Review: Underworld: Awakening (2012)


Setelah sempat menyatakan tidak tertarik untuk kembali memerankan karakter Selene dalam kelanjutan franchise Underworld – yang membuat para produser Underworld kemudian memutar otak dan memilih untuk membuat sebuah prekuel dari kisah Underworld, Underworld: Rise of the Lycans (2009), dengan Rhona Mitra sebagai bintang utamanya – Kate Beckinsale kembali memerankan karakter Selene dalam kelanjutan kisah franchise Underworld, Underworld: Awakening. Kehadiran Beckinsale jelas memberikan sebuah kehidupan sebenarnya bagi jalan penceritaan film ini. Sayangnya, naskah cerita yang ditulis oleh Len Wiseman bersama John Hlavin, J. Michael Straczynski dan Allison Burnett terasa begitu kental akan pengulangan berbagai peristiwa yang sebelumnya pernah ditampilkan dalam seri sebelumnya di franchise ini.

Dalam Underworld: Awakening, yang mengambil waktu enam bulan setelah peristiwa yang terjadi dalam Underworld: Evolution (2006), manusia telah menyadari keberadaan kaum vampir dan lycan dan menganggap kedua makhluk tersebut adalah berbahaya bagi eksistensi mereka. Akhirnya, pemerintah melancarkan berbagai operasi besar-besaran untuk memusnahkan setiap vampir dan lycan yang ada di muka Bumi. Dalam pelariannya, Selene (Beckinsale) kemudian berhasil tertangkap dan, demi untuk mencari sebuah obat yang dapat menyembuhkan mereka yang terinfeksi vampir dan lycans, tubuh Selene akhirnya dibekukan secara genetis.

12 tahun berlalu. Usaha pemerintah untuk memusnahkan seluruh vampir dan lycans masih terus berjalan. Kini, 95% populasi vampir telah menghilang. Lycans bahkan dianggap telah sirna keberadaannya. Tubuh Selene, yang oleh para penelitinya disebut sebagai Subject 1, yang telah dibekukan secara genetis kemudian tersadar akibat dibangunkan oleh Subject 2 (India Eisley), seorang gadis kecil dengan darah keturunan yang merupakan campuran antara vampir dan lycan. Bersama dengan Subject 2, yang kemudian dipanggilnya dengan sebutan Eve, Selene kemudian berusaha mengumpulkan setiap memori mengenai apa yang terjadi pada dirinya selama 12 tahun terakhir, sekaligus mencari keberadaan Michael, kekasihnya yang turut ditangkap oleh pihak pemerintah.

Benar, keberadaan Kate Beckinsale memang berhasil untuk kembali memberikan integritas yang sempat terasa hilang ketika pihak produser lebih memilih untuk merilis sebuah prekuel dari franchise Underworld dengan Rhona Mitra sebagai bintang utamanya. Bukan bermaksud untuk menyudutkan Mitra, namun Beckinsale dan karakternya sebagai Selene adalah bintang utama dari franchise Underworld sekaligus daya tarik yang mampu membuat seri Underworld begitu ditunggu banyak penggemarnya. Dalam Underworld: Awakening, Beckinsale kembali mampu memberikan penampilan terbaiknya, sosok wanita tangguh yang sanggup melawan apa saja yang berada di hadapannya. Penampilan Beckinsale adalah yang menjadi nyawa utama mengapa Underworld: Awakening mampu tampil begitu mempesona.

Sayangnya, kembalinya Beckinsale tidak diiringi dengan kualitas cerita yang memadai. Len Wiseman bersama John Hlavin, J. Michael Straczynski dan Allison Burnett sepertinya hanya ingin menghadirkan deretan adegan aksi yang melibatkan karakter Selene daripada serangkaian kisah yang akan mampu mencegah para penonton film ini merasa kebosanan. Diiringi dengan tampilan tata efek visual yang memang berkualitas, dan sederetan aksi penuh darah yang mampu ditampilkan lewat berbagai pertarungan yang harus dijalani oleh karakter Selene, Underworld: Awakening memang memikat. Namun, hanya itulah daya tarik yang mampu ditawarkan oleh film arahan Måns Mårlind dan Björn Stein karena selebihnya Underworld: Awakening terasa begitu hampa akan pengembangan jalan cerita maupun karakter yang dihadirkan di sepanjang film ini.

