Review: Machine Gun Preacher (2011)


Machine Gun Preacher adalah sebuah film yang jalan ceritanya diinspirasi dari kisah nyata kehidupan Sam Childers, seorang pria mantan penjahat/pengedar/pengguna narkotika dan obat-obatan terlarang yang kemudian berhasil ‘menemukan’ Tuhan ketika ia sedang berada dalam titik terendah dalam kehidupan yang ia jalani. Merasa terpanggil oleh Tuhan, Childers lalu berangkat untuk menolong warga Sudan Selatan yang sedang terjebak dalam sebuah konflik perang. Kehidupan Childers dipenuhi dengan berbagai drama emosional yang akan mampu menyentuh dan menginspirasi banyak orang yang mendengarnya. Sementara itu, Machine Gun Preacher, film arahan Marc Forster (Quantum of Solace, 2008), yang mengadaptasi sekelumit kisah hidup Childers, sayangnya terjebak dengan begitu banyak formula penceritaan tradisional dari film-film yang bertema sama dan akhirnya justru gagal menyampaikan ikatan emosional dari kisah hidup Childers pada penonton film ini.

Machine Gun Preacher memulai kisahnya ketika Sam Childers (Gerard Butler) baru saja keluar dari sebuah penjara. Begitu sampai di rumahnya, Sam menemukan bahwa kondisi rumahnya telah berubah – lebih rapi dan teratur. Bahkan, istri Sam, Lynn Childers (Michelle Monaghan), kini telah berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang penari telanjang dan menjadi seorang sosok wanita yang lebih religius. Kondisi tersebut ternyata tidak dapat diterima oleh Sam. Ia akhirnya lebih memilih untuk kembali berbuat keonaran, mabuk-mabukan dan berbagi narkotika dan obat-obatan terlarang bersama sahabatnya, Donnie (Michael Shannon). Sampai suatu ketika, Sam dan Donnie melakukan sebuah pembunuhan yang membuat Sam merasa begitu terpojok.

Dalam kondisinya yang begitu tertekan akibat perbuatan yang baru ia lakukan, Sam akhirnya memilih untuk menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Dan berhasil. Secara perlahan, kehidupan Sam mulai menjadi lebih baik dan teratur. Sam juga mampu membawa Donnie kembali ke jalur kehidupan yang lebih baik bersamanya. Namun, panggilan utama Tuhan terhadap Sam datang ketika ia mengetahui ada banyak warga Sudan Selatan yang saat ini sedang terjebak menjadi korban perang yang sedang berlangsung di wilayah tersebut. Atas restu istrinya, Sam akhirnya berangkat ke wilayah tersebut dan memulai perjuangannya sendiri untuk membantu anak-anak yang menjadi yatim piatu akibat kekejaman perang yang merenggut kedua orangtua mereka.

Sebagai seorang sutradara, Marc Forster bukanlah seorang sutradara yang dapat dikategorikan sebagai sosok yang telah mampu menghasilkan karya-karya dengan kualitas yang stabil. Ketika Finding Neverland (2004), Stranger Than Fiction (2006) serta The Kite Runner (2007) mampu secara sempurna untuk mengelola tampilan drama dan emosional jalan ceritanya, Quantum of Solace (2008) dan Monster’s Ball (2001) berada pada kualitas menengah dan setidaknya mampu tampil lebih baik daripada Stay (2005) yang benar-benar tidak dapat dimengerti kemana arah penceritaan film tersebut hendak dibawakan oleh Forster. Machine Gun Preacher, untungnya, memiliki kualitas penceritaan yang lebih baik daripada Stay. Penonton setidaknya masih akan mampu merasa peduli pada deretan karakter yang dihadirkan di hadapan mereka. Namun, itu adalah hal terbaik yang dapat dicapai oleh Machine Gun Preacher. Karena selain dari itu, film ini terjebak dalam sebuah usaha yang terlalu ambisius untuk terlihat menjadi sebuah kisah yang inspirasional.

