Review: Take Me Home Tonight (2011)


Tentu, sebagai seorang aktor yang dibesarkan oleh serial That ‘70s Show (1998 – 2006), membintangi sebuah film yang kental dengan nuansa ’80-an jelas bukanlah sebuah masalah besar bagi Topher Grace. Apalagi, karakter Matt Franklin yang ia mainkan di film ini sebenarnya tidak begitu jauh berbeda dengan karakter Eric Forman yang ia mainkan di serial televisi yang juga membantu membesarkan nama Ashton Kutcher tersebut. Topher Grace sebagai Matt Franklin adalah sebuah pilihan yang sangat tepat. Grace memiliki penampilan keseluruhan yang pas untuk berperan sebagai seorang pemuda yang masih belum dapat menentukan jati dirinya. Sementara itu, terlepas dari penggunaan yang sangat efektif dari berbagai hal yang berbau ’80-an di filmnya sendiri, Take Me Home Tonight sayangnya tidak mampu memberikan sesuatu yang baru kepada penontonnya.

Berlatar belakang kisah di tahun 1988, Matt Franklin (Grace) adalah seorang lulusan Massachusetts Institute of Technology. Setelah beberapa tahun lulus dari masa kuliahnya, kehidupan Matt sepertinya terlihat begitu mengecewakan. Daripada menggunakan gelar sarjananya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang layak, Matt malah memilih untuk bekerja sebagai penjaga di sebuah toko video. Namun, lewat pekerjaannya itulah Matt bertemu kembali dengan gadis yang dulu sempat sangat ia sukai di masa sekolah, Tori Fredreking (Teresa Palmer). Tidak mau malu di hadaapan Tori, Matt mengaku bahwa ia bekerja di sebuah perusahaan perbankan. Terkesan dengan Matt, Tori lalu mengajaknya untuk hadir di sebuah pesta yang diadakan oleh Kyle Masterson (Chris Pratt), yang juga merupakan kekasih saudara kembar Matt, Wendy Franklin (Anna Faris).

Jelas saja tawaran untuk dapat berdekatan langsung dengan wanita yang dulu sangat ia puja tidak akan ditolak oleh Matt begitu saja. Dengan mengajak sahabat baiknya, Barry Nathan (Dan Fogler), Matt berusaha terlihat sekeren mungkin di hadapan Tori. Dan taktik yang ia jalankan berhasil. Tori bersama sahabat-sahabatnya lalu mengajak Matt dan Barry ke sebuh pesta yang diadakan oleh para pegawai perbankan di wilayah tersebut. Jelas, Matt dan Barry yang hanya menggunakan status pegawai perbankan sebagai sebuah kedok mulai terlibat masalah demi masalah karenanya. Ini masih ditambah dengan pengakuan Tori bahwa ia sangat membenci pria yang suka berbohong… yang tiba-tiba menyadarkan Matt bahwa ia seharusnya tidak membohongi Tori hanya agar gadis itu menyukai dirinya.

Ditulis oleh Jackie Filgo dan Jeff Filgo atas cerita yang disusun oleh Topher Grace dan Gordon Kawyin, Take Me Home Tonight sebenarnya telah selesai diproduksi pada tahun 2007 – masa di mana Grace baru saja menyelesaikan Spider-Man 3, Anna Faris masih hanya dikenal sebagai bintang franchise Scary Movie serta Teresa Palmer dan Dan Fogler masih merupakan dua nama yang masih jarang terdengar (Anda juga masih jarang mendengar nama Fogler hingga saat ini). Awalnya berjudul Kids in America, penonton yang jeli mungkin dapat merasakan ada banyak guntingan adegan yang dialami oleh film ini sebelum akhirnya dapat ditonton dan dirilis dengan judul yang dikenal sekarang. Begitu banyaknya guntingan adegan, jalan cerita dan beberapa peran terlihat berubah drastis: Anda tidak akan mengerti apa posisi karakter yang diperankan Lucy Punch yang terus menerus mengejar karakter Matt Franklin, beberapa karakter dengan peran yang sebenarnya cukup sentral tidak memiliki cukup dialog serta sama sekali tidak ada satu karakterpun yang dikisahkan untuk ‘dibawa pulang’ seperti yang digambarkan oleh judul film ini.

