Review: Sebelum Iblis Menjemput (2018)


Dalam episode terbaru dari “Orangtuaku Menjual Jiwa Mereka ke Setan dan Menjadikanku Sebagai Tumbal,” film arahan sutradara Timo Tjahjanto (Headshot, 2016), Sebelum Iblis Menjemput, mencoba untuk memberikan interpretasinya sendiri atas tema pengisahan yang semakin familiar dalam film-film horor belakangan. Filmnya sendiri berkisah tentang Alfie (Chelsea Islan) yang diundang oleh ibu tirinya, Laksmi (Karina Suwandi), untuk membantu saudara-saudaranya, Maya (Pevita Pearce), Ruben (Samo Rafael), dan Nara (Hadijah Shahab), mengumpulkan benda-benda berharga yang terdapat di vila milik keluarga mereka untuk kemudian dijual dan uangnya digunakan untuk membayar biaya pengobatan sang ayah, Lesmana (Ray Sahetapy). Alfie sebenarnya begitu membenci Lesmana setelah kematian ibu kandungnya (Kinaryosih). Namun, rasa penasaran terhadap masa lalu sang ayah akhirnya mendorong Alfie untuk datang menemui keluarga tirinya. Sebuah keputusan yang kemudian justru menghadapkan gadis tersebut pada sebuah misteri yang dapat mengancam kehidupannya.

Mereka yang telah mengikuti perjalanan karir Tjahjanto – baik ketika ia bersekutu dengan Kimo Stamboel sebagai Mo Brothers maupun ketika ia mengarahkan film-film pendeknya secara solo – jelas telah memahami kegemaran sang sutradara akan adegan-adegan bernuansa slasher yang hadir dengan balutan kekerasan dan tumpahan darah. Hal yang sama juga kembali dipamerkan Tjahjanto lewat film ini. Sebagai horor perdananya, Tjahjanto terasa mengambil pendekatan yang serupa dengan film-film horor garapan Sam Raimi seperti The Evil Dead (1981) maupun Drag Me to Hell (2009). Cukup terasa menyegarkan di tengah gempuran film-film horor supranatural lain yang sedang menjamur di layar bioskop Indonesia dan kebanyakan disajikan dengan penataan kisah yang sama.

Visi Tjahjanto untuk filmnya juga didukung dengan baik oleh kualitas produksi yang mampu menghasilkan atmosfer kengerian yang mencengkeram. Lihat saja bagaimana tata sinematografi dan artistik yang mampu digarap untuk memberikan kesan ruang yang begitu sempit agar dapat membuat penonton film ini merasa terperangkap dalam jalan pengisahan film ini. Pemilihan warna yang cenderung kelam di banyak adegan film juga harus diakui mendorong kuat Sebelum Iblis Menjemput untuk tampil dalam nada cerita yang cenderung depresif. Hal yang sama juga dapat dirasakan pada departemen musik dan suara yang berhasil menciptakan bunyi-bunyian dengan sensasi horor yang akan meninggalkan kesan yang cukup mendalam – bahkan jauh setelah penonton selesai menyaksikan film ini.

Cukup disayangkan, ketika Sebelum Iblis Menjemput  mampu ditampilkan dengan desain produksi yang maksimal, naskah cerita garapan Tjahjanto justru menjadi kelemahan terbesar yang membuat pengisahan film gagal bercerita dengan baik. Ketidakmampuan Tjahjanto untuk membangun dan mengembangkan konflik yang terjadi antara tiap karakter yang hadir dalam jalan cerita film jelas menjadi masalah terbesar bagi Sebelum Iblis Menjemput. Tak satupun karakter dalam pengisahan film mampu menjalin hubungan emosional dengan penonton akibat karakterisasi yang terlalu dangkal dan konflik yang tidak mampu diolah dengan baik. Pilihan Tjahjanto untuk menghadirkan adegan-adegan kejutan pada banyak bagian film juga terasa tidak efektif – dan, sejujurnya, terasa mengganggu ketika dihadirkan dalam porsi yang terlalu banyak. Adegan-adegan kejutan tersebut lebih sering terasa sebagai distraksi dari Tjahjanto untuk menyembunyikan plot pengisahan yang sebenarnya begitu minimalis dan kurang mampu disajikan secara lebih matang.