Bukan hal yang salah, sebenarnya. Apalagi kisah hidup Sam Childers sendiri memang telah memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi sebuah kisah yang inspirasional dan menyentuh. Sayangnya, cara pengarahan Forster-lah yang membuat Machine Gun Preacher terlihat kaku. Forster dengan patuh mengikuti setiap tahapan dari cara membuat sebuah film drama inspirasional dan hasilnya… setiap adegan film ini seperti telah dapat ditebak dengan mudah, bahkan bagi mereka yang sama sekali tidak pernah mendengar nama Sam Childers sekalipun. Ini masih ditambah dengan usaha Forster untuk menampilkan sisi kehidupan seorang Sam Childers yang terlalu banyak. Mulai dari sisi kehidupannya sebagai seorang suami, seorang ayah, seorang sahabat hingga sebagai sosok pribadi yang ingin melindungi orang-orang yang dianggapnya harus dilindungi. Terlalu banyak sisi yang hendak dieksplorasi dan sayangnya dihadirkan dengan penceritaan yang kelewat standar. Hasilnya, jalan cerita hidup Sam Childers menjadi kehilangan sisi emosional terkuatnya.

Untungnya, Gerard Butler akhirnya berhasil keluar dari zona amannya selama ini dan berhasil mengeluarkan sisi dramatisnya sebagai seorang aktor untuk memerankan karakter Sam Childers. Sebagai Sam Childers, Butler mampu tampil sangat meyakinkan. Ia mampu tampil sebagai sosok kriminal di awal film – bukan sebuah hal baru, sebenarnya – dan kemudian secara perlahan bertransformasi sebagai sosok yang lebih teratur dan baik di pertengahan film. Diantaranya, Butler juga mampu menampilkan sosok Sam Childers ketika karakter tersebut sedang berada pada tahapan depresi yang kuat akibat segala hal yang ia jalani. Bukan performa yang akan dilirik oleh banyak penghargaan, tapi jelas performa yang mampu menjelaskan bahwa Butler adalah seorang aktor yang handal jika ia mampu dan mau melakukannya.

Walau begitu, karakter-karakter pendukung di Machine Gun Preacher gagal untuk tergali dengan baik. Hasilnya, penampilan dari Michelle Monaghan, Michael Shannon hingga Kathy Baker hampir tidak memberikan pengaruh emosional apapun ke dalam jalan cerita. Para pemeran pendukung tersebut sebenarnya mampu memberikan penampilan yang baik, namun dengan sempitnya karakterisasi yang dituliskan untuk peran-peran mereka, kehadiran mereka di dalam jalan cerita Machine Gun Preacher hampir tidak memiliki esensi yang berpengaruh. Jika saja karakter-karakter pendukung tersebut mampu diberikan porsi cerita yang lebih mendalam, mungkin Machine Gun Preacher akan mampu tampil lebih hidup.

Secara keseluruhan, Machine Gun Preacher adalah sebuah film yang seharusnya dapat membuat setiap penontnonnya dapat merasakan apa yang dijalani oleh sesosok karakter bernama Sam Childers. Namun, dengan cara penceritaan Marc Forster yang terlalu kaku, Machine Gun Preacher menjadi sebuah film yang lebih terlihat ambisius daripada berusaha untuk menyampaikan pengisahan dramanya yang emosional kepada setiap penonton film ini. Pun begitu, penampilan kuat Gerard Butler dan kisah hidup Sam Childers yang cukup mampu ditampilkan secara relavan menjadi faktor kuat mengapa Machine Gun Preacher masih layak untuk dinikmati.

Machine Gun Preacher (Relativity Media/Virgin Produced/Apparatus/GG Filmz/1984 P.D.C./Mpowers Pictures/ITS Capital/Merlina Entertainment/Moonlighting Films/Safady Entertainment, 2011)

Machine Gun Preacher (2011)

Directed by Marc Forster Produced by Robbie Brenner, Deborah Giarratana, Craig Chapman, Gary Safady, Marc Forster Written by Jason Keller Starring Gerard Butler, Michelle Monaghan, Michael Shannon, Madeline Carroll, Kathy Baker, Misty Mills, Nicole Michele Sobchack, Brett Wagner, Mandalynn Carlson, Souléymane Sy Savané, Richard Goteri, Peter Carey, Rhema Marvanne Music by Asche & Spencer, Tad Spencer Cinematography Roberto Schaefer Editing by Matt Chesse Studio Relativity Media/Virgin Produced/Apparatus/GG Filmz/1984 P.D.C./Mpowers Pictures/ITS Capital/Merlina Entertainment/Moonlighting Films/Safady Entertainment Running time 123 minutes Country United States Language English

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s