Review: Loving Vincent (2017)


Loving Vincent bukanlah sebuah film animasi biasa. Diinspirasi oleh lukisan-lukisan karya Vincent van Gogh – yang sebagian kisah kehidupannya menjadi fokus utama penceritaan film ini, Loving Vincent dibuat dengan bantuan 125 pelukis yang berasal dari seluruh penjuru dunia yang kemudian menghasilkan sekitar 65 ribu frame gambar berupa lukisan cat minyak yang nantinya dipadukan untuk mengisi deretan adegan cerita film ini. Sebuah teknik yang jelas rumit dan akhirnya menghabiskan waktu selama empat tahun untuk menyelesaikan seluruh proses produksi film ini. Namun, sebagaimana layaknya sebuah lukisan yang menjadi mahakarya para pembuatnya, Loving Vincent yang digarap oleh Dorota Kobiela dan Hugh Welchman ini juga mampu hadir dengan kualitas akhir yang begitu memuaskan: deretan gambar dalam film ini tampil begitu indah untuk disaksikan dengan jalan cerita yang menyertainya bahkan mampu disajikan dengan sentuhan emosional yang begitu mengikat.

Meskipun mengisahkan kehidupan van Gogh – seorang pelukis asal Belanda yang merupakan salah satu figur paling berpengaruh di dunia seni rupa, Loving Vincent tidak lantas bertutur mengenai kehidupan sang maestro semenjak awal kehidupannya. Loving Vincent bahkan memulai pengisahannya pada masa satu tahun semenjak kematian Vincent van Gogh (Robert Gulaczyk). Dikisahkan, seorang tukang pos yang biasa menghantarkan surat-surat Vincent van Gogh, Joseph Roulin (Chris O’Dowd), meminta bantuan putranya, Armand Roulin (Douglas Booth),untuk menghantarkan surat terakhir Vincent van Gogh kepada saudaranya, Theo van Gogh. Mengingat Vincent van Gogh telah meninggal dunia, Armand Roulin jelas merasa bahwa tugas yang diberikan oleh sang ayah tersebut adalah sebuah pekerjaan yang sia-sia belaka. Meskipun begitu, dengan desakan sang ayah, Armand Roulin akhirnya berangkat guna memenuhi permintaan tersebut. Dalam perjalanannya, dan dengan mengenal deretan karakter orang-orang yang mengenal Vincent van Gogh semasa hidupnya, Armand Roulin justru secara perlahan mulai mengenal kepribadian sang pelukis kenamaan tersebut. Kepribadian yang mungkin bahkan tidak begitu dikenal oleh kebanyakan orang yang mengaku familiar dengan nama Vincent van Gogh.

Dengan naskah cerita yang juga digarap oleh Kobiela dan Welchman bersama dengan Jacek Dehnel, Loving Vincent memiliki struktur penceritaan layaknya sebuah pengisahan misteri dimana sang karakter utama berusaha untuk mengumpulkan petunjuk demi petunjuk demi mendapatkan kepastian akan sebuah permasalahan yang sedang ia hadapi. Struktur penceritaan tersebut menggulirkan deretan karakter dan konflik ke dalam jalan cerita Loving Vincent yang secara perlahan memberikan berbagai warna yang menjadikan film ini terasa berkisah lebih atraktif. Harus diakui, khususnya pada paruh awal pengisahan, Kobiela dan Welchman masih terasa kebingungan untuk menetapkan ritme penceritaan yang tepat bagi film mereka – yang membuat Loving Vincent kemudian sempat terasa datar. Untungnya kondisi tersebut tidak berlangsung begitu lama dan film ini mampu bergerak dengan penceritaan yang dinamis hingga akhir presentasinya.

Dengan masa penggarapan yang mencapai empat tahun, Loving Vincent hadir dengan kualitas tata produksi yang maksimal. Garapan animasinya yang menyajikan “versi hidup” dari lukisan cat minyak – yang ditampilkan berwarna dalam pengisahan berlatarbelakang waktu sekarang dan tampil secara monokrom pada bagian pengisahan yang terjadi di masa lampau – terlihat begitu indah. Detil yang diberikan oleh Kobiela dan Welchman beserta 125 pelukis yang membantu mereka pada setiap adegan cerita Loving Vincent begitu memikat mata – sebuah elemen yang jelas mendapat dukungan dari tata sinematografi garapan Tristan Oliver. Tata musik yang digarap oleh Clint Mansell juga cukup mendorong keberadaan sentuhan emosional pada penceritaan film. Dalam balutan tata musik Mansell tersebut, kisah perjalanan karakter Armand Roulin untuk menggali lebih dalam mengenai kehidupan seorang Vincent van Gogh tampil semakin hidup. Presentasi audio visual yang memuaskan.

Meskipun hadir dengan jalan cerita yang tergolong sederhana namun deretan karakter yang ditampilkan di sepanjang pengisahan Loving Vincent mampu dihidupkan dengan baik oleh jajaran pengisi suara film ini. Booth yang tampil dominan berhasil menjadikan karakter Armand Roulin yang dihadirkannya mengikat perhatian secara utuh. Jajaran pengisi suara lain diisi oleh nama-nama seperti O’Dowd, Saoirse Ronan, Jeremy Flynn, Helen McCrory, Eleanor Tomlinson, hingga Aiden Turner semakin mempersolid kualitas presentasi keseluruhan film ini. Usaha besar Kobiela dan Welchman untuk Loving Vincent jelas terbayar dengan penuh. Film ini tampil dengan berbagai keunikan yang kuat dan jelas akan membuatnya menghasilkan kesan yang mendalam bagi setiap penontonnya. [B-]

loving-vincent-movie-posterLoving Vincent (2017)

Directed by Dorota Kobiela, Hugh Welchman Produced by Hugh Welchman, Ivan Mactaggart, Sean M. Bobbitt Written by Dorota Kobiela, Hugh Welchman, Jacek Dehnel Starring Robert Gulaczyk, Douglas Booth, Jerome Flynn, Saoirse Ronan, Helen McCrory, Chris O’Dowd, John Sessions, Eleanor Tomlinson, Aidan Turner Music by Clint Mansell Cinematography Tristan Oliver Edited by Dorota Kobiela, Justyna Wierszynska Production company BreakThru Productions/Trademark Films Running time 95 minutes Country Poland, United Kingdom, United States Language English

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s