Review: Fast Five (2011)


Mungkin tidak akan ada seorangpun yang akan menyangka bahwa franchise The Fast and the Furious yang pertama kali dimulai pada tahun 2001, akan mampu menarik cukup banyak penggemaar setia dan bertahan hingga masa satu dekade. Padahal, semenjak dirilis pertama kali, setiap seri dari franchise ini terus menerus mendapatkan kritikan tajam  dari kritikus film dunia – kebanyakan mengungkapkan rasa keberatan mereka atas plot cerita yang kurang masuk akal serta akting para jajaran pemerannya yang terlalu ‘terbatas.’ Pun begitu, setiap seri The Fast and the Furious menjadi bukti nyata bahwa kadang para penonton melihat film yang mereka saksikan dengan sudut pandang yang berbeda dari para kritikus film. Setiap seri menghasilkan cukup banyak keuntungan komersial bagi para produsernya yang, tentu saja, tidak berkeberatan untuk melanjutkan perolehan keuntungan mereka hingga saat ini.

Dan sekarang, franchise tersebut berada pada seri kelimanya, Fast Five (atau juga dikenal dengan Fast and Furious 5: Rio Heist). Kembali disutradarai oleh Justin Lin yang telah mengarahkan dua seri ini sebelumnya, The Fast and the Furious: Tokyo Drift (2009) serta Fast and Furious (2009), Fast Five kembali membawa seluruh jajaran pemerannya kembali dari beberapa seri sebelumnya – termasuk pasangan Dominic Toretto (Vin Diesel) dan Brian O’Connor (Paul Walker) namun tanpa kehadiran Leticia Ortiz (Michelle Rodriguez) yang karakternya harus tewas di seri sebelumnya – sekaligus memperkenalkan seorang karakter baru bernama Luke Hobbs yang diperankan oleh Dwayne Johnson yang kehadirannya jelas dilakukan untuk menyegarkan kembali kehadiran sisi action dari franchise ini.

Dengan naskah yang kembali ditulis oleh Chris Morgan, yang juga menulis naskah cerita dua seri franchise ini sebelumnya untuk Justin Lin, Fast Five mengisahkan mengenai pasangan Brian O’Conner (Walker) dan Mia Toretto (Jordana Brewster) yang setelah berhasil kabur dari kejaran pihak yang berwajib di akhir seri Fast and Furious kini tinggal bersama di Rio de Janeiro, Brazil. Sambil menunggu kedatangan Dominic Toretto (Diesel), Brian dan Mia setuju untuk membantu sahabat Dominic, Vince (Matt Schulze), dalam menjalankan rencananya untuk mencuri beberapa mobil yang ternyata dimiliki oleh Hernan Reyes (Joaquim de Almeida), yang dikenal sebagai pimpinan gangster paling ditakuti di Rio de Janeiro. Dibantu dengan Dominic yang akhirnya muncul di tengah-tengah aksi, tindakan ini jelas memicu Reyes untuk mengerahkan anak buahnya dan membunuh Dominic dan rekan-rekannya.

Dominic dan Brian sendiri menemukan bahwa benda yang paling diincar Reyes dari mobil-mobil tersebut adalah sebuah chip yang berisi seluruh data kekayaan dan kejahatan Reyes yang tersimpan di salah satu mobil. Penemuan chip tersebut kemudian memberikan ide bagi Dominic dan Brian untuk melakukan sebuah perampokan yang terakhir kalinya sebelum mereka benar-benar berhenti dan akhirnya hidup dengan tenang. Di saat yang sama, pemerintah Amerika Serikat sendiri mengirimkan agen Luke Hobbs (Johnson) untuk melacak keberadaan kawanan Dominic dan menahan mereka. Sebagai seorang agen yang tidak pernah gagal dalam tugasnya, Hobbs telah bertekad untuk menemukan Dominic dan rekan-rekannya walau dirinya harus menempuh berbagai cara untuk melakukannya.

Kali ketiga kerjasama sutradara Justin Lin dan penulis naskah Chris Morgan terbukti mampu membuat Fast Five tampil lebih mengesankan dari seri-seri sebelumnya. Walau penggunaan formula jalan cerita yang telah begitu familiar dari seri-seri sebelumnya sepertinya tetap tidak akan mampu untuk memenangkan hati mereka yang terlanjur skeptis akan kualitas franchise ini, namun Lin mampu menghadirkan tingkat ketegangan yang lebih tinggi lewat dukungan deretan aksi yang dikemas lebih apik dari seri-seri sebelumnya yang akan mampu memicu adrenalin para penggemar setia franchise ini atau mereka yang menyenangi film-film dengan tema sejenis dengan begitu kencang.

