Review: Xia Aimei (2012)


Tahun 2012 baru memasuki minggu keduanya namun para penggemar sinema Indonesia sepertinya tidak akan begitu kesusahan untuk menemukan salah satu kandidat film terkuat untuk memenuhi daftar film Indonesia terburuk mereka di akhir tahun nanti. Film tersebut berjudul Xia Aimei, sebuah film yang menjadi debut penyutradaraan bagi seorang sutradara yang bernama Alyandra serta menampilkan penampilan akting perdana dari Franda dan Norman Kamaru – yes, that Norman guy! – serta didukung oleh penampilan akting dari nama-nama seperti Ferry Salim, Olga Lydia, Samuel Rizal dan Shareefa Daanish. Lalu apa yang salah? Hampir semuanya. Pengarahan yang begitu lemah, naskah cerita yang memiliki kecerdasan yang begitu terbatas hingga penampilan akting yang… well… ssangat sukar untuk dikategorikan sebagai akting dari sleuruh jajaran pemerannya.

Xia Aimei sebenarnya merupakan sebuah jalinan kisah yang sangat sederhana. Xia Aimei merupakan nama dari karakter utama film ini yang diperankan oleh Franda, sesosok wanita cantik, lugu, cerdas serta berasal dari kecil bernama Yangshuo Guangxi di China. Akibat jeratan hutang yang mengikat keluarganya, Xia Aimei kemudian terjebak dalam sebuah rangkaian aksi perdagangan manusia. Xia Aimei bersama beberapa gadis lainnya kemudian diselundupkan dan dibawa ke Jakarta, Indonesia untuk dijadikan sebagai gadis penghibur di sebuah klub malam mewah bernama Le Mansion yang dikelola oleh Jack (Ferry Salim) dan Nancy (Olga Lydia). Jelas, Xia Aimei yang masih perawan kemudian menjadi sebuah komoditas yang begitu diincar di dalam klub malam tersebut.

Tidak mau begitu saja menyerah kepada nasib buruknya, Xia Aimei kemudian mencoba melarikan diri dari Le Mansion, yang kemudian membawanya untuk berkenalan pada dua sahabat, AJ Park (Samuel Rizal) dan Timun (Gilang Dirgahari). Walau mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan Xia Aimei, AJ dan Timun akhirnya menyadari bahwa Xia Aimei adalah seorang gadis korban perdangangan manusia dan harus segera diselamatkan. Bukan hal yang mudah, tentu saja. Jack dan Nancy telah mempersiapkan sekelompok orang untuk merebut Xia Aimei kembali dari tangan AJ dan Timun. Di saat yang sama, benih-benih cinta mulai tumbuh antara Xia Aimei dan AJ yang membuat permasalahan keduanya semakin kompleks.

Cukup sulit untuk mulai melihat dari mana seharusnya rentetan keburukan Xia Aimei dimulai. Bagaimana dengan susunan naskah ceritanya yang juga dituliskan oleh Alyandra bersama Sally Anom (cin(T)a, 2009). Xia Aimei sebenarnya bukanlah sebuah jalan cerita yang buruk, walaupun baik Alyandra dan Sally sama-sama terjebak untuk menghadirkan begitu banyak kisah klise yang berhubungan dengan dunia human trafficking maupun prostitusi. Penonton dapat dengan mudah untuk menebak jalan cerita film ini: seorang wanita yang berasal dari keluarga kurang mampu terjebak dalam arus human trafficking, dipaksa menjual keperawanannya, untuk kemudian bertemu dengan sang pria yang akan menjadi pahlawannya dan menyelamatkannya dari para penjahat yang berniat menjualnya. Klise! Alyandra dan Sally sayangnya tidak hanya terjebak dalam berbagai penceritaan yang klise, namun juga seringkali terlihat sembrono untuk menghadirkan plot-plot kisah yang tidak masuk akal – Anda akan menyelamatkan seorang gadis dari human trafficking tapi justru menyuruhnya untuk kembali ke sarang parang penjahat pelaku kejahatan hanya demi mengambil paspornya? – untuk menampilkan jalan cerita yang menarik bagi Xia Aimei.