Terlepas dari berbagai hal tersebut, kesalahan utama dari Take Me Home Tonight adalah jalan ceritanya yang berusaha untuk tampil sebagai sebuah kisah yang bermakna padahal sama sekali tidak mengandung kesan apapun. Lewat karakter Matt Franklin dan Barry Nathan, Take Me Home Tonight terlihat sangat berusaha keras untuk menjadi berbagai karakter yang banyak terdapat di film-film drama komedi remaja karya John Hughes yang populer di tahun ’80-an. Sayangnya, hal itu gagal terjadi seiring dengan terlalu fokusnya jalan cerita film ini pada sisi drama jika dibandingkan denegan sisi komedinya. Padahal, Take Me Home Tonight kemungkinan akan mampu tampil lebih baik jika jalan ceritanya mampu tampi segila Hot Tub Time Machine (2010) yang juga sama-sama membawa kembali atmosfer ’80-an ke dalam jalan ceritanya.

Topher Grace sendiri, seperti yang sudah disebutkan di paragraf awal, tampil sangat sesuai sebagai Matt Franklin. Akting Grace tidak pernah terlihat berlebihan dan hal itulah yang membuat karakter Matt Franklin mudah untuk dinikmati. Dan Fogler sayangnya tampil sedikit mengganggu dalam setiap adegannya. Tentu pada awalnya Fogler mampu membuat karakter Barry Nathan terlihat jenaka, namun lama-kelamaan karakterisasinya seringkali tampil merusak jalan cerita yang ada daripada untuk menambah tingkat komedi Take Me Home Tonight. Anna Faris sayangnya tidak diberikan peran yang lebih besar. Sama halnya dengan Teresa Palmer dan Chris Pratt yang hadir dengan kapasitas kecil namun seringkali mampu tampil mencuri perhatian.

Mungkin Take Me Home Tonight akan berhasil untuk para penonton yang merindukan kehadiran nuansa tahun ’80-an dalam film yang akan mereka tonton. Take Me Home Tonight cukup menjanjikan dalam hal itu: dengan menyajikan deretan lagu-lagu klasik ’80-an yang catchy dan atmosfer ’80-an yang sangat erat lewat pemilihan tata produksi film yang cukup mengesankan. Sayangnya, keunggulan Take Me Home Tonight hadir sebatas tata produksi saja. Dari naskah cerita, film ini kebingungan untuk membawakan jalan ceritanya. Berniat untuk tampil menghibur dengan deretan guyonan bernada dewasa, namun Take Me Home Tonight lebih sering terjebak dengan drama-drama kehidupan yang seringkali terasa terlalu datar untuk ditampilkan. Bukan hal yang buruk, secara keseluruhan. Namun Take Me Home Tonight kurang mampu untuk tampil menyenangkan di luar premisnya yang berencana untuk hadir bersenang-senang itu.

Take Me Home Tonight (Imagine Entertainment/Relativity Media, 2011)

Take Me Home Tonight (2011)

Directed by Michael Dowse Produced by Ryan Kavanaugh, Jim Whitaker, Sarah Bowen Written by Jackie Filgo, Jeff Filgo (screenplay), Topher Grace, Gordon Kaywin (story) Starring Topher Grace, Anna Faris, Dan Fogler, Teresa Palmer, Michelle Trachtenberg, Chris Pratt, Audrina Patridge, Robert Hoffman, Lucy Punch, Demetri Martin, Michael Biehn, Michael Ian Black, Bob Odenkirk, Ryan Bittle, Nathalie Kelley, Whitney Cummings, Candace Kroslak, Jay Jablonski, Edwin Hodge Music by Trevor Horn Cinematography Terry Stacey Editing by Lee Haxall Studio Imagine Entertainment/Relativity Media Running time 97 minutes Country United States Language English

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s