Review: We Need to Talk About Kevin (2011)


We Need to Talk About Kevin adalah sebuah penggambaran dari mimpi terburuk yang dapat dialami oleh para orangtua – bahkan lebih buruk dari apa yang digambarkan oleh Beautiful Boy, film bertema sama yang telah dirilis terlebih dahulu di awal 2011. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Lionel Shriver, We Need to Talk About Kevin akan memberikan kesempatan pada para penontonnya untuk menyelami deretan nasib buruk yang dialami satu pasangan orangtua dalam menghadapi anak mereka. Lynne Ramsay (Morvern Callar, 2002) menghadirkan kisah kompleks yang ditulis Shriver dengan alur yang acak, mencoba untuk menghadirkan setiap detil kehidupan para karakternya sehingga para penonton dapat menganalisa apa yang salah dari potret sebuah kisah keluarga yang mereka saksikan untuk kemudian akan merasa dihantui oleh kisah tragis yang baru saja mereka ikuti.

We Need to Talk About Kevin dibuka dengan adegan masa lalu Eva Khatchadourian (Tilda Swinton) dimana ia sedang berada di Spanyol dan bersenang-senang dengan kehidupannya sebagai seorang petualang. Kesenangan tersebut telah berakhir, sayangnya. Kini Eva telah menikah dengan Franklin (John C. Reilly), kekasih yang sangat ia cintai, dan dianugerahi seorang anak laki-laki, Kevin (Jasper Newell). Kemunculan Kevin yang sepertinya membuat semua kebahagiaan di dalam kehidupan Eva mendadak sirna. Merasa sulit berhubungan dengan sang anak, Eva seringkali menelantarkan Kevin begitu saja semasa kecil dan merasa Kevin selalu berusaha untuk mempersulit kehidupannya. Sebuah perlakuan yang akhirnya justru mendapatkan perlawanan dari Kevin.

Kevin sendiri kemudian tumbuh menjadi remaja yang cerdas namun terisolasi dari lingkungannya (diperankan oleh Ezra Miller ketika masa remaja). Hubungan dirinya dan Eva masih seperti dulu, sukar untuk mampu mendekati satu sama lain. Kevin semakin merasa tersingkir setelah kelahiran Celia (Ashley Gerasimovich), anak kedua pasangan Eva dan Franklin yang berjenis kelamin perempuan, memiliki sifat yang lebih ceria dan berhasil merebut perhatian Eva. Kepelikan hubungan antara Kevin dan Eva ternyata tumbuh menjadi sebuah monster dalam diri Kevin… monster yang akhirnya lepas dan justru menyebabkan sebuah tragedi yang merenggut nyawa banyak orang lainnya.

Berbeda dengan Beautiful Boy, yang memaparkan mengenai bagaimana satu pasangan orangtua berusaha untuk melupakan dan melanjutkan kehidupan mereka setelah anak mereka satu-satunya melakukan sebuah tindakan sadis di sekolahnya, We Need to Talk About Kevin sama sekali tidak memberikan nafas segar dan kesempatan bagi karakter utamanya untuk memperoleh kehidupan baru. Tentu, karakter Eva dikisahkan berusaha untuk menemukan sebuah kehidupan yang baru, namun Eva terus menerus digambarkan dihantui oleh bayang-bayang dosa anaknya – yang tidak dipermudah oleh tindakan masyarakat sekitar yang juga terus menerus menghukum Eva. Ini yang membuat We Need to Talk About Kevin terasa begitu gelap sekaligus begitu pedih untuk disaksikan.

Dalam penggambarannya, Ramsay menggunakan alur penceritaan yang acak untuk mengisahkan kehidupan Eva. Mulai dari masa dimana ia menjalani kehidupannya sebagai seorang petualang, perkenalan dan percintaannya dengan Franklin, pernikahannya hingga akhirnya masa-masa gelap kehidupannya ketika ia gagal menjalin hubungan jiwa dengan puteranya, Kevin. Ramsay menjalin kisah Eva bagaikan kepingan teka-teki yang mencoba untuk merangkai jawaban untuk berbagai persoalan yang ditampilkan jalan cerita film ini. Ramsay juga dengan cerdas meletakkan berbagai metafora dalam tiap adegan dan warna yang ia hadirkan di dalam jalan cerita film.