Walau kehilangan nama-nama seperti Bill Nighy, Derek Jacobi, Michael Sheen dan Scott Speedman dari jajaran pengisi departemen akting film ini, namun Underworld: Awakening tetap mampu tampil prima dengan dukungan jajaran pemeran baru yang berhasil menampilkan permainan akting terbaik mereka untuk film ini. Nama-nama seperti Sandrine Holt, India Eisley, Theo James, Michael Ealy dan Stephen Rea mampu memberikan dukungan penuh terhadap penampilan Kate Beckinsale yang menjadi pusat perhatian utama dalam jalan cerita film ini – walaupun terkadang karakter yang mereka hadirkan terkesan begitu terbatas dan beberapa diantaranya bahkan terasa kurang begitu esensial kehadirannya di dalam jalan cerita.

Dipenuhi dengan banyak adegan aksi, darah, makhluk-makhluk aneh serta deretan adegan penuh kekerasan, Underworld: Awakening jelas adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi para penikmat franchise Underworld, khususnya karena kembalinya Kate Beckinsale untuk memerankan karakter Selene. Namun, hal tersebut adalah satu-satunya sisi menyenangkan dari film ini. Jalan cerita Underworld: Awakening sama sekali tidak mampu untuk menghadirkan sesuatu yang segar dalam penyampaiannya, baik dari cara penyajian adegan aksinya maupun pengembangan karakter yang terkesan terlalu dangkal dan datar. Masih cukup menyenangkan untuk disaksikan, namun jelas bukanlah sebuah seri dengan kualitas yang lebih baik dari seri-seri Underworld sebelumnya.

Underworld: Awakening (Screen Gems/Lakeshore Entertainment/Saturn Films/Sketch Films/UW4 Productions, 2012)

Underworld: Awakening (2012)

Directed by Måns Mårlind, Björn Stein Produced by Tom Rosenberg, Gary Lucchesi, Len Wiseman, Richard Wright Written by Len Wiseman, John Hlavin, J. Michael Straczynski, Allison Burnett (screenplay), Len Wiseman (story), Danny McBride, Kevin Grevioux, Len Wiseman (characters) Starring Kate Beckinsale, Sandrine Holt, India Eisley, Theo James, Michael Ealy, Charles Dance, Stephen Rea, Kris Holden-Ried, Wes Bentley Music by Paul Haslinger Cinematography Scott Kevan Editing by John Hantzmon Studio Screen Gems/Lakeshore Entertainment/Saturn Films/Sketch Films/UW4 Productions Running time 88 minutes Country United States Language English

Advertisements

One thought on “Review: Underworld: Awakening (2012)”

  1. Hmmm, kalo menurut saya justru cerita yang ditampilkan disini cukup segar dan fresh lho Bang Arif, karena jelas latar yang dibuat berbeda, tidak lagi Vampire vs Lycans namun juga melibatkan manusia… Dimana hal itu tidak ada di film sebelum-nya…

    Lalu misteri yang diberikan dalam menyembunyikan status para lycans, dimana pada awal-nya kita ditunjukkan bahwa para lycans sudah diambang kepunahan, dan vampire menyusul, namun yg terjadi justru sebalik-nya, para lycans berhasil masuk dalam jajaran penting pemerintah AS dan memulai invasi terhadap Vampire…

    Benar-benar beda kan? Dan sangat kreatif, jadi bagi saya jalan cerita-nya sama sekali tidak hampa atau dangkal… Lalu dimana unsur sepele-nya?

    (”,)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s