Review: 23:59 Sebelum… (2013)


23-59-sebelum-header

23:59 Sebelum… merupakan sebuah karya perdana dari gerakan Underdog Kick Ass yang dimotori oleh sutradara film Indonesia veteran, Rudi Soedjarwo. Seperti yang tertera dalam situs resmi mereka, gerakan ini dimaksudkan untuk dapat memberikan kesempatan seluas mungkin bagi seluruh lapisan masyarakat agar dapat membuat atau tampil berakting dalam sebuah film – tanpa mempedulikan latar belakang maupun penampilan fisik mereka. Dengan menjadi anggota gerakan ini, Rudi dan timnya kemudian memberikan pelatihan sekali dalam seminggu dalam bidang pemeranan, penulisan naskah cerita film serta penyutradaraan sebelum akhirnya seluruh anggota gerakan tersebut dilibatkan dalam produksi sebuah film. Lalu… bagaimana dengan pencapaian kualitas Underdog Kick Ass dalam film perdana mereka?

Sulit untuk dapat mendeskripsikan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh 23:59 Sebelum…. Dalam sinopsis resminya, film ini digambarkan sebagai sebuah film yang bercerita mengenai “48 karakter yang memasuki fase 23 jam 59 menit sebelum menemui kejadian penting dalam kehidupan mereka.” Dan kemudian film ini dimulai. Penonton akan diberikan sebuah kisah pendek mengenai seorang remaja yang berusaha keras melatih kemampuan aktingnya demi mengikuti sebuah audisi. Kemudian juga ada kisah mengenai pasangan kakak dan adik yang saling bertengkar karena perbedaan prinsip hidup mereka. Lalu kisah seorang pria yang berniat untuk melamar kekasihnya yang begitu ia cintai. Dilanjutkan lagi dengan kisah seorang ibu beserta dua orang anaknya yang berusaha untuk memulai kehidupan baru setelah sang suami dijebloskan ke penjara akibat kasus korupsi. Dan kemudian ada… Lalu dilanjutkan dengan… Ditambah lagi… Dan berikutnya… Dan berikutnya… 23:59 Sebelum… rasanya akan lebih tepat digambarkan sebagai sebuah film yang berisi 48 cerita di sepanjang 114 menit durasi pengisahannya.

Well… jika tujuan utama dari Underdog Kick Ass adalah membuktikan bahwa setiap orang – bahkan mereka yang sama sekali tidak memiliki penampilan fisik yang cukup memadai – mampu berakting dalam sebuah film, maka 23:59 Sebelum… harus diakui cukup layak untuk menjadi sebuah pembuktian. Tentu, penonton masih belum dapat menemukan the next Reza Rahadian ataupun Atiqah Hasiholan dalam film ini. Beberapa pemeran bahkan masih terlihat kaku serta dangkal dalam menterjemahkan emosi dari karakter yang mereka perankan. Namun, secara keseluruhan, para anggota Underdog Kick Ass mampu membuktikan bahwa mereka memiliki modal kemampuan akting yang cukup untuk dapat menaklukkan industri film Indonesia di masa yang akan datang.

Sayangnya… sisi akting mungkin hanyalah satu-satunya elemen yang dapat diberikan nilai positif dalam presentasi keseluruhan 23:59 Sebelum…. Seperti yang tergambar dalam sinopsis di atas, naskah cerita film ini sepertinya sama sekali tidak tahu mengenai apa yang sebenarnya ingin disampaikannya pada penonton. Ditulis sendiri oleh anggota gerakan Underdog Kick Ass, 23:59 Sebelum terdiri dari (sangat!) banyak cerita yang sama sekali belum terolah dengan baik. Setiap cerita hadir dalam durasi dan penggalian cerita yang begitu minimalis sehingga penonton akan dihadapkan pada momen-momen membingungkan untuk mengenal setiap cerita maupun karakter yang dihadirkan ke hadapan mereka. Sangat buruk!

Tidak hanya buruk dari segi penulisan naskah. Eksekusi film ini juga hadir dalam kualitas yang membuat 23:59 Sebelum sangat sulit untuk disebut sebagai sebuah film. Dengan pengarahan dari Erry Petrucci, Syahril Ismanto dan (lagi-lagi) tim gerakan Underdog KickAss, setiap cerita pendek dalam 23:59 Sebelum… kemudian dieksekusi dalam kualitas pengarahan seadanya untuk kemudian dipadatkan menjadi satu sajian berdurasi 114 menit dengan tata penyuntingan gambar yang juga terasa begitu menyedihkan. 23:59 Sebelum… mungkin berusaha terlihat cerdas dan kompleks dengan membaurkan satu alur cerita dengan cerita lainya. Namun, dengan penulisan cerita yang begitu dangkal dan tata penyuntingan gambar yang sangat buruk, 23:59 Sebelum… terasa begitu melelahkan untuk diikuti. Ini masih ditambah dengan tata gambar dan suara yang terasa begitu kasar dan membuat film ini semakin tidak nyaman untuk disaksikan.

