Review: Mars Met Venus (Part Cewe) (2017)


Diarahkan oleh Hadrah Daeng Ratu (Super Didi, 2016), Mars Met Venus adalah sebuah presentasi cerita yang mungkin terlihat sederhana namun sebenarnya memiliki tekad yang cukup ambisius. Film yang naskah ceritanya digarap oleh Nataya Bagya (3 Dara, 2015) ini ingin bertutur mengenai perjalanan romansa antara dua orang karakter untuk kemudian mengeksplorasi lebih dalam hubungan romansa tersebut dari kacamata masing-masing karakter. Hal inilah yang membuat Mars Met Venus dibagi dalam dua bagian penceritaan: Mars Met Venus (Part Cewe) akan bercerita dari sudut pandang karakter wanita sementara Mars Met Venus (Part Cowo), tentu saja, nantinya akan berkisah dalam sudut pandang sang karakter pria. Pendekatan cerita yang jelas tidak biasa dan cukup menyegarkan namun apakah Ratu mampu mengeksekusi kedua bagian pengisahan menjadi sajian cerita yang sama-sama kuat sekaligus menarik?

Jalan cerita Mars Met Venus sendiri berkisah mengenai Kelvin (Ge Pamungkas) yang berencana untuk menikahi wanita yang telah menjadi kekasihnya selama lima tahun terakhir, Mila (Pamela Bowie). Untuk mendukung rencananya tersebut, Kelvin kemudian meminta Lukman (Lukman Sardi) untuk membantunya membuat video blog yang merekam komentar, kesan maupun kenangan yang dirasakan Mila maupun dirinya selama menjalin hubungan romansa tersebut. Karena bagian pertama dari Mars Met Venus memiliki subjudul Part Cewe maka film ini akan berisi lebih banyak penceritaan dari sudut pandang karakter Mila sekaligus karakter-karakter yang berada di sekitarannya seperti dua sahabatnya, Icha (Ria Ricis) dan Malia (Rani Ramadhany), serta kedua orangtuanya (Pong Hardjatmo dan Ayu Dyah Pasha).

Untuk sebuah film yang berambisi untuk mengupas hubungan romansa dari dua sudut pandang yang berbeda, naskah cerita Mars Met Venus (Part Cewe) garapan Nataya Bagya, sayangnya, lebih sering terjebak dalam observasi mengenai berbagai tindakan stereotipe yang dilakukan oleh karakter pria atau karakiter wanita dalam sebuah hubungan percintaan daripada mencari sisi pengisahan yang lebih dramatis. Mulai dari karakter wanita yang digambarkan selalu benar dan tidak mau disalahkan, karakter pria yang selalu datang terlambat dalam sebuah janji atau karakter wanita yang tidak dapat menjalin hubungan baik dengan teman-teman dekat sang karakter pria. Tentu, gambaran-gambaran tersebut cukup mampu memberikan sentuhan komedi pada jalan cerita – dan mungkin akan berhasil memancing memori romansa penonton yang pernah mengalami hal yang sama. Namun, lemahnya penggalian maupun pengembangan cerita membuat karakter-karakter dalam jalan cerita film ini terasa menjadi begitu dangkal.

Selain cenderung mudah ditebak, di saat yang bersamaan, pengisahan yang hanya berfokus untuk “mengeksploitasi” berbagai karakteristik klise dari para pria dan wanita ketika terlibat dalam hubungan romansa membuat jalinan pengisahan Mars Met Venus (Part Cewe) lebih terasa sebagai kumpulan sketsa daripada sebuah pengisahan yang utuh. Akibatnya, aliran emosional pengisahan seringkali tidak berhasil tampil terlalu mengikat. Terlepas dari deretan kelemahan tersebut, Ratu harus diakui mampu mengemas pengisahan Mars Met Venus (Part Cewe) dengan cukup baik sehingga film ini setidaknya tidak pernah terasa berjalan monoton ataupun membosankan. Seandainya Mars Met Venus (Part Cewe) mampu diperkuat dengan naskah cerita yang memiliki struktur cerita yang lebih padat mungkin film ini akan hadir dengan kesan yang lebih istimewa.

Penceritaan Mars Met Venus (Part Cewe) juga berhasil diperkuat dengan performa akting para pengisi departemen aktingnya yang cukup memuaskan. Meskipun karakter-karakter yang mereka perankan hadir dengan penggalian karakter yang cukup klise, dan seringkali disajikan dengan penggambaran yang berlebihan, Pamungkas dan Bowie hadir dengan chemistry yang mampu membuat karakter yang mereka perankan dapat dengan mudah disukai. Penampilan Pamungkas dan Bowie juga seringkali mampu meningkatkan kedalaman emosional penceritaan. Penampilan tersebut juga mendapatkan dukungan yang solid dari para pemeran karakter-karakter pendukung seperti Ricis, Ramadhany hingga Reza Nangin. Walaupun karakter-karakter pendukung tersebut hanya tampil dalam batasan sidekick belaka namun kehadiran mereka mampu meningkatkan unsur hiburan dalam penceritaan film. [C]

mars-met-venus-part-cewe-movie-posterMars Met Venus (Part Cewe) (2017)

Directed by Hadrah Daeng Ratu Produced by Ferry ‘Garink’ Ardiyan Written by Nataya Bagya Starring Ge Pamungkas, Pamela Bowie, Ria Ricis, Rani Ramadhany, Reza Nangin, Ibob Tarigan, Steve Pattinama, Martin Anugrah, Fadi Iskandar, Pong Harjatmo, Ayu Dyah Pasha, Ovy Dian, Ajeng Suseno, Amanda Zevannya, Wisnu Adji Hidayat, Nurul Noor, Lukman Sardi Music by Ricky Lionardi Cinematography Gunung Nusa Pelita Editing by Yoga Krispratama Studio MNC Pictures Running time 98 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

One thought on “Review: Mars Met Venus (Part Cewe) (2017)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s