Penampilan lemah dari Islan dan Pearce dalam menghidupkan dua karakter utama yang mereka perankan juga harus diakui menjadi elemen krusial mengapa Sebelum Iblis Menjemput gagal tampil menjadi sebuah horor yang lebih kuat. Bukan kesalahan mereka sepenuhnya memang. Karakter yang diciptakan Tjahjanto memang harus diakui tampil begitu dangkal – dan sepertinya selalu mengambil keputusan-keputusan bodoh. Meskipun begitu, penampilan Islan dan Pearce yang terasa begitu kaku semakin membuat kedua karakter utama film ini terasa begitu sulit untuk disukai kehadirannya. Penampilan lugas Suwandi dan Sahetapy yang hadir dalam kapasitas penampilan pendukung justru terasa lebih menarik dan mengikat. Sebelum Iblis Menjemput akhirnya berakhir sebagai sebuah presentasi yang lebih menarik untuk disaksikan karena kualitas produksinya daripada mampu menjadi sebuah sajian cerita yang lebih mengesankan. [C-]

sebelum-iblis-menjemput-movie-posterSebelum Iblis Menjemput (2018)

Directed by Timo Tjahjanto Produced by Sukdev Singh, Wicky V. Olindo Written by Timo Tjahjanto Starring  Chelsea Islan, Pevita Pearce, Ray Sahetapy, Karina Suwandi, Samo Rafael, Ruth Marini, Hadijah Shahab, Kinaryosih, Clara Bernadeth, Nicole Rossi Music by Fajar Yuskemal Cinematography by Batara Goempar Editing by Teguh Raharjo Studio Sky Media/Legacy Pictures Running time 110 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

6 thoughts on “Review: Sebelum Iblis Menjemput (2018)”

  1. Seriously? Gue setuju sih sama naskahnya yang emang kurang penggalian, probably it’s the worst part of this movie. Dan penampilan mereka berdua juga emang belum terlalu meyakinkan, apalagi di bagian2 awal. cuma secara keseluruhan, gue lebih merasa terhibur dengan film ini dibanding kafir yang sayang banget eksekusi di akhir filmnya malah bikin ill feel.

    it deserves more than just C 😦

    But not gonna lie, you’ve been writing nice reviews.

    1. Haha. It’s okay if you have a different opinion.

      Kemaren sempat punya harapan tinggi sih karena filmnya Timo Tjahjanto tapi ya gitu… Rada kecewa ujungnya karena lebih mentingin jumpscares daripada cerita yang lebih kuat. (Dan ‘Kafir’ jelas lebih baik! Haha.)

  2. Thank you for the review. Cannot agree more with you sir. C is generous enough for SIM as it leaves the story, the heart of a movie behind everything else.

  3. Why am I just reading this now? Akhirnya ada review yang lebih dari sekadar puja dan puji, and I thoroughly agree, makanya agak heran kenapa hampir semua menilai film ini seolah tanpa cela. I am a BIG fan of Timo, tapi justru itu agak membuat q tambah kecewa, knowing full well that he is already a “native” in this genre, harusnya tidak terjebak di klise film horor yang seolah dibuat check list-nya di film ini, dan dipastikan dilakukan semua, dan tanpa alasan yang jelas.

    Selain cerita, akting, dialog pun sering membuat tertunduk malu. And then the netizens’ reactions left me puzzled; did I watch a different movie?

    I am still your biggest fan, Timo, I know you can do better than this. And I am sorry Amir for ranting on your site, I don’t know where else to go 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s