Review: Mata Dewa (2018)


Digadang sebagai film Indonesia pertama yang bertema tentang olahraga basket, Mata Dewa berkisah mengenai pelatih basket SMA Wijaya, Miko (Nino Fernandez), yang bermimpi untuk membawa tim basket asuhannya untuk memenangkan kompetisi basket antar sekolah terbesar di Indonesia, Developmental Basketball League Indonesia. Harus diakui, tim Jayhawk – sebutan untuk tim basket milik SMA Wijaya – memang memiliki beberapa pemain berbakat, seperti Dewa (Kenny Austin) yang selalu dapat diandalkan dalam setiap pertandingan. Namun, di saat yang bersamaan, tidak adanya kekompakan antar sesama pemain membuat tim Jayhawk selalu bermain buruk dan berakhir dengan kekalahan. Tim Jayhawk kemudian menemui titik terendah mereka ketika Dewa mengalami kecelakaan yang menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan salah satu matanya. Tidak menyerah begitu saja, Dewa berusaha untuk bangkit dan mengenyampingkan kelemahan fisiknya untuk tetap dapat berkiprah di tim basketnya. Usaha Dewa tersebut secara perlahan memberikan inspirasi bagi Miko dan rekan-rekannya untuk kembali berjuang dan bersatu untuk memenangkan kompetisi di hadapan mereka.

Sebagai sebuah film bertemakan olahraga, Mata Dewa sebenarnya memiliki banyak potensi pengisahan yang menarik. Meskipun familiar, deretan plot seperti pembuktian kemampuan diri, hubungan antara orangtua dan anak, persaingan antara dua kelompok, hingga sebuah sentuhan pengisahan romansa jelas dapat dikembangkan menjadi sebuah presentasi cerita yang menarik sekaligus mampu memikat penonton. Sayangnya, naskah garapan sutradara film ini, Andibachtiar Yusuf (Hari Ini Pasti Menang, 2013), yang berkolaborasi bersama Oka Aurora (Strawberry Surprise, 2014), sama sekali tidak pernah berhasil untuk dapat memanfaatkan potensi menarik yang dimiliki plot pengisahan film ini dengan seksama. Deretan plot dan konflik tersebut akhirnya terlontar begitu saja tanpa pernah mampu terasa saling berkaitan satu sama lain atau berpadu untuk membentuk sebuah keutuhan cerita yang dapat mendorong Mata Dewa untuk hadir dengan kualitas pengisahan yang utuh.

Mereka yang jeli dengan gaya maupun arah penceritaan Mata Dewa mungkin dapat merasakan bahwa film ini merupakan sebuah film yang dibuat oleh dan untuk mempromosikan keberadaan Developmental Basketball League Indonesia sebagai kompetisi basket antar sekolah terbesar di Indonesia. Di saat yang bersamaan, jelas terasa sangat mengecewakan untuk melihat pengarahan Yusuf – yang sebelumnya telah menggarap beberapa film bertema olahraga dengan kualitas mumpuni – kemudian terlihat “menyerah” pada narasi cerita yang menginginkan untuk lebih menonjolkan unsur keberadaan pesan sponsor daripada menghadirkan penceritaan yang lebih solid. Hasilnya, banyak elemen cerita maupun produksi film ini tergarap dengan setengah hati. Lihat saja bagaimana tata gambar film yang seenaknya memotong pengisahan yang sedang berlangsung atau kualitas tata suara di beberapa adegan yang tenggelam dan sama sekali tidak terdengar atau, yang paling mengecewakan, adalah adegan pertandingan basket yang terlihat begitu murahan – untuk sebuah film yang membanggakan dirinya sebagai film tentang basket pertama di Indonesia.

Sedikit poin lebih memang harus diberikan pada penampilan akting para pemeran film yang memang tampil tidak mengecewakan. Karakter-karakter dalam pengisahan Mata Dewa harus diakui hadir dengan penggalian karakterisasi yang dangkal. Hubungan antara karakter tersebut juga seringkali terasa jauh dari kesan dinamis. Meskipun begitu, penampilan Austin sebagai Dewa setidaknya tidak menambah beban berat dosa yang telah dilakukan oleh film ini. Chemistry yang dijalin Austin dengan Agatha Chelsea memang terasa begitu tipis. Namun kelemahan tersebut lebih sering ditimbulkan oleh faktor gagalnya naskah cerita film untuk memberikan pengembangan plot yang lebih baik pada hubungan kedua karakter daripada akibat lemahnya penampilan akting kedua pemerannya. Pengisi departemen akting lain seperti Fernandez, Bradon Salim, dan Ariyo Wahab juga mampu memberikan penampilan yang jauh lebih baik daripada jalinan pengisahan yang diberikan pada karakter yang mereka perankan. Dodit Mulyanto juga hadir untuk memberikan sentuhan komedi pada pengisahan Mata Dewa meskipun kehadiran karakternya lebih sering terasa mengganggu akibat plot cerita yang cenderung dangkal. [D]

mata-dewa-kenny-austin-movie-posterMata Dewa (2018)

Directed by Andibachtiar Yusuf Produced by Avesina Soebli Written by Andibachtiar Yusuf, Oka Aurora Starring Kenny Austin, Brandon Salim, Agatha Chelsea, Nino Fernandez, Ariyo Wahab, Dodit Mulyanto, Augie Fantinus Wiyana, Valerie Tifanka, Arief Alfiansyah, Kemal Noerjamal, Erwin Suganda, Udjo Project Pop, Imelda E. Budiman, Yogi Nugraha, Evi Ekawati, Norbertus Simon Music by Thoersi Argeswara Cinematography Billy Tristiandy Editing by Andhy Pulung, Riko Nurmiyanto Studio Sinema Imaji/DBL Indonesia/Shanaya Films Running time 80 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

One thought on “Review: Mata Dewa (2018)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s