Review: Beauty and the Beast (2017)


Film animasi produksi Walt Disney Pictures, Beauty and the Beast (Gary Trousdale, Kirk Wise, 1991), jelas merupakan salah satu film animasi terpopular sepanjang masa. Dengan jalinan cerita serta karakter-karakter yang kuat plus deretan lagu-lagu garapan Alan Menken dan Howard Ashman yang begitu memikat, film yang juga berhasil mencatatkan sejarah sebagai film animasi pertama yang mendapatkan nominasi Best Picture di ajang Academy Awards – bahkan disaat nominasi Best Picture hanya dapat diisi oleh lima film(!) – tersebut mampu menjadi film favorit banyak penikmat film dunia hingga saat ini. Dengan status tersebut, tidak mengherankan bila kemudian keputusan Walt Disney Pictures untuk memproduksi ulangbuat Beauty and the Beast dalam versi live action – seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya lewat Alice in Wonderland (Tim Burton, 2010), Maleficent (Robert Stromberg, 2014), Cinderella (Kenneth Brannagh, 2015) dan The Jungle Book (Jon Favreau, 2016) – menerima cukup banyak kritikan tajam dari beberapa pihak. Namun, Walt Disney Pictures juga tidak akan begitu saja merusak salah satu karya terbaik mereka. Kembali bekerjasama dengan Menken untuk mengkomposisi deretan musik yang mengiringi perjalanan cinta antara Si Cantik dan Si Buruk Rupa serta menempatkan Bill Condon (Dreamgirls, 2006) untuk duduk di kursi penyutradaraan, Walt Disney Pictures jelas berusaha keras agar filmnya mampu memiliki daya tarik yang sama kuat dengan film pendahulunya. Berhasil?

Dengan naskah cerita yang digarap oleh Stephen Chbosky (The Perks of Being a Wallflower, 2012) dan Evan Spiliotopoulos (The Huntsman: Winter’s War, 2016), versi live action dari Beauty and the Beast masih menggunakan garis besar pengisahan yang serupa dengan film animasinya. Setelah sang ayah, Maurice (Kevin Kline), ditahan oleh sesosok makhluk buas nan buruk rupa (Dan Stevens) di sebuah kastil yang terasing akibat mengambil setangkai bunga mawar di kastil tersebut, Belle (Emma Watson) akhirnya memilih untuk menggantikan posisi sang ayah sebagai tahanan bagi sang makhluk buruk rupa. Tanpa diketahui Belle, kastil tersebut ternyata merupakan sebuah tempat tinggal bagi seorang pangeran dan para pelayannya yang dikutuk oleh seorang penyihir (Hattie Morahan) akibat perlakuan buruk sang pangeran terhadap sang penyihir. Kutukan tersebut hanya akan berakhir jika sang pangeran mampu menemukan cinta sejatinya. Walau awalnya terlihat saling membenci satu sama lain, Belle dan sang makhluk buruk rupa secara perlahan mulai menemukan sisi lain dari kepribadian masing-masing. Sebuah sisi dari kepribadian yang mampu membuat keduanya saling jatuh hati. Namun, apakah kedekatan tersebut akan berhasil meruntuhkan kutukan yang selama ini merantai kehidupan sang pangeran?

Segala keraguan mengenai kemampuan Condon untuk dapat mengarahkan sebuah sajian Beauty and the Beast yang setidaknya mampu mendekati kualitas film animasinya yang legendaris itu jelas akan sirna ketika Condon berhasil menyajikan sajian musikal pertama film, Belle, dengan begitu mempesona. Meskipun masih berpegang teguh dengan alur kisah klasiknya, naskah cerita Beauty and the Beast versi teranyar ini memberikan ruang eksplorasi tersendiri terhadap beberapa sudut pengisahan – seperti penambahan latar belakang kisah kepada beberapa karakter, perubahan dan penajaman karakterisasi tokoh sekaligus perluasan konflik cerita yang disajikan. Hasilnya, tidak hanya Beauty and the Beast mampu tampil dengan daya tarik yang dahulu dimiliki oleh film animasinya, versi teranyar ini juga berhasil beradaptasi dengan kondisi sosial dan budaya penikmat film era sekarang yang membuatnya akan mudah untuk mendapatkan barisan penggemar baru. Harus diakui, jika dibandingkan dengan film-film ulangbuat live action produksi Walt Disney Pictures sebelumnya, naskah cerita garapan Chbosky dan Spiliotopoulos mampu membuat Beauty and the Beast tampil lebih cerdas.