Anton Ego, seorang karakter di film Ratatouille (2007) yang digambarkan sebagai seorang kritikus masakan, begitu menentang prinsip yang dimliki oleh karakter Chef Auguste Gusteau yang berpendapat bahwa, “Anyone can cook!” Anton Ego tetap mempertahankan cara pandangnya bahwa tidak semua orang dapat memasak dan menghasilkan masakan yang enak… hingga akhirnya ia menikmati sebuah hasil masakan yang begitu enaknya sehingga mampu membawa kembali berbagai kenangan manis mengenai masa kecilnya. Betapa terkejutnya Anton Ego ketika ia kemudian menyadari bahwa masakan yang baru ia nikmati dihasilkan oleh sosok yang sama sekali tidak akan pernah ia kira mampu memasak apalagi menyajikan masakan seenak itu. Dalam tulisannya, Anton Ego mengakui kebenaran cara pandang Chef Auguste Gusteau dan mengungkapkan bahwa, “Not everyone can become a great artist, but a great artist can come from anywhere.”

Menyaksikan 23:59 Sebelum…, sebuah film yang menjadi debut penampilan para anggota gerakan Underdog Kick Ass yang dikepalai oleh Rudi Soedjarwo, sedikit banyak akan mengingatkan penontonnya akan pertentangan prinsip antara karakter Anton Ego dan Chef Auguste Gusteau di film karya produksi Pixar Animation Studios tersebut. 23:59 Sebelum… dan Underdog Kick Ass jelas ingin membuktikan bahwa a great artist can come from anywhere. Dan mungkin, dengan kemampuan akting setiap anggota gerakan ini yang mulai terlatih, mereka cukup mampu membuktikan pernyataan tersebut. Namun, sebuah film jelas tidak hanya didukung oleh kemampuan akting para pemerannya belaka. Ada banyak faktor lain dan jelas sama esensialnya yang mendukung kualitas akhir presentasi sebuah film. 23:59 Sebelum… terkesan melupakan begitu saja elemen-elemen lain sebuah film di luar dari kemampuan berakting. Penceritaan film ini jelas berada dalam tingkatan yang begitu buruk. Sama buruknya dengan kemampuan para sutradara dalam mengarahkan setiap cerita di film ini maupun tata penyuntingan gambar yang dengan seenak hati memporak-porandakan alur cerita film. Underdog Kick Ass jelas adalah sebuah gerakan yang cukup berani. Namun, dengan kualitas buruk yang ditampilkan 23:59 Sebelum…, jelas para anggota gerakan ini masih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuktikan kemampuan diri mereka.

popcorn popcorn3 popcorn2popcorn2popcorn2

23:59 Sebelum... (Visualika Underdog Kick Ass/PT Bumi Prasidhi Bi-Epsi, 2013)
23:59 Sebelum… (Visualika Underdog Kick Ass/PT Bumi Prasidhi Bi-Epsi, 2013)

23:59 Sebelum… (2013)

Directed by Erry Petrucci, Syahril Ismanto, Underdog Kick Ass Produced by Wahyudi, Tyas Abiyoga Written by Underdog Kick Ass Starring Underdog Kick Ass Music by Aghi Narottama, Daniel Clift, Eddie Setiawan Cinematography Oghie Hameh, Erry Petrucci Editing by Almar AS Studio Visualika Underdog Kick Ass/PT Bumi Prasidhi Bi-Epsi Running time 114 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

One thought on “Review: 23:59 Sebelum… (2013)”

  1. Kalau menurut saya sih justru dalam film ini memang sengaja ditekankan bahwa setiap orang bisa main film selama dia punya passion dan semangat untuk mau belajar. Saya yakin filmnya senjaga dibuat seperti ini, film dengan tema yang bisa dibilang SINTING dan UNIK, biar penontonnya mikir sendiri, sama seperti slogan UNDERDOG KICKASS: “Cara Sinting Belajar Akting”. Ini memang tidak bisa dibilang film yg sempurna krn katanya krunya sedikit, tp ini sudah hebat. Perlu diingat, Rudi Soedjarwo memiliki idealis yang tinggi, dan mungkin dia akan “sedikit masa bodo” dengan komentar org lain, krn mungkin tujuan utama film yg ini adalah seperti yg sudah saya sebut: SEMUA ORANG BISA AKTING KALAU ADA KEMAUAN. Tentu saja akan terus ada perkembangan, toh film Underdog Kickass ga hanya ini saja, masih ada film yang lainnya yg katanya sih akan dibuat lebih baik lagi dan lebih NYELENEH, dan tentu saja terkonsep. Jadi ya itu komentar dari saya. Salam perfilman Indonesia!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s