Review: Kenapa Harus Bule? (2018)


Merupakan film panjang kedua arahan Andri Cung setelah The Sun, The Moon & The Hurricane (2014), Kenapa Harus Bule? berkisah mengenai perjuangan yang harus dilalui oleh Pipin Kartika (Putri Ayudya) untuk memenuhi obsesinya dalam mendapatkan jodoh seorang pria bule. Terus-menerus gagal dalam menemukan sosok pria bule yang tepat untuknya di Jakarta, Pipin Kartika lantas nekat untuk meninggalkan pekerjaan serta kehidupannya di ibukota dan lantas pindah dan tinggal bersama sahabatnya, Arik (Michael Kho), di Bali. Tidak lama setelah kepindahannya tersebut, Pipin Kartika berkenalan dengan seorang pria tampan berdarah Italia, Gianfranco Battaglia (Cornelio Sunny), yang dengan segera mampu mencuri perhatian dan hati Pipin Kartika. Namun, di saat yang bersamaan, Pipin Kartika bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya, Buyung (Natalius Chendana), yang kini telah tumbuh sebagai seorang pria tampan sekaligus mapan. Buyung telah berulangkali menunjukkan perhatian dan rasa sukanya pada Pipin Kartika. Meskipun begitu, Pipin Kartika telah bertekad untuk mendapatkan seorang pria bule untuk mendampinginya di pelaminan – meskipun secara perlahan Pipin Kartika mulai menyadari bahwa Gianfranco seringkali berbohong pada dirinya.

Diproduseri oleh Nia Dinata – orang yang sama yang juga bertanggungjawab atas kehadiran Berbagi Suami (2006), Perempuan Punya Cerita (2007), Arisan! 2 (2012), dan Ini Kisah Tiga Dara (2016) – rasanya jelas tidak mengherankan bila Kenapa Harus Bule? garapan Cung kemudian menyinggung banyak isu sosial – khususnya di kalangan masyarakat perkotaan – pada jalinan naskah ceritanya. Selain membahas mengenai fenomena semakin banyaknya perempuan kota yang bermimpi untuk menikah dengan pria asing, Kenapa Harus Bule? juga beberapa kali berbicara tentang rasa inferioritas kaum pribumi terhadap para pendatang asing, masalah pandangan pernikahan, feminisme dan kesetaraan gender, hingga berbagai isu tentang romansa baik dari percintaan antara lelaki dan perempuan maupun kisah cinta antara pasangan homoseksual. Berat? Tentu tidak. Dinata dan Cung mampu mengolah tema-tema sosial kaum urban tersebut dalam sentuhan satir yang menghibur namun tetap menggigit walaupun lebih sering tampil dalam bahasan dangkal yang berlalu melalui dialog singkat para karakter-karakternya.

Kedangkalan pengolahan plot dan karakter memang menjadi masalah terbesar dalam presentasi cerita Kenapa Harus Bule? Banyak bagian plot maupun konflik yang disajikan Cung gagal dihadirkan dengan pengembangan yang maksimal. Hasilnya, Kenapa Harus Bule? seringkali berjalan dengan monoton bahkan cenderung membosankan. Paling fatal adalah ketidakmampuan Cung untuk menjadikan karakter Pipin Kartika sebagai sosok karakter utama yang mengikat. Lihat saja bagaimana inkonsistensi sikap dan pemikiran karakter tersebut di sepanjang pengisahan film. Atau bagaimana karakter tersebut menyikapi setiap permasalahan yang dihadapinya. Tentu, sikap tersebut menjadi character study tersendiri bagi karakter Pipin Kartika. Namun ketika pengisahan film tidak mampu memberikannya pengembangan karakter yang lebih baik dan mendalam, jelas sulit untuk kemudian merasa peduli dengan dirinya.

Fokus yang berlebihan pada naik turunnya hubungan romansa antara karakter Pipin Kartika dengan karakter Gianfranco Battaglia yang sebenarnya tidak begitu menarik tersebut juga akhirnya membuat kisah-kisah hubungan yang dijalin karakter Pipin Kartika dengan karakter lain menjadi tertinggal begitu saja. Hubungan antara karakter Pipin Kartika dengan karakter sahabatnya, Arik, yang di paruh awal tampil dinamis dan begitu menghibur akhirnya menghilang tanpa jejak. Jalinan kisah antara karakter Pipin Kartika dengan karakter Buyung juga tersaji kurang matang yang kemudian (SPOILER ALERT!) membuat pilihan Pipin Kartika untuk membina hubungan dengan karakter Buyung di paruh akhir film menjadi terkesan terburu-buru dan terlalu dipaksakan. Begitu pula dengan jalinan hubungan antara karakter Pipin Kartika dengan karakter sang ibu yang dikisahkan begitu krusial namun gagal mendapatkan penggambaran yang lebih meyakinkan.

Pengarahan Cung atas Kenapa Harus Bule? sendiri juga terasa medioker. Selain ritme pengisahan film yang sering terasa kurang mampu untuk tertata dengan lebih baik, tampilan teknis film juga gagal dihadirkan dengan maksimal. Dari departemen akting, Ayudya dan Kho memberikan dua penampilan yang menjadi salah satu dari sedikit alasan mengapa Kenapa Harus Bule? masih cukup layak untuk disaksikan. Chemistry keduanya hadir penuh kehangata dan sangat meyakinkan. Tidak banyak hal yang dapat diungkapkan dengan penampilan akting para pemeran lainnya: Sunny seringkali terasa menampilkan karakter secara over the top sementara, lebih buruk lagi, Chendana hadir dengan penampilan yang terasa canggung sekaligus datar pada keseluruhan film. Akhirnya, Kenapa Harus Bule? berakhir sebagai sebuah presentasi yang memiliki niat pengisahan yang ambisius namun tampil dengan pengembangan kisah yang terlalu dangkal. [D]

kenapa-harus-bule-movie-posterKenapa Harus Bule? (2018)

Directed by Andri Cung Produced by Nia Dinata, Kyo Hayanto Written by Andri Cung Starring Putri Ayudya, Natalius Chendana, Cornelio Sunny, Michael Kho, Chicco Kurniawan, Paul Agusta, Djenar Maesa Ayu Music by Yudit Violin Cinematography Bella Panggabean Editing by Dwi Agus Purwanto Studio Kalyana Shira Films/Good Sheep Productions Running time 89 minutes Country Indonesia Language Indonesian, English

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s