Seperti yang ia tampilkan dalam Dreamgirls, Condon menggarap elemen drama dan musikal Beauty and the Beast dengan begitu lugas. Setiap produksi musikal dalam film ini berhasil dihadirkan dengan penuh kemewahan dan detil produksi yang sangat mengagumkan. Bahkan mereka yang bukan pecinta musikal jelas juga akan kesulitan menolak daya tarik dari lagu-lagu klasik Beauty and the Beast seperti Belle, Gaston, Beauty and the Beast, Be Our Guest, Something There atau lagu-lagu baru seperti How Does a Moment Last Forever, Evermore dan Days in the Sun yang digarap khusus untuk versi terbaru film ini. Perpaduan antara elemen drama dan musikal film juga mampu disajikan dengan mulus. Condon mampu memilihkan ritme penceritaan yang tepat sehingga Beauty and the Beast tidak pernah terasa berjalan dengan lamban ataupun bertele-tele di sepanjang 129 menit durasi pengisahannya. Departemen produksi film juga dihadirkan secara berkelas. Mulai dari tata kamera, departemen artistik yang menghadirkan tata busana dan rias yang meyakinkan hingga penataan musik dan suara berhasil menunjukkan bahwa Condon telah mempersiapkan Beauty and the Beast-nya dengan konsep yang begitu matang untuk kemudian mengeksekusinya dengan sempurna.

Keberhasilan Beauty and the Beast juga disokong penuh oleh penampilan kuat para jajaran pengisi departemen aktingnya. Pada barisan pemeran pendukung, film ini mendapatkan dukungan solid dari nama-nama seperti Ewan McGregor, Ian McKellen, Emma Thompson, Stanley Tucci, Audra McDonald dan Gugu Mbatha-Raw yang meskipun hanya hadir lewat presentasi vokal mereka namun mampu menampilan barisan warna emosi yang begitu memikat. Watson dan Stevens yang berperan sebagai pasangan legendaris, Belle dan the Beast, jelas juga tidak tampil mengecewakan. Chemistry mereka hadir begitu meyakinkan dan terasa hangat satu sama lain. Begitu pula dengan penampilan pendukung lain seperti Kline, Luke Evans dan Josh Gad (yang begitu mencuri perhatian!) yang membuat tiap menit perjalanan Beauty and the Beast terasa begitu menyenangkan. Plus, seluruh pemeran film memiliki vokal yang cukup mengesankan yang membuat lagu-lagu yang mereka nyanyikan dalam film ini dapat didengarkan bahkan lama setelah penonton menyaksikan filmnya. Dengan berbagai pencapaian tersebut, Condon berhasil mengemas Beauty and the Beast menjadi sebuah sajian musikal yang tergarap dengan megah dan kuat sekaligus mampu berdiri tegak sejajar dengan film animasi pendahulunya. An instant classic. [A-]

beauty-and-the-beast-emma-watson-dan-stevens-movie-posterBeauty and the Beast (2017)

Directed by Bill Condon Produced by David Hoberman, Todd Lieberman Written by  Stephen Chbosky, Evan Spiliotopoulos (screenplay), Jeanne-Marie Leprince de Beaumont (story, La Belle et la BêteStarring Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Kevin Kline, Josh Gad, Ewan McGregor, Stanley Tucci, Ian McKellen, Emma Thompson, Audra McDonald, Gugu Mbatha-Raw, Nathan Mack, Adrian Schiller, Hattie Morahan, Gerard Horan, Ray Fearon, Zoe Rainey, Henry Garrett, Harriet Jones, Daisy Duczmal, Rudi Goodman, Jolyon Coy Music by Alan Menken Cinematography Tobias Schliessler Edited by Virginia Katz Production company Walt Disney Pictures/Mandeville Films Running time 129 minutes Country United States Language English

Advertisements

3 thoughts on “Review: Beauty and the Beast (2017)”

  1. Menurut gw ni film borrriiiing , pas nonton rasanya pgn di skip tiap adegan dah kebaca, kalah jauh deh klo dibanding la la land

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s