Review: Rompis (2018)


Diadaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Eddy D. Iskandar, Roman Picisan (Adisoerya Abdy, 1980) berhasil menjadi salah satu drama romansa terpopular di kalangan pecinta film Indonesia sekaligus semakin mengukuhkan posisi Rano Karno dan Lydia Kandou – yang di sepanjang karir akting mereka telah membintangi lebih dari sepuluh judul film bersama – sebagai pasangan layar lebar terfavorit di masa tersebut. Kisah cinta antara karakter Roman dan Wulan dalam Roman Picisan kemudian menjadi inspirasi bagi jalan cerita serial televisi berjudul sama dan kembali mampu meraih sukses besar ketika ditayangkan oleh saluran Rajawali Citra Televisi Indonesia sebanyak 107 episode pada tahun 2017. Kini, layaknya kesuksesan versi film yang menginspirasi keberadaan serial televisinya, kesuksesan Roman Picisan: The Series kemudian coba diadaptasi menjadi sebuah film yang berjudul Rompis dan dibintangi oleh deretan pemeran serial televisinya.

Diarahkan oleh Monty Tiwa (Critical Eleven, 2017) dengan naskah cerita yang ditulis oleh Tiwa bersama dengan Haqi Achmad (Ada Cinta di SMA, 2016) dan Putri Hermansjah, Rompis berkisah mengenai pasangan remaja, Roman (Arbani Yasiz) dan Wulan (Adinda Azani), yang terpaksa harus menjalani hubungan asmara jarak jauh ketika Roman melanjutkan pendidikan kuliahnya di Belanda. Jelas bukan sebuah hal yang mudah namun, berkat dukungan teknologi dan sahabat Roman dan Wulan, Sam (Umay Shahab), yang juga turut berkuliah di Belanda bersama dengan Roman, hubungan percintaan keduanya dapat terus berlangsung dengan lancar. Rasa cemburu mulai menghinggapi Wulan ketika ia mengetahui hubungan persahabatan yang dijalin Roman dengan seorang mahasiswi asal Indonesia bernama Meira (Beby Tsabina). Guna memastikan bahwa Roman masih memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, Wulan kemudian nekat menyusul Roman ke Belanda.

Meskipun karakter utamanya memiliki gambaran karakter yang menyerupai karakter-karakter utama film romansa modern yang begitu gemar akan bait-bait puisi, Rompis sendiri bukanlah sebuah film yang mengisi barisan dialognya dengan buaian kata-kata puitis yang dilantunkan oleh sang karakter utama tersebut. Naskah cerita film ini justru memilih untuk berfokus pada gejolak perasaan yang dialami oleh setiap karakter yang dihadirkan dalam linimasa pengisahan film. Lihat saja bagaimana film ini terus menggali hubungan romansa yang terjalin antara karakter Roman dan Wulan, perasaan saling mengagumi yang terbentuk pada hubungan Roman dengan Meira, atau keberadaan karakter Sam yang selalu memberikan warna tambahan pada hubungan yang dibentuk oleh karakter-karakter lain yang berada di sekitarnya. Tidak ada bentukan jalinan kisah cinta yang rumit. Konflik dan karakter tersebut dipaparkan secara sederhana dengan penyampaian yang tidak pernah terasa berlebihan. Berjalan manis dan dinamis.

Di saat yang bersamaan, kesederhanaan konflik yang disajikan Rompis terasa berjalan di tempat dan gagal untuk berkembang dengan lebih baik ketika pola konflik yang sama terus disampaikan berulang kali. Kisah perseteruan antara karakter Roman dan Wulan akibat kehadiran Meira – yang juga dikisahkan berusaha untuk menarik hati Roman – secara perlahan mulai terasa melelahkan dan kehilangan daya tariknya. Karakterisasi yang juga cenderung tidak berubah semenjak awal pengisahan juga cukup membuat paruh kedua pengisahan Rompis menjadi terasa hambar. Belum lagi dengan kehadiran beberapa konflik sekunder yang tampil dangkal, tidak memiliki fungsi yang kuat, dan sebenarnya dapat dibuang begitu saja dari jalan cerita keseluruhan film. Beruntung, Rompis kemudian dapat bangkit kembali pada paruh ketiga pengisahannya – meskipun tidak pernah berhasil mencapai kesuksesan yang sama seperti pada paruh awal film.

Garapan Tiwa pada jalan pengisahan Rompis yang bernada ringan harus diakui menjadi elemen kesuksesan utama sehingga film ini dapat tampil begitu menghibur. Terlepas dari beberapa kelemahan pada penceritaannya, Tiwa tetap mampu mengalirkan Rompis secara baik, memberikan polesan yang kuat pada elemen komedi dan romansa, serta menghadirkan ruang yang luas bagi para pemeran film ini untuk menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Dengan chemistry yang telah terasah semenjak penampilan mereka dalam Roman Picisan: The Series, Yasiz, Azani, dan Shahab sukses menghadirkan jalinan hubungan yang kuat dan meyakinkan antara karakter-karakter mereka. Terlepas dari karakter yang sering hadir dalam nada yang monoton, penampilan Tsabina juga hadir dalam kapasitas yang tidak mengecewakan. Bukan sebuah presentasi yang terasa istimewa namun Rompis cukup mampu tampil sebagai kisah drama romansa remaja yang cukup menyenangkan. [C]

rompis-roman-picisan-film-indonesia-movie-posterRompis (2018)

Directed by Monty Tiwa Produced by Ferry Ardiyan, Didi Ardiansyah Written by Haqi Achmad, Monty Tiwa, Putri Hermansjah (screenplay), Fatmaningsih Bustamar, Priesnanda Dwisatria, Balda Zaini Fauziyah (story), Eddy D. Iskandar (novel, Roman Picisan) Starring Arbani Yasiz, Adinda Azani, Umay Shahab, Beby Tsabina, Aldy Rialdy, Richard Ivander, Shenina Cinnamon, Rahmet Ababil, Adjis Doaibu, Gito Gilas, Amaranggana, Danu Rendra Music by Andi Rianto Cinematography Rollie Markiano Editing by Oliver Sitompul Studio MNC Pictures Running time 99 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s