Review: Berlian Si Etty (2013)


berlian-si-etty-header

Terkadang, dengan formula pengolahan yang tepat, sebuah jalan cerita yang mungkin terkesan sederhana dan begitu klise akan tetap mampu bekerja secara efektif kepada para penontonnya – bahkan dengan tanpa mengharapkan konflik cerita yang kompleks, tampilan tata visual maupun produksi yang megah maupun mewah atau penampilan para pemeran yang begitu dramatis. Film drama Berlian Si Etty yang menjadi debut penyutradaraan layar lebar bagi Dimas Adi Pratama ini mungkin adalah satu dari sedikit film Indonesia yang dapat melakukan hal tersebut. Jangan salah! Berlian Si Etty bukanlah sebuah film yang hadir tanpa kelemahan di sepanjang 97 menit durasi presentasinya. Pun begitu, film ini tetap mampu tampil memikat dalam segala kesederhanaan dan kelemahannya berkat sentuhan cerita yang terasa begitu humanis sekaligus mudah untuk dinikmati.

Kejujuran, kesetiaan serta usaha keras mungkin adalah tiga tema cerita yang ingin diusung oleh penulis naskah Lela Mukhtar dalam jalan penceritaan Berlian Si Etty. Filmnya sendiri mengisahkan mengenai seorang gadis asal Bandung bernama Nurbaeti – atau yang dalam kesehariannya lebih memilih untuk dipanggil sebagai Etty (Fitri Tropica) yang semenjak kecil telah dikenal sebagai sosok yang gemar bekerja keras. Berkat bekal kerja keras serta kejujurannya, Etty yang kini bekerja sebagai seorang pemasar di sebuah perusahaan, kemudian mendapatkan promosi jabatan untuk bekerja di Jakarta. Jelas sebuah kesempatan yang telah lama dinanti-nantikan oleh Etty dan tidak akan ia lewatkan begitu saja.

Usaha Etty untuk meraih mimpinya bekerja di Jakarta tersebut bukannya berjalan tanpa hambatan. Orangtuanya tidak mengizinkan Etty untuk bekerja di luar kota… kecuali jika Etty telah menikah. Untunglah Etty memiliki Ricky (Yogi Finanda), sahabatnya yang selama ini ternyata telah memendam perasaan cinta kepada gadis tersebut. Mendengar permasalahan Etty, Ricky lalu menyanggupi untuk menikahi Etty. Segera setelah pernikahan berlangsung, Etty dan Ricky pun pindah ke Jakarta untuk memulai keluarga baru mereka. Namun, tentu saja, mimpi untuk tinggal dan bahagia di Jakarta tidaklah semudah yang dibayangkan. Etty dan Ricky kemudian harus berusaha keras agar mereka mampu tetap bertahan sekaligus memberikan rasa bangga kepada orangtua mereka di kampung halaman.

Sejujurnya, sama sekali tidak ada yang istimewa dalam Berlian Si Etty. Jalan ceritanya yang sederhana tersebut seringkali terlihat bagai deretan kisah yang berniat untuk memberikan motivasi kehidupan kepada para penontonnya. Dan sialnya… eksekusi Dimas Adi Pratama mampu melakukan hal tersebut! Meskipun pengarahan Dimas masih terasa lemah di beberapa bagian – alur penceritaan yang masih terasa kasar hingga potongan-potongan plot kisah yang kurang mampu berpadu dengan baik satu sama lain – namun Dimas tetap mampu membuat penceritaan Berlian Si Etty berjalan demikian lancar dan dengan mudah menjangkau setiap sisi humanis ceritanya tanpa pernah terlihat berusaha keras untuk menjadikannya sebagai sebuah sajian yang menyentuh. Disinilah letak kekuatan utama Berlian Si Etty: penonton tidak pernah merasa terpaksa untuk merasa tersentuh dengan jalan cerita maupun karakter-karakter yang ada di dalamnya namun perasaan tersebut mengalir dengan sendirinya akibat presentasi cerita yang tidak pernah terasa mengada-ada.

Berlian Si Etty jelas akan mampu bekerja lebih baik lagi seandainya film ini mampu mendapatkan eksekusi yang lebih tegas di beberapa bagian presentasinya. Walau setiap jajaran pemeran mampu memberikan penampilan yang tidak mengecewakan, adalah sangat mengenaskan untuk menyaksikan chemistry antara Fitri Tropica dan Yogi Finanda yang berperan sebagai pasangan suami istri hampir tidak dapat dirasakan keberadaannya. Beberapa karakter dan plot cerita juga terasa kurang begitu esensial untuk dihadirkan. Mungkin ada baiknya jika bagian-bagian tersebut disingkirkan dan Berlian Si Etty lebih memfokuskan diri pada kisah utamanya. Kualitas tata produksi juga berjalan seimbang dengan kualitas penceritaan film: sederhana dan tidak pernah terasa berlebihan dalam penampilannya.

Di tengah-tengah gempuran film-film drama Indonesia yang seringkali tampil terlalu berlebihan dalam mendramatisir jalan ceritanya guna mendapatkan efek sentimental murahan, jelas adalah sangat menyenangkan untuk melihat presentasi Berlian Si Etty yang sederhana namun mampu digarap secara meyakinkan. Beberapa kelemahan yang hadir dalam film ini memang sedikit banyak akan mempengaruhi kualitas film ini secara keseluruhan. Pun begitu, kemampuan Dimas Adi Pratama dalam menghadirkan jalan cerita yang berhasil mengalir dengan lancar dan kemudian bekerja efektif secara emosional rasanya akan mampu menutupi kelemahan-kelemahan tersebut. Sebuah presentasi perdana yang cukup memuaskan.

popcornpopcornpopcorn popcorn2popcorn2

Berlian Si Etty (Motekkar Image Presentation, 2013)
Berlian Si Etty (Motekkar Image Presentation, 2013)

Berlian Si Etty (2013)

Directed by Dimas Adi Pratama Produced by Lela Mukhtar, Dimas Adi Pratama, Farah Aulia Written by Lela Mukhtar Starring Fitri Tropica, Yogi Finanda, Echie Dwi Asih, Denny Sumargo, Shalvynne Chang, Donna Harun, Ikke Nurjanah Music by Ari Irawan, Roni Sutanzah Cinematography Dody Amaya Editing by Yogi Krispratama Studio Motekkar Image Presentation Running time 97 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s