Salah satu hal terburuk yang dapat dirasakan dari naskah cerita Xia Aimei adalah penggalian karakter-karakter yang dihadirkan di sepanjang jalan cerita. Begitu minim dan dangkal. Ini masih ditambah dengan cara masing-masing pengisi departemen akting film ini dalam usaha mereka menghidupkan karakter-karakter yang mereka perankan. Datar dan sama sekali tidak terlihat bagaikan… well… berakting. Adalah sebuah kesalahan besar untuk menempatkan Franda di posisi sebagai aktris utama film ini. Franda jelas-jelas sama sekali tidak bisa berakting. Kemampuan Franda dalam menampilkan setiap emosi yang dibutuhkan karakternya begitu terbatas dan justru membuat karakter Xia Aimei yang ia perankan menjadi tampil kurang simpatik.

Sama halnya dengan Norman Kamaru. Aktor yang melepaskan posisinya sebagai seorang polisi namun kemudian hadir untuk memerankan sosok seorang petugas keamanan dalam sebuah film dan masih terlihat begitu kaku untuk dapat mampu memerankan sebagai seorang sosok petugas keamanan. Samuel Rizal masih berada pada zona amannya dengan memerankan sosok pria yang terlihat tenang dan sedikit bicara. Kemungkinan besar untuk menyembunyikan sempitnya kemampuan akting yang ia miliki. Jika Franda, Norman Kamaru dan Samuel Rizal berakting ‘minimalis,’ maka Ferry Salim, Gilang Dirgahari (karakternya benar-benar mengganggu!) dan Shareefa Daanish justru tampil over the top. Berlebihan dalam memerankan karakter mereka. Sama saja. Tetap tidak terlihat meyakinkan. Jika ada yang dapat melangkah santai keluar dengan aman dari segala kekacauan ini, maka orang tersebut adalah Olga Lydia. Berperan sebagai sosok antagonis yang mendampingi karakter yang diperankan oleh Ferry Salim, Olga setidaknya masih dapat menampilkan peran yang wajar untuk dapat menghidupkan karakternya.

Sama seperti X – The Last Moment (2011) yang berniat untuk memberikan semacam penyuluhan bagi penontonnya lewat jalan cerita yang dihadirkan, Xia Aimei juga berusaha memberikan penontonnya (sangat) sedikit pengetahuan mengenai human trafficking. Sayangnya, sama seperti X – The Last Moment, Xia Aimei juga terjebak dalam berbagai tata produksi yang gagal untuk dapat diperhatikan secara detil. Begitu banyak kejanggalan-kejanggalan yang dapat dirasakan di dalam jalan cerita, karakter-karakter yang dihadirkan, tata teknis yang tidak terjalin dengan rapi hingga kemampuan para pengisi departemen aktingnya yang cukup mengganggu. Dihadirkan dengan jalan cerita yang begitu klise, datar dan jauh dari kesan menarik, Xia Aimei berada di jalur yang tepat untuk mengisi daftar film Indonesia terburuk banyak orang di akhir tahun 2012 nanti.

Xia Aimei (Falcon Pictures, 2012)

Xia Aimei (2012)

Directed by Alyandra Produced by Frederica Written by Alyandra, Sally Anom Starring Franda, Samuel Rizal, Olga Lydia, Ferry Salim, Shareefa Daanish, Jasmine Julia Machate, Gilang Dirgahari, Norman Kamaru Music by Alyandra Editing by Robby Barus Studio Falcon Pictures Running time 80 minutes Country Indonesia Language Indonesian, Mandarin

Advertisements

3 thoughts on “Review: Xia Aimei (2012)”

  1. saya belum nonton film ini, tapi selalu liat posternya di bioskop krn menarik.

    menarik karena gw bingung, gimana caranya pihak Yahoo! Indonesia negosiasi ama pihak filmmaker ampe tulisan “Yahoo! Indonesia” nya bahkan lebih besar dari judul filmnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s