Review: One Fine Day (2017)


Indonesia’s current reigning heartthrob, Jefri Nichol, is back in yet another teenage romance, One Fine Day. Diproduksi oleh tim yang juga menghasilkan ILY from 38.000 Ft (2016) – mulai dari produser Sukdev Singh, penulis naskah Tisa TS, sutradara Asep Kusdinar, dan turut dibintangi oleh aktris Michelle Ziudith – One Fine Day berkisah mengenai kehidupan Mahesa (Nichol), seorang pemuda asal Indonesia yang awalnya sedang berkuliah di Barcelona, Spanyol namun kemudian memutuskan untuk mengejar impiannya menjadi seorang musisi bersama dengan dua sahabatnya, Revan (Dimas Andrean) dan Dastan (Ibnu Jamil). Selain dengan cara mengamen, guna memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, Mahesa, Revan, dan Dastan sering melakukan penipuan khususnya kepada para wanita yang sering tergila-gila dengan ketampanan wajah Mahesa. Alana (Ziudith) – gadis cantik asal Indonesia yang tidak sengaja ditemui Mahesa di sebuah restoran – sendiri awalnya akan dijadikan korban baru bagi ketiga pemuda tersebut. Namun, seiring dengan semakin dekat hubungannya dengan Alana, Mahesa mulai merasa bahwa dirinya jatuh cinta terhadap gadis tersebut.

Formula pengisahan yang dihadirkan dalam One Fine Day memang tidak jauh berbeda dari apa yang disajikan Singh, TS dan Kusdinar dalam Magic Hour (2015), London Love Story (2016), atau Promise (2017): Masih menawarkan jalinan kisah percintaan antar remaja yang dihadirkan kental dengan dialog-dialog puitis kekinian serta balutan gambar-gambar indah yang membuai mata – meskipun kali ini, untungnya, tidak ada “kejutan” dimana salah satu karakter menderita penyakit yang mematikan. One Fine Day sendiri sebenarnya memulai pengisahannya dengan cukup baik. Didukung oleh penampilan apik Nichol yang mampu menjalin chemistry yang cukup meyakinkan bersama Andrean dan Jamil, perkenalan penonton dengan karakter Mahesa serta konflik awal yang meliputi kehidupannya disajikan dengan sentuhan komedi yang cukup menyenangkan. Gambaran akan sosok pemuda pemberontak yang mencoba untuk menemukan jalan kehidupannya sendiri – seperti yang ditampilkannya dalam Pertaruhan (Upi, 2017) dan Dear Nathan (Indra Gunawan, 2017) – memang telah cukup akrab dan mampu dihidupkan dengan meyakinkan oleh Nichol. Tidak mengherankan jika kemudian karakter Mahesa mampu dengan mudah menyita perhatian penonton di sepanjang pengisahan One Fine Day.

Masalah mulai menghantui pengisahan One Fine Day ketika aliran kisah romansa antara karakter Mahesa dan Alana mulai terbentuk. Meskipun awal kisah hubungan antara karakter Mahesa dan Alana mampu disuguhkan dengan cukup manis namun secara perlahan kisah percintaan antara kedua karakter tersebut tidak mampu berkembang dengan baik. Jalinan hubungan antara kedua karakter juga terkesan disajikan terlalu terburu-buru sehingga tidak pernah tampil benar-benar meyakinkan. Tambahan intrik cinta segitiga dengan karakter Danu (Maxime Bouttier) – yang membuat jalan cerita film ini terasa terilhami kisah cinta segitiga antara karakter Jack Dawson, Rose Dewitt-Bukater, dan Caledon Hockley dalam Titanic (James Cameron, 1997) – serta konflik dari masa lalu Mahesa yang ditambahkan pada perjalanan kisah romansa keduanya juga lebih sering tampil memperumit dan menghalangi perkembangan kisah cinta karakter Mahesa dan Alana daripada membuatnya tampil menjadi lebih kuat. Karakter-karakter pendukung yang pada awal pengisahan memiliki peran cukup krusial juga kemudian menghilang begitu saja. Titik-titik lemah dalam penceritaan One Fine Day inilah yang membuat film ini lebih sering tampil datar dalam pengisahannya daripada mampu mengolah emosi para penontonnya secara lebih mendalam.

Untungnya, meskipun tampil dengan kapasitas penceritaan dan pengarahan yang berkualitas seadanya, jajaran pengisi departemen akting One Fine Day diisi oleh barisan pemeran yang diisi oleh nama-nama seperti Ziudith, Bouttier, Jamil, dan Andrean yang mampu hadir dengan penampilan yang tidak mengecewakan. Rawles yang tampil dalam kapasitas yang begitu terbatas bahkan berhasil mencuri perhatian dalam penampilan singkatnya – sebuah pencapaian yang membuktikan kemampuan akting aktris yang telah mendampingi penampilan Nichol dalam Dear Nathan, Jailangkung (Rizal Mantovani, 2017), dan A: Aku, Benci, dan Cinta (Rizki Balki, 2017) tersebut. Departemen akting One Fine Day juga menampilkan penampilan dari aktor Surya Saputra yang, sayangnya, sama sekali tidak diberikan porsi pengisahan yang cukup berarti. Meskipun penempatan lagu Latin berjudul Te Amo Mi Amor pada banyak adegan One Fine Day seringkali terasa mengganggu namun, secara keseluruhan, kualitas departemen produksi film berhasil tampil kuat – dengan tata sinematografi garapan Rama Hermawan hadir kuat dalam menangkap keindahan wilayah Barcelona, Spanyol. [D]

one-fine-day-jefri-nichol-michelle-ziudith-film-indonesia-movie-posterOne Fine Day (2017)

Directed by Asep Kusdinar Produced by Sukdev Singh Written by  Sukdev Singh, Tisa TS Starring Michelle Ziudith, Jefri Nichol, Maxime Bouttier, Amanda Rawles, Surya Saputra, Dimas Andrean, Ibnu Jamil Music by  Joseph S. Djafar Cinematography Rama Hermawan Edited by Wawan I. Wibowo Production company Screenplay Films Running time 102 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s