Review: Gerimis Mengundang (2012)


Bagi masyarakat Indonesia, Gerimis Mengundang akan selamanya terdengar familiar sebagai sebuah judul lagu dari kelompok musik asal Malaysia bernama Slam yang pernah populer ketika dirilis pada sekitar tahun 1996. Ingin mengadaptasi kepopuleran luar biasa lagu tersebut, produser film asal negara Malaysia, Datuk Md. Afendi Hj. Hamdan, lalu membuat sebuah pentas teater musikal yang menggunakan judul lagu tersebut dan dibintangi oleh duet pasangan aktor dan aktris yang berasal dari dua negara, Kamal Adli yang berasal dari Malaysia serta Mikha Tambayong yang berasal dari Indonesia. Pementasan tersebut ternyata mendapat respon positif dari media dan masyarakat Malaysia… yang kemudian semakin membuka kesempatan untuk sebuah bentuk adaptasi kisah lainnya.

Tak lama setelah pementasan teater musikal tersebut, ide untuk mengadaptasi Gerimis Mengundang menjadi sebuah film layar lebar – dalam bentuk kerjasama antara industri film Malaysia dengan industri film Indonesia – pun tercetus. Jalan cerita Gerimis Mengundang sendiri memang mengisahkan hubungan kisah kasih yang terjalin antara dua karakter yang berasal dari dua negara tersebut. Alkisah, Zamani (Kamal Adli) merupakan seorang pilot yang ketika sedang berliburan, hampir saja mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh perahu motor yang dikendarai Mikha (Olivia Jensen – yang menggantikan Mikha Tambayong) ketika ia sedang menyelam. Ketidakpedulian Mikha akan hal tersebut semakin menambah rasa amarah Zamani.

Garisan takdir ternyata kemudian mempertemukan Zamani kembali dengan Mikha ketika Zamani ditugaskan untuk mengawal Mikha bersama keluarganya selama keberadaan mereka di Malaysia. Sikap Zamani yang terus menerus sinis kepada Mikha jelas saja menimbulkan pertanyaan bagi gadis asal Jakarta tersebut. Walau begitu, secara perlahan setelah Mikha berusaha meminta maaf, hubungan antara Zamani dan Mikha mulai mengalir dengan baik. Zamani mulai membuka hatinya terhadap Mikha dan Mikha dengan senang hati selalu menerima kehadiran Zamani. Sayang, perjalanan cinta mereka tidak lantas berjalan lancar begitu saja. Beberapa rintangan siap untuk mencoba memisahkan keduanya.

Gerimis Mengundang jelas bukan kali pertama industri film Malaysia bekerjasama dengan industri film negara tetangganya, Indonesia. Sayangnya, berdasarkan kualitas, film-film hasil kerjasama tersebut – seperti Cintaku Forever (2007), Diva (2007) atau Sayang You Can Dance (2009) – lebih sering berstatus menyedihkan daripada membanggakan. Kesalahan utama film-film tersebut terletak pada penulisan naskahnya yang benar-benar lemah dan cenderung klise – jika tidak mau disebut sebagai tiruan murahan dari kebanyakan sinema elektronik maupun film-film drama produksi Indonesia. Nasib yang sama juga dialami oleh Gerimis Mengundang.

Ditulis oleh Azwar Annuar, naskah cerita Gerimis Mengundang sama sekali tidak mampu menawarkan kedalaman jalan cerita maupun penggalian karakter yang mumpuni. Semua unsur penceritaan dalam Gerimis Mengundang berjalan dengan  begitu mudah ditebak karena, sekali lagi, menggunakan berbagai unsur klise yang telah banyak digunakan jalan cerita sinema elektronik maupun film-film (berkualitas kurang menyenangkan) produksi Indonesia. Kualitas yang sama juga didapat penonton dari penampilan teknis film ini, mulai dari tata editing, sinematografi maupun musiknya berada dalam kapasitas yang pas-pasan jika tidak mau disebut menyedihkan.

Dari departemen akting, Kamal Adli dan Olivia Jensen telah memberikan penampilan terbaik atas karakter terbatas yang mereka perankan. Tidak banyak yang dapat dilakukan, namun penampilan keduanya setidaknya harus diakui tidak mengecewakan. Apalagi jika dibandingkan dengan penampilan para pemeran pendukung film ini yang begitu terlihat seperti sekumpulan orang yang untuk pertama kalinya mengenal apa yang disebut dengan berakting dalam sebuah film. Diisi dengan begitu banyak momen-momen penuh dengan penampilan yang kaku dan sama sekali tidak meyakinkan.

Industri film Malaysia jelas bukanlah diisi dengan orang-orang yang sama sekali tidak mengetahui dengan baik mengenai dunia film dan bagaimana cara untuk menghasilkan sebuah film yang layak tonton. Namun, kesimpulan yang berseberangan jelas akan muncul berdasarkan kualitas film-film rilisan Malaysia yang menyertakan beberapa bintang film Indonesia dan kemudian dirilis di negara ini. Gerimis Mengundang juga bukanlah sebuah film yang akan merubah pandangan tersebut. Naskah cerita yang klise serta tanpa kehadiran pembangunan cerita dan karakter yang mumpuni membuat film arahan Ahmad Idham ini begitu menyengsarakan dalam perjalanan durasi filmnya yang sepanjang 103 menit itu.


Gerimis Mengundang (Erama Creative Sdn .Bhd., Wanna B Pictures, 2012)

Gerimis Mengundang (2012)

Directed by Ahmad Idham Produced by Datuk Md. Afendi Hj. Hamdan Written by Azwar Annuar Starring Kamal Adli, Olivia Jensen, Felix Agus, Henny Yuliani, Denny Martin, Dhitra Marfie, Ag. Karim Kadir, Dg. Hasnah Ibrahim, Wangi, Pierre Andre, Yovie, Cat Faresh, Azwar Annuar,  Azlan Kami, Ebi Kornelis, Eizlan Yusof Music by Jasnie Yaakub, Yovie Widianto Cinematography Khalid Zakaria Editing by Shamsul Zain Studio Erama Creative Sdn .Bhd., Wanna B Pictures Running time 103 minutes Country Malaysia, Indonesia Language Malaysian, Indonesian

Advertisements

2 thoughts on “Review: Gerimis Mengundang (2012)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s