Review: A: Aku, Benci & Cinta (2017)


Dua bulan setelah perilisan Jailangkung (Jose Poernomo, Rizal Mantovani, 2017) – yang dirilis dua bulan setelah kesuksesan Dear Nathan (Indra Gunawan, 2017) – aktor muda, Jefri Nichol, kembali hadir dalam sebuah film drama remaja berjudul A: Aku, Benci & Cinta. Juga menghadirkan penampilan aktris Amanda Rawles – yang turut mendampingi Nichol dalam Jailangkung dan Dear Nathan – film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Rizki Balki ini berkisah mengenai konflik percintaan yang membelit para karakter-karakter remajanya. Of course. Namun, berbeda dengan film-film remaja sepantarannya, A: Aku, Benci & Cinta berusaha menghadirkan lebih banyak lapisan pengisahan dengan balutan komedi yang cukup kental dalam presentasi ceritanya. Berhasil?

Dengan cerita yang digarap dari novel berjudul sama karya Wulanfadi, A: Aku, Benci & Cinta memulai pengisahannya dengan memperkenalkan dua karakter utamanya, Alvaro (Nichol) dan Anggia (Indah Permatasari). Bagi Anggia, Alvaro merupakan sosok yang paling dibencinya di sekolah. Reputasi sebagai seorang womanizer serta berbagai kelakuannya yang sering mengganggu membuat Anggia tidak pernah betah untuk berlama-lama berdekatan dengan Alvaro. Namun, roda nasib justru berkata lain. Oleh guru mereka, Alvaro kemudian ditugaskan untuk menjadi tutor musik bagi Anggia guna meningkatkan nilai akhirnya di bidang musik. Seperti yang dapat ditebak. Pertemuan yang awalnya dipenuhi oleh banyak adu argumen secara perlahan mulai berisi benih-benih romansa yang tercipta antara keduanya. Alvaro dan Anggia mulai menyukai satu sama lain. Di saat yang bersamaan, kehadiran seorang pria bernama Alex (Brandon Salim) secara perlahan mulai mengusik perhatian Anggia sekaligus membuka sebuah lembaran kisah dari masa lalu Alvaro yang selama ini disembunyikannya dari gadis itu.

Tidak seperti kebanyakan film-film drama romansa remaja lainnya, permasalahan terbesar dari presentasi cerita A: Aku, Benci & Cinta bukan berasal dari penggunaan berbagai konflik klise yang biasanya selalu diselipkan dalam jalan penceritaan film-film sejenis. Naskah cerita A: Aku, Benci & Cinta yang digarap Alim Sudio (Cinta Laki-laki Biasa, 2016) memang menjauhi nada maupun warna pengisahan dengan kandungan romansa maupun melankolia yang terlalu berlebihan. Film ini justru lebih menekankan penggalian mendalam akan karakter-karakter yang hadir di garis penceritaan melalui dua konflik utama yang disajikan – alur mengenai perkembangan hubungan romansa antara karakter Alvaro dan Anggia dengan pengisahan tentang kisah cinta segitiga di masa lalu yang terbentuk antara karakter Alvaro dengan dua teman masa kecilnya, Alex dan Athala (Rawles). Karakter Alvaro, Anggia, Alex dan Athala memang secara perlahan mampu diberikan karakterisasi dan porsi pengisahan masing-masing yang sesuai. Sayangnya, dengan pengembangan cerita yang (cenderung terlalu) sederhana namun tampil tumpang tindih, dua konflik yang melibatkan empat karakter tersebut akhirnya terasa menutupi potensi satu dengan yang lain untuk dapat berkembang dan memberikan sentuhan emosional penceritaan yang lebih mengikat.

Sebagai sutradara sendiri, Balki juga terlihat kesulitan untuk menghadirkan A: Aku, Benci & Cinta dengan ritme pengisahan yang tepat. Dengan durasi penceritaan yang mencapai 94 menit, banyak bagian film ini yang terasa berjalan terlalu lamban dalam mengeksplorasi berbagai sudut pengisahannya. Hal ini yang kemudian membuat banyak momen dramatis dalam A: Aku, Benci & Cinta menjadi gagal untuk tereksekusi dengan lebih baik. Balki juga terasa kurang begitu mampu dalam menyelaraskan sentuhan komedi yang banyak mewarnai pengisahan A: Aku, Benci & Cinta. Pada banyak kesempatan, unsur-unsur komedi dalam film ini sering dieksekusi secara berlebihan sehingga menutupi kekuatan drama yang seharusnya menjadi keunggulan utama film. Bukan berarti pengarahan yang diberikan Balki hadir dengan kualitas yang mengecewakan. Selain berhasil menghadirkan filmnya dengan tampilan departemen produksi yang mumpuni, Balki juga seringkali sukses menata adegan-adegan filmnya dengan atmosfer pengisahan yang tepat. Sama sekali bukanlah sebuah kualitas yang buruk bagi karya sutradara debutan.

Departemen akting A: Aku, Benci & Cinta juga hadir dengan kualitas penampilan yang cukup memuaskan. Diisi oleh wajah-wajah muda dengan talenta akting yang berkelas mulai dari Nichol – meskipun perannya dalam film ini terasa seperti pengulangan dari peran yang sebelumnya ia tampilkan dalam Pertaruhan dan Dear Nathan, Permatasari, Salim, Rawles hingga Maxime Bouttier dan Syifa Hadju – yang selalu berhasil mencuri perhatian dengan perannya sebagai sahabat dekat bagi karakter Anggia – seluruh karakter yang tampil dalam jalan penceritaan film berhasil dihidupkan dengan baik. Sayang memang jika mengingat A: Aku, Benci & Cinta kurang begitu berhasil untuk dikembangkan secara lebih baik. Dengan pendekatannya yang cenderung lebih segar, A: Aku, Benci & Cinta jelas akan tampil maksimal jika mampu digarap dengan penceritaan yang lebih matang lagi. [C]

a-aku-benci-dan-cinta-jefri-nichol-movie-posterA: Aku, Benci & Cinta (2017)

Directed by Rizki Balki Produced by Manoj Punjabi Written by Alim Sudio (screenplay), Wulanfadi (novel, A: Aku, Benci & Cinta) Starring Jefri Nichol, Indah Permatasari, Amanda Rawles, Brandon Salim, Syifa Hadju, TJ Ruth, Mario Wiericx, Naomi Paulina, Nicho Bryant, Alif Lubis, Debo Andrios, Richard Gibson, Devin Putra, Josephine Firmstone, Maxime Bouttier, Oline Mendeng, Sherly Margareta Music by Donny Irawan, Alfa Dwiagustiar Cinematography Ipung Rachmat Syaiful Edited by Ahsan Andrian Production company MD Pictures Running time 94 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

One thought on “Review: A: Aku, Benci & Cinta (2017)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s