Review: Bluebell (2018)


Setelah serangkaian film berwarna horor dan thriller yang telah ia tekuni semenjak melakukan debut pengarahan film layar lebarnya melalui Jinx (2010), Muhammad Yusuf mencoba mengarahkan sebuah genre berbeda untuk film teranyarnya, Bluebell. Film drama romansa yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Dwitasari ini berkisah mengenai pertemuan antara Bluebell (Regina Rengganis) dan Mario (Qausar Harta Yudana) yang secara singkat tumbuh menjadi perasaan suka antara satu dengan yang lain. Sayangnya, pertemuan antara Bluebell dan Mario terjadi di saat pemuda tersebut sedang merasa gundah akan hubungannya dengan tunangannya, Vallesia (Steffi Zamora), yang akan segera berlanjut ke jenjang pernikahan. Sial, ketika Mario berusaha menentukan keputusan hatinya, Bluebell mengetahui tentang status hubungan asmara Mario. Patah hati, Bluebell memilih untuk menjauh dan berusaha untuk melupakan pemuda itu.

Sebagai sebuah drama romansa, Bluebell, sayangnya, tidak pernah benar-benar mampu membuat penontonnya merasakan manis maupun getirnya jalinan hubungan romansa yang sedang dibangun oleh kedua karakter utama dalam jalan pengisahan film ini. Problema tersebut jelas dimulai dengan ketidakmampuan naskah cerita film ini untuk memberikan pengembangan yang esensial terhadap bangunan hubungan antara karakter Bluebell dan Mario. Kedua karakter tersebut memang digambarkan saling jatuh hati satu sama lain dalam waktu yang sangat singkat. Namun, hubungan tersebut tidak pernah mampu dihidupkan dengan meyakinkan akibat dangkalnya naskah cerita garapan Yusuf dalam menggali karakterisasi kedua tokoh tersebut sekaligus konflik yang mengitari kehidupan mereka. Usaha untuk menghadirkan sentuhan komedi lewat guyonan yang dilontarkan oleh beberapa karakter pendukung juga lebih sering tampil mengganggu fokus penceritaan daripada menjadi elemen pelengkap bagi kekuatan penceritaan film.

Mentahnya chemistry yang terjalin antara Rengganis dan Yudana juga menjadi faktor lain mengapa drama romansa ini gagal untuk bekerja dengan lebih baik. Baik Rengganis maupun Yudana harus diakui masih cukup mampu untuk menghidupkan kedua karakter yang mereka perankan. Sayangnya, ketika jalan cerita Bluebell membutuhkan momen-momen hangat yang terbentuk dari jalinan romansa yang terjalin antara karakter-karakter yang mereka perankan, Rengganis dan Yudana tampil dengan chemistry yang hadir terlalu datar untuk dapat meyakinkan penonton bahwa karakter Bluebell dan Mario sedang terlibat dalam sebuah jalinan hubungan asmara. Karakter Vallesia yang tergambar sebagai orang ketiga dalam hubungan antara karakter Bluebell dan Mario sendiri tidak pernah diberikan kesempatan besar untuk mendapatkan porsi pengisahan yang kuat – hal yang membuat penampilan Zamora terasa berlalu dan sia-sia begitu saja. Departemen akting film ini juga diisi penampilan dari Roy Marten, Ncess Nabati, dan Rafael Tan yang sejujurnya tidak berperan banyak dengan minimalisnya peran ceritayang diberikan pada karakter-karakter yang mereka perankan.

Berbeda dengan film-film arahan Yusuf sebelumnya yang dapat diisi dengan deretan adegan yang dapat menakuti ataupun mengejutkan penontonnya, Yusuf jelas harus bekerja ekstra kuat untuk mengarahkan draman romansa sejenis Bluebell yang berfokus penuh pada pengembangan kisah dari karakter-karakternya. Walau hasil pengarahan Yusuf sempat menghadirkan beberapa momen yang menyenangkan – kebanyakan karena kemampuannya dalam mengisi adegan-adegan filmnya dengan deretan gambar keindahan Pulau Dewata, Bluebell harus diakui gagal untuk menjadi sebuah drama romansa yang meyakinkan. Paduan naskah cerita buruk dengan pengarahan medioker yang menghasilkan sebuah presentasi cerita yang cukup layak untuk dilupakan begitu saja. [D-]

bluebell-film-indonesia-movie-posterBluebell (2018)

Directed by Muhammad Yusuf Produced by Claudia Stefanus Written by Muhammad Yusuf (screenplay), Dwitasari (book, Bluebell) Starring Regina Rengganis, Qausar Harta Yudana, Ncess Nabati, Rafael Tan, Gibran Marten, Steffi Zamora, Roy Marten, Ike Muti, Binyo Rombot Music by Izzal Peterson Cinematography Satya Ginong Editing by Andri Sofyansyah Studio Ratson Pictures/Triple A Films Running time 82 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s