Dari departemen akting, penonton tidak akan dapat mengharapkan barisan pemeran secemerlang apa yang didapatkan Lynne Ramsay untuk film ini. Di barisan terdepan, Ramsay menempatkan Tilda Swinton, salah satu diva akting asal Eropa selain Kate Winslet yang tidak pernah salah dalam apapun yang ia kerjakan. Dalam We Need to Talk About Kevin, Swinton tenggelam dalam kelamnya kehidupan sebagai seorang ibu yang tidak mampu berkoneksi secara batin dengan anaknya. Penonton dapat dengan mudah merasakan hal tersebut karena Swinton mampu mengekspos seluruh luka yang dirasakan karakter Eva dengan begitu luas. Tidak melulu menampilkan sisi gelapnya, pada bagian kisah percintaan Eva dan Franklin, Swinton mampu menunjukkan bahwa karakter Eva sebenarnya adalah karakter yang ceria dan bahagia. Namun secara perlahan, karakter tersebut terus tenggelam dalam sikap depresif yang didapatkan setelah kelahiran anak pertamanya.

Yang tak kalah unggul adalah penampilan tiga aktor yang memerankan karakter Kevin. Diperankan oleh tiga aktor yang berbeda – Ezra Miller, Jasper Newell dan Rocky Duer – namun ketiganya mampu memberikan esensi seorang anak yang bermasalah (dan cenderung menakutkan) dengan sangat sempurna. Penonton kemungkinan besar tidak dapat menghindarkan dirinya dari membandingkan karakter Kevin dari karakter Damien dari film horor klasik, The Omen (1976). Namun Kevin adalah sosok yang lebih nyata dan dapat dengan mudah berada dimana saja. Itu yang membuat kemampuan akting Miller, Newell dan Duer semakin terasa mendalam. We Need to Talk About Kevin juga didukung penampilan John C. Reilly yang semakin menambah apik deretan pengisi departemen akting film ini.

Tidak salah jika banyak orang akan banyak membicarakan mengenai We Need to Talk About Kevin jauh setelah mereka usai menyaksikan filmnya. Didukung detil penceritaan yang kuat, kemampuan akting para jajaran pemerannya yang apik dan tata visual dan audio yang mampu menambah kekuatan emosional film ini, We Need to Talk About Kevin adalah sebuah karya yang gelap dan akan sanggup memaparkan luka yang dirasakan para karakternya sehingga dapat dirasakan setiap penonton yang menyaksikan film ini. Tidak mudah untuk mengikuti We Need to Talk About Kevin. Tapi begitu penonton mampu terperangkap dalam depresif-nya jalan cerita film ini, di saat itu pula jalan cerita film ini akan berhasil menghantui setiap penontonnya.

We Need to Talk About Kevin (BBC Films/UK Film Council/Footprint Investment Fund/Piccadilly Pictures/Lipsync Productions/Independent/Artina Films/Rockinghorse Films/Atlantic Swiss Productions/Tax Credit Finance, 2011)

We Need to Talk About Kevin (2011)

Directed by Lynne Ramsay Produced by Jennifer Fox, Luc Roeg, Bob Salerno Written by Lynne Ramsay, Rory Stewart Kinnear (screenplay), Lionel Shriver (novel, We Need to Talk About Kevin) Starring Tilda Swinton, John C. Reilly, Ezra Miller, Jasper Newell, Rocky Duer, Ashley Gerasimovich Music by Jonny Greenwood Cinematography Seamus McGarvey Editing by Joe Bini Studio BBC Films/UK Film Council/Footprint Investment Fund/Piccadilly Pictures/Lipsync Productions/Independent/Artina Films/Rockinghorse Films/Atlantic Swiss Productions/Tax Credit Finance Running time 112 minutes Country United Kingdom, United States Language English

Advertisements

4 thoughts on “Review: We Need to Talk About Kevin (2011)”

  1. Baru aja nonton film ini hari Sabtu lalu.

    Ada beberapa hal yang menurut saya kurang diperlihatkan:
    1. Kenapa mata Celia bisa diperban sebelah?
    2. What’s the point of the massacre?

    Selebihnya film ini sangat memukau, trutama gerak kameranya dan akting para jajaran pemainnya.
    Sepanjang film saya terus berpikir, “ni anak sakit jiwa…”

  2. What a good movie, kerasa banget gelapnya,suramnya,kelam… segimana depresinya eva menghandle kevin.
    IMHO kenapa Celia diperban sebelah, kalau nyimak itu karena kemungkinan dia kena panah si Kevin waktu dia latihan memanah di backyardnya which is itu dilakukan kevin dgn sengaja akibat bentuk kecemburuan sama kehadiran Celia. Didukung ketika adegan eva, celia, Franklin lagi nonton di their living room ketika Kevin datang dan ngajak celia buat main panah sama dia dan eva dgn cepat tidak memperbolehkan 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s