Review: Stip & Pensil (2017)


Stip & Pensil arahan Ardy Octaviand (3 Dara, 2015) berkisah mengenai empat orang pelajar Sekolah Menengah Atas, Toni (Ernest Prakasa), Aghi (Ardit Erwandha), Bubu (Tatjana Saphira) dan Saras (Indah Permatasari), yang dimusuhi oleh seisi warga sekolah karena dianggap sebagai sekelompok anak-anak dari kelas berada yang sering bertindak seenaknya dalam keseharian mereka. Suatu hari, Toni, Aghi, Bubu, Saras, dan teman-teman sekelasnya mendapatkan tugas untuk menuliskan esai tentang masalah sosial dari guru mereka, Pak Adam (Pandji Pragiwaksono). Tugas tersebut ditanggapi sangat serius oleh Toni yang menilai bahwa melalui tugas tersebut ia dan ketiga temannya dapat membuktikan bahwa mereka bukanlah sekelompok anak-anak kaya yang manja dan menyebalkan seperti anggapan banyak orang. Setelah pertemuan yang tidak disengaja dengan seorang anak jalanan bernama Ucok (Iqbal Sinchan), Toni dan teman-temannya memutuskan untuk menulis esai tentang pendidikan bagi anak-anak jalanan. Tidak hanya itu, mereka bahkan memiliki ide untuk membangun sebuah sekolah independen sekaligus menjadi pengajar bagi anak-anak jalanan tersebut. Niat yang mulia, tentu saja, namun tidak lantas dapat dijalankan dengan mudah akibat banyaknya tantangan yang harus mereka hadapi.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Joko Anwar (A Copy of My Mind, 2015), dan turut dibantu oleh Prakasa (Cek Toko Sebelah, 2016) dan Bene Raja Gukguk (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! – Part I, 2016), Stip & Pensil hadir dengan pengisahan yang cukup menyegarkan. Daripada berputar pada kisah asmara para remaja di bangku sekolah, Anwar menggarap cerita film ini sebagai sebuah satir tentang kesenjangan sosial – mulai dari gaya kehidupan yang begitu kontras antara golongan kaya dengan golongan miskin hingga perbedaan cara pandang dua kelompok tersebut terhadap politik, pemerintahan serta pendidikan. Isu yang jelas sangat relevan dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia (dan dunia) belakangan ini. Mereka yang telah khatam dengan gaya penceritaan Anwar jelas akan merasa familiar dengan kemampuan penulis naskah sekaligus sutradara pemenang Piala Citra tersebut dalam menyajikan komentar-komentar sosialnya – dengan balutan komedi yang begitu menggelitik namun tetap mampu menggigit secara mendalam dan sama sekali tidak pernah terkesan menggurui.

Bangunan naskah cerita Anwar sendiri hadir dengan penataan yang rapi. Setiap konflik mampu tersaji dan berkembang dengan baik. Begitu juga dengan karakter-karakter yang mengisi jalan cerita film. Perubahan sikap (baca: pendewasaan) dari masing-masing karakter dalam menyikapi konflik yang mereka hadapi dapat tersaji secara lancar. Penceritaan Stip & Pensil sayangnya menemui beberapa sandungan pada paruh akhir pengisahannya. Penceritaan yang berfokus secara konstan pada deretan konflik yang telah dibangun semenjak awal kemudian mendapatkan beberapa konflik baru yang terasa hadir secara tiba-tiba dan tanpa relevansi yang setara dengan konflik awal yang sedang berjalan. Penyelesaian konflik yang diberikan juga terkesan terlalu instan – dipicu oleh sebuah momen ayah dan anak yang tergarap begitu murahan dengan dramatisasi yang jauh dari kesan meyakinkan. Stip & Pensil yang terbangun rapi semenjak awal kemudian ditutup dengan penceritaan yang berkesan berantakan dan dipaksakan.

Terlepas dari penampilan fisik yang terlihat jauh lebih tua dari karakter yang mereka perankan (Yes, we’re especially looking at you, Prakasa and Adhitya Alkatiri), departemen akting Stip & Pensil secara keseluruhan hadir dengan kualitas penampilan yang memuaskan. Meskipun chemistry antara keempat karakter utama masih sering terasa hambar, Prakasa dan Saphira, khususnya, tampil cukup mengesankan. Dan meskipun hadir dengan porsi penceritaan yang serba terbatas, para pemeran pendukung bahkan seringkali hadir dengan penampilan yang mencuri perhatian. Pragiwaksono, Arie Kriting dan Gita Bhebita mampu mengeksekusi elemen komikal dalam penampilan mereka dengan meyakinkan. Begitu pula dengan aktor cilik Shincan yang sering mengundang tawa dalam penampilannya dan Yati Surachman yang membuktikan kehandalannya sebagai pemeran paling senior dalam jajaran pengisi departemen akting film ini. Secara keseluruhan, Stip & Pensil tampil dengan pengisahan yang menarik dan kuat. Paruh akhir yang mengalami penurunan kualitas penceritaan memang sedikit mengecewakan namun jelas tidak lantas membuat Stip & Pensil layak dilewatkan begitu saja. [C]

stip-dan-pensil-movie-posterStip & Pensil (2017)

Directed by Ardy Octaviand Produced by Manoj Punjabi Written by Joko Anwar (screenplay), Ernest Prakasa, Bene Raja Gukguk (additional screenplayStarring     Ernest Prakasa, Tatjana Saphira, Indah Permatasari, Ardit Erwandha, Arie Kriting, Rangga Azof, Gita Bhebhita, Adhitya Alkatiri, Iqbal Sinchan, Pandji Pragiwaksono, Tora Sudiro, Yati Surachman Music by Aghi Narottama Cinematography Ipung Rachmat Syaiful Edited by Aline Jusria Production company MD Pictures Running time 98 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s