Review: Dredd (2012)


Dredd bukanlah film pertama yang mengadaptasi kisah dari salah satu karakter komik buatan Inggris yang paling popular semenjak mulai diperkenalkan pada tahun 1977 ini. Hollywood sebelumnya pernah merilis Judge Dredd pada tahun 1995 dengan Sylvester Stallone, Diane Lane dan Max von Sydow sebagai bintang utamanya – walau film tersebut kemudian banyak mendapatkan kritikan tajam dari para kritikus film dunia. Proses produksi versi terbaru dari Dredd sendiri – yang bukan merupakan versi remake dari film pertama – telah dimulai semenjak tahun 2006 ketika naskah ceritanya mulai ditulis oleh Alex Garland (Never Let Me Go, 2010). Namun, proses produksi sebenarnya dari Dredd sendiri baru dimulai pada tahun 2010 ketika Pete Travis (Vantage Point, 2008) diumumkan akan duduk di kursi penyutradaraan hingga akhirnya proses pengambilan gambar dimulai pada akhir tahun itu juga.

Jalan cerita Dredd sendiri berlatar belakang lokasi di Amerika Serikat pada masa yang akan datang. Amerika Serikat pada saat itu dikenal sebagai Cursed Earth yang disebabkan oleh kondisi kacaunya akibat efek radiasi yang begitu kuat. Di pesisir timur dari wilayah Amerika Utara terletak Mega-City One, sebuah kota metropolis dengan jumlah penduduk yang mencapai hampir 800 juta orang. Kondisi di Mega-City One sendiri tidak lebih baik dari kebanyakan wilayah di Amerika Serikat lainnya: sebanyak 17 ribu kejahatan dilaporkan setiap harinya dan obat-obatan terlarang dapat beredar dengan bebas – salah satu yang populer adalah “Slo-Mo” yang membuat persepsi penggunanya berjalan lebih lamban dari kondisi normal.

Harapan penegakan hukum satu-satunya berada pada petugas penegak hukum yang dikenal dengan sebutan Judge. Dalam setiap aksinya, setiap Judge dapat berlaku sebagai hakim, juri maupun pengeksekusi pelaku tindak kejahatan. Diantara para Judge lainnya, Judge Dredd (Karl Urban) adalah salah satu Judge yang paling dikenal akibat kemampuannya yang handal dalam menangani setiap masalah kejahatan. Namun, Judge Dredd akan segera menghadapi tantangan terberatnya. Ketika ditugaskan untuk mengawasi seorang calon Judge baru, Judge Anderson (Olivia Thirlby), Judge Dredd kemudian terjebak dalam gedung Peach Trees yang memiliki ketinggian 200 lantai. Di gedung tersebut, Dredd harus menghadapi seorang produsen dan pengedar obat-obatan terlarang, Madeline Madrigal atau Ma-Ma (Lena Headey), yang menguasai gedung tersebut. Merasa kehadiran Judge Dredd dan Judge Anderson sebagai sebuah ancaman, Ma-Ma lalu menutup gedung tersebut dan menugaskan kaki tangannya yang berada  di setiap lantai untuk melenyapkan nyawa kedua Judge tersebut.

Tantangan terbesar dari mengarahkan sebuah jalan cerita yang pada dasarnya mengisahkan mengenai perjalanan dua karakter utamanya menembus pertahanan sebuah gembong kejahatan yang berada di sebuah gedung untuk menuju lantai paling atas dan menghadapi sang pemimpin utama jelas adalah untuk tidak membuat perjalanan kedua karakter terkesan sebagai deretan adegan yang terus berulang-ulang di setiap tingkatannya. Untungnya, naskah cerita arahan Alex Garland mampu memberikan kualitas tersebut. Daripada hanya berfokus pada perjalanan kedua karakter utamanya dalam menghadapi deretan penjahat yang siap untuk membunuh mereka, Garland kemudian mengembangkan begitu banyak intrik diantara perjalanan tersebut: dimulai dari tumbuh dan berkembangnya hubungan antara kedua karakter, perbedaan cara pandang hukum antara kedua karakter utama, pergolakan jiwa yang dialami oleh karakter Judge Anderson yang baru pertama kali berada di sebuah lokasi kejahatan dan harus menggunakan senjata, berbagai isu sosial dan politik yang coba diselipkan di dalam jalan cerita film hingga penggambaran mengenai bagaimana masa lalu dari karakter antagonis utama film ini, Ma-Ma.

