Review: Target (2018)


Diarahkan oleh Raditya Dika (Hangout, 2016) berdasarkan naskah cerita yang ditulisnya sendiri, Target berkisah mengenai sembilan orang selebritis Indonesia – Dika, Cinta Laura Kiehl, Hifdzi Khoir, Abdur Arsyad, Samuel Rizal, Willy Dozan, Ria Ricis, Anggika Bolsterli, dan Romy Rafael – yang diundang seorang produser untuk membintangi film terbaru garapannya yang berjudul Target. Proses pengambilan gambar tersebut dilakukan di sebuah gedung kosong dan baru akan dimulai ketika kesembilan selebritis tersebut telah datang ke lokasi. Tidak disangka, ketika kesembilan orang tersebut telah berkumpul dan bersiap untuk menjalani proses shooting, sebuah rekaman video kemudian berputar yang lantas mengungkapkan bahwa mereka telah terperangkap di dalam gedung tersebut dan hanya dapat keluar jika mereka mengikuti deretan permainan mematikan yang telah disiapkan oleh seseorang yang menyebut dirinya sebagai Game Master. Mau tidak mau, demi menyelamatkan jiwa masing-masing, kesembilan orang tersebut harus berusaha bertahan hidup dalam permainan mematikan yang akan berjalan selama 24 jam.

Lewat Hangout, Dika berhasil memberikan kejutan pada banyak penikmat film Indonesia. Thriller comedy yang kemudian berhasil mengundang hampir tiga juta penonton selama masa penayangannya tersebut membuktikan bahwa pengarahan Dika mampu tumbuh dewasa dengan baik sekaligus memberikan warna baru bagi penceritaan komedi yang memang telah begitu melekat pada dirinya. Formula pengisahan Hangout tersebut kini coba diaplikasikan Dika terhadap Target: Sekelompok pemeran yang memerankan “versi alternatif” dari diri mereka sendiri? Check. Karakter-karakter yang terjebak di sebuah lokasi? Check. Teror kematian yang kemudian mengambil nyawa para karakter satu per satu? Check. Target pada dasarnya adalah sebuah “versi alternatif” dari Hangout – naskah cerita Dika bahkan mereferensikan hal tersebut dalam salah satu baris dialognya. Yang berbeda, Dika kini mencoba untuk mengeksplorasi adegan-adegan aksi untuk memperkuat penceritaan filmnya.

Hasilnya cukup menarik. Meskipun masih tampil dalam kapasitas yang tidak terlalu menonjol di dalam jalan pengisahan film, Dika mampu memanfaatkan deretan koreografi aksi yang ditampilkan para pemerannya untuk menambah daya pikat dan bahkan elemen ketegangan cerita. Sayangnya, naskah cerita Target memiliki begitu banyak keterbatasan untuk mampu menghasilkan presentasi cerita yang lebih kuat. Jika dibandingkan dengan Hangout – sebuah perbandingan yang mau tidak mau akan terus muncul akibat begitu identiknya pola penceritaan kedua film tersebut, Dika kekurangan amunisi untuk mengisi tiap adegan filmnya dengan konflik maupun guyonan yang kuat.

Lihat saja pada deretan permainan mematikan yang harus dihadapi para karakter yang kemudian bergerak stagnan setelah permainan kedua – Target lantas membiarkan para karakternya terlibat dalam adegan adu senjata hingga akhir pengisahan yang, sejujurnya, justru terasa membuat Dika terlihat kebingungan untuk menciptakan intrik yang menarik dalam mengisi alur cerita filmnya. Guyonan-guyonan yang terlontar di sepanjang film juga tidak pernah benar-benar tampil menonjol bahkan bagi mereka yang telah memahami maupun menggemari deretan guyonan yang dihasilkan Dika selama ini. Sebuah pelintiran kisah yang diletakkan Dika di paruh akhir film tampil cukup menyenangkan. Sentuhan manis yang lumayan menghibur setelah merasa kelelahan dibawa arus datar pengisahan Target dalam paruh cerita sebelumnya.

Kelemahan terbesar dari Target sendiri jelas datang dari kegagalan Dika untuk merangkul barisan pengisi departemen akting yang memiliki daya tarik dan fungsi penampilan yang maksimal. Selain Dozan yang diharuskan berakting untuk menghidupkan sosok karakter yang feminim – and he’s really good at it!, para pemeran lain dalam film ini nyaris tampil hanya sebagai diri mereka sendiri. Deretan penampilan tersebut sebenarnya tidak buruk namun, sebagai sebuah film yang mengandalkan penampilan para pemerannya untuk dapat menghidupkan atmosfer komikal filmnya, departemen akting film ini terasa begitu kekurangan energi dalam menjalankan tugasnya. Khoir dan Arsyad tampil mencuri perhatian dan seringkali memberikan banyak momen menyenangkan bagi Target.

Well… terlepas dari berbagai kelemahan tersebut, Target setidaknya, sekali lagi, membuktikan bahwa Dika adalah sosok sutradara yang eksploratif dan berani untuk mencoba berbagai sentuhan baru bagi film arahannya. Sayang, dengan kehampaan kualitas naskah cerita yang kuat, Target gagal untuk mencapai sasarannya dan berakhir sebagai sebuah presentasi yang setengah matang. [C-]

target-raditya-dika-film-indonesia-movie-posterTarget (2018)

Directed by Raditya Dika Produced by  Sunil Soraya Written by Raditya Dika Starring  Raditya Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Romy Rafael, Anggika Bolsterli, Ence Bagus, Emil Kusumo Music by Andhika Triyadi Cinematography Muhammad Firdaus Edited by Sastha Sunu Production companies Soraya Intercine Films Running time 93 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s