Karin) yang bersama dengan anaiknya, Aina (Nur Zara Sofia), mendapatkan teror secara fisik maupun mental dari Abu Jar (Nasir Bilal Khan) guna memaksa Sakinah untuk bergabung dengan kelompok penganut ajaran sesat yang dibentuknya dan telah berhasil mendapatkan banyak pengikut. Bukan sebuah tantangan yang mudah untuk ditaklukkan. Abu Jar seringkali menggunakan kekuatan magis untuk menghancurkan orang-orang yang tidak mau mengikuti ajarannya. Dan kedatangan Ustadz Adam untuk membantu Sakinah jelas membangkitkan amarah Abu Jar dan seluruh pengikutnya.

Dengan biaya produksi yang jauh lebih besar daripada film pendahulunya, tidak mengherankan jika Yusof mampu mengemas Munafik 2 dengan tampilan teknis yang lebih meyakinkan. Hal ini jelas dapat dirasakan semenjak film ini memulai pengisahannya dimana tata sinematografi film berhasil menangkap dan menghadirkan gambar-gambar dengan kualitas yang lebih nyaman untuk disaksikan serta tata produksi yang begitu mendukung kehadiran atmosfer horor dari pengisahan film. Munafik 2 juga bergerak cukup dinamis pada paruh awal ceritanya. Pengenalan plot yang berhubungan dengan kontinuitas cerita tentang kehidupan sang karakter utama semenjak berbagai konflik yang dikisahkan pada Munafik serta deretan karakter baru yang nantinya akan berkembang sebagai bagian sentral dari kisah utama film ini disajikan secara lugas dan cukup mampu untuk tampil menjanjikan sebagai sebuah presentasi horor bernuansa Islam yang mumpuni. Sayang, momen dimana Yusof berusaha untuk melanjutkan pengisahan dan meningkatkan intensitas konflik, Munafik 2 mulai terasa kehilangan arah sekaligus kualitas penceritaannya.

Permasalahan tersebut jelas berasal dari naskah cerita garapan Yusof. Seusai memperkenalkan konflik dan karakter yang hadir dalam penceritaan Munafik 2, alur pengisahan film kemudian berjalan stagnan pada perseteruan yang terjadi antara karakter Ustadz Adam dengan Abu Jar atau usaha dari karakter Abu Jar untuk menghadirkan teror dalam kehidupan karakter Sakinah. Dan hal tersebut terus mengalami pengulangan selama durasi film sepanjang 121 menit berjalan. Deretan konflik dan karakter tersebut juga tidak mengalami pengembangan yang berarti: karakter Sakinah terus digambarkan sebagai sosok penderita dengan musibah yang terus mendera, karakter Ustadz Adam sebagai sosok yang ingin berjuang menegakkan ajaran agama – walaupun terus digambarkan hadir dengan banyak kebimbangan hati, serta karakter Abu Jar yang terus menerus berteriak-teriak dalam melafalkan dialognya.

Melelahkan? Tentu saja. Apalagi Yusof kemudian memilih untuk memborbardir presentasi film dengan banyak pelintiran kisah berkualitas murahan serta jutaan jump scares yang dilakukannya dengan menambah tinggi volume audio film setiap kali ingin mengejutkan penonton. Paruh ketiga film merupakan bagian pengisahan terburuk – dengan tambahan kisah tentang peristiwa perkosaan yang tersaji dangkal serta ending cerita yang menggelikan – dan sepertinya memastikan bahwa Yusof memang telah kehilangan ide untuk memberikan pengembangan yang layak bagi jalan cerita filmnya. Terlepas dari karakter-karakter yang bernada monoton, departemen akting film ini sebenarnya tampil dalam kualitas presentasi yang tidak mengecewakan. Sebagai aktor, Yusof mampu menampilkan sosok karakter dengan kharisma yang kuat. Begitu pula Karin yang bahkan seringkali berhasil menyediakan banyak momen emosional dalam jalan pengisahan film. Tentu saja, sekelumit penampilan akting yang handal tersebut tidak akan mampu menutupi kualitas presentasi keseluruhan film yang benar-benar akan memberikan pengalaman buruk bagi para penontonnya. [D-]

munafik-2-syamsul-yusof-movie-posterMunafik 2 (2018)

Directed by Syamsul Yusof Produced by Yusof Haslam Written by Syamsul Yusof (screenplay), Syamsul Yusof (story) Starring Syamsul Yusof, Maya Karin, Fizz Fairuz, Nasir Bilal Khan, Mawi, Fauzi Nawawi, Rahim Razali, Namron, Roslan Salleh, Ku Faridah, Nur Zara Sofia, Weni Panca Music by Sky Productions Extreme Music Cinematography Rahimi Mahidin Editing by Syamsul Yusof Studio Skop Productions Running time 121 minutes Country Malaysia Language Malay

Advertisements

One thought on “Review: Munafik 2 (2018)”

  1. Kelemahan dari film ini adalah storynya yang terlalu liar, tak memiliki fokus yang jelas, apalagi endingnya yang membuat penonton gagal ereksi. Untungnya dibarengi dengan akting dan sinematik yang baik jadi cukup layak ditonton.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s