Tidak hanya memiliki jalan penceritaan yang dipenuhi dengan intrik menarik, Garland juga berhasil mengembangkan deretan karakter yang mengisi jalan cerita Dredd dengan baik. Karakter-karakter tersebut tidak hanya terlihat sebagai deretan karakter yang berusaha untuk menyelamatkan nyawa maupun posisi mereka, namun Garland mampu mengembangkannya menjadi karakter yang memiliki begitu banyak sisi humanis yang menambah warna alur penceritaan Dredd. Jajaran pengisi departemen akting film ini juga berhasil menghidupkan karakter-karakter tersebut dengan sempurna. Karl Urban – walau menghabiskan seluruh durasi film dengan menyembunyikan wajahnya dibalik helm yang dikenakan oleh karakter Judge Dredd – tidak sama sekali membuat karakternya kekurangan kharisma. Urban mampu menjadikan karakter Judge Dredd tampil kuat serta tegas dalam bersikap.

Olivia Thirlby juga mampu menjadikan karakter Judge Anderson sebagai sidekick yang sempurna bagi Judge Dredd. Berbeda dengan Judge Dredd yang melihat segala sisi hukum dari warna hitam dan putih, Judge Anderson digambarkan sebagai sosok karakter yang mampu melihat sisi abu-abu dalam karakter dan pemikiran seseorang. Thirlby dengan begitu baik mampu menghidupkan karakterisasi tersebut. Sementara itu, Lena Headey mampu menghadirkan karakter Ma-Ma sebagai sosok wanita antagonis yang begitu mematikan. Namun, tidak hanya menjadikan karakter tersebut sebagai sosok karakter penjahat yang hanya peduli soal tahta dan kekuasaannya, Headey mampu menghadirkan sisi humanis dari karakter tersebut pada penonton dan membuat karakter Ma-Ma hadir lebih berisi dan hidup.

Tidak sekedar berisi dari penyajian cerita, karakter maupun penampilan kualitas departemen akting, Pete Travis mampu membungkus Dredd dengan penampilan kualitas tata produksi yang handal. Dari segi visual, Travis mampu menghadirkan imej kekerasan yang begitu kuat melalui tampilan visual film ini. Deretan adegan yang dihadirkan dalam gerakan slow motion juga semakin mempertegas nuansa kekerasan dan kekelaman jalan cerita Dredd. Tata musik elektronik arahan Paul Leonard-Morgan juga menjadi salah satu kualitas unik tersendiri dari Dredd. Iringan musik Leonard-Morgan mampu menambah kualitas kedalaman emosional pada banyak adegan dan membuatnya menjadi lebih menegangkan.

Jelas adalah sangat menyenangkan untuk menyaksikan sebuah film aksi yang tidak melulu menyajikan deretan adegan bela diri maupun kekerasan secara berlebihan dalam jalan ceritanya namun juga benar-benar mampu menghadirkan sebuah jalan cerita serta karakterisasi yang kuat bagi penontonnya. Walau beberapa momen di bagian pertengahan penceritaan Dredd terasa sedikit kehilangan fokusnya, namun secara keseluruhan duet sutradara Pete Travis dan penulis naskah Alex Garland mampu menghadirkan Dredd sebagai sebuah film aksi yang benar-benar jauh dari kesan dangkal namun tetap berhasil memberikan elemen hiburan yang kuat bagi penontonnya.

Dredd (DNA Films/IM Global/Reliance Big Entertainment, 2012)

Dredd (2012)

Directed by Pete Travis Produced by Alex Garland, Andrew Macdonald, Allon Reich Written by Alex Garland (screenplay), John Wagner, Carlos Ezquerra (comics, Judge Dredd) Starring Karl Urban, Olivia Thirlby, Lena Headey, Wood Harris, Domhnall Gleeson, Warrick Grier, Langley Kirkwood, Edwin Perry, Karl Thaning, Michele Levin, Junior Singo, Luke Tyler, Jason Cope, Joe Vaz, Scott Sparrow, Francis Chouler, Rakie Ayola, Deobia Oparei, Daniel Hadebe Music by Paul Leonard-Morgan Cinematography Anthony Dod Mantle Editing by Mark Eckersley Studio DNA Films/IM Global/Reliance Big Entertainment Running time 95 minutes Country United States Language English

Advertisements

2 thoughts on “Review: Dredd (2012)”

  1. salam..
    ane dah liat trailernya dan ane juga baca review dari agan.ane rasa ni film mirip sama the raid.cuman bedanya jaman,setting dan grafisnya(di film ni lebih keren ).karna intinya sama-sama memberantas kejahatan (narkoba).apalagi mereka harus terperangkap di gedung tersebut dan harus naik keatas menangkap bosnya.
    over all.. mantaplah.

  2. Film ini bnyk mengandung unsur kekerasan dan darah gan, bahkan ada yg dislow motion. Menurut saya tiap film yang direview disertai dengan rating supaya pembaca tahu lebih dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s