Kunci dari keberhasilan Fast Five sendiri terletak pada naskah ceritanya yang harus diakui mampu tersusun lebih rapi dari naskah cerita beberapa seri franchise The Fast and the Furious sebelumnya. Walau menggunakan deretan karakter dalam jumlah besar, Morgan tetap memfokuskan Fast Five pada hubungan yang terjalin antara tiga karakter utama Dominic-Brian-Mia dan meminimalisir kehadiran kisah-kisah tambahan yang berasal dari karakter-karakter pendukung di film ini. Hasilnya, selain dari jalan cerita yang lebih jelas dan fokus, penonton dipastikan akan memiliki waktu lebih banyak untuk mencerna berbagai tampilan adegan aksi yang disajikan Justin Lin – yang jelas merupakan bagian paling esensial dari sebuah franchise yang memang tidak pernah mengutamakan kehadiran jalan cerita serta dialog yang cerdas dari naskah ceritanya.

Penonton yang menggemari film-film dengan tema sejenis sendiri mungkin tidak akan menemukan diri mereka begitu terpesona dengan tugas utama yang harus dijalankan Dominic dan rekan-rekannya – tugas tersebut harus diakui bukanlah sebuah tugas yang menuntut banyak detil-detil rencana yang biasanya mampu memberikan daya pikat tersendiri dalam sebuah heist movie. Namun, Lin menyajikan Fast Five dalam ritme penceritaan yang begitu cepat sehingga cukup mampu untuk menutupi berbagai kelemahan yang hadir di film ini.

Yang juga bukan menjadi fokus utama dari kehadiran franchise The Fast and the Furious adalah pendalaman dari setiap karakter yang berada di dalam jalan cerita setiap seri franchise tersebut. Hal ini sekaligus menjadikan jajaran pemeran film ini tidak membutuhkan kemampuan akting yang lebih untuk mampu menghidupkan karakter mereka. Tetap saja, adalah sangat menyenangkan untuk melihat Chris Morgan mengurangi waktu kehadiran karakter Brian O’Conner yang seringkali cenderung terlihat datar dan memaksimalkan perseteruan yang terbentuk antara karakter Dominic Toretto dan Luke Hobbs. Walau tidak memegang peranan yang begitu berarti untuk Fast Five secara keseluruhan, para karakter pendukung mampu diberikan beberapa dialog dan adegan kunci yang mampu membuat kehadiran jajaran pemeran mereka seperti Chris ‘Ludacris’ Bridges dan Gal Gadot semakin memperkaya warna dari jalan cerita film.

Tetap menggunakan formula yang sama dan deretan karakter yang telah begitu familiar, Fast Five terbukti mampu tampil lebih cemerlang dari seri-seri The Fast and the Furious sebelumnya dengan menghadirkan naskah cerita yang lebih berfokus pada tugas utama yang akan dijalani daripada kisah pribadi para karakternya. Naskah cerita tersebut kemudian mampu dieksekusi dengan ritme cerita cepat yang terjaga dengan baik serta tata produksi yang mampu mendukung kehadiran deretan adegan aksi yang lebih banyak dan lebih spektakuler. Fast Five jelas akan mampu memenuhi ekspektasi setiap orang akan franchise ini: drama yang sederhana dan minimal namun ditimpali dengan kehadiran deretan aksi yang maksimal.

Fast Five (Original Film/One Race Films, 2011)

Fast Five (2011)

Directed by Justin Lin Produced by Neal H. Moritz, Vin Diesel, Michael Fottrell Written by Chris Morgan (screenplay), Gary Scott Thompson (characters) Starring Vin Diesel, Paul Walker, Jordana Brewster, Dwayne Johnson, Tyrese Gibson, Chris Bridges, Matt Schulze, Sung Kang, Gal Gadot, Elsa Pataky, Joaquim de Almeida, Tego Calderon, Don Omar, Michael Irby, Michelle Rodriguez, Eva Mendes Music by Brian Tyler Cinematography Stephen F. Windon Editing by Kelly Matsumoto, Fred Raskin, Christian Wagner Studio Original Film/One Race Films Running time 130 minutes Country United States Language English

Advertisements

2 thoughts on “Review: Fast Five (2011)”

  1. Jika digambarkan dalam bentuk grafik, Fast and Furious 1 dan 2 memiliki kwalitas yang meningkat. Pada Fast and Furious 3: Tokyo Drift, seri ini mencapai puncaknya. Fast and Furious 1, 2 dan 3, harus diakui menonjolkan adegan balap jalanan, taruhan dan mobil-mobil yang telah melegenda di antara para pembalap jalanan sebagai daya tariknya. Seperti Mitsubishi Eclipse, Toyota Supra dan Honda S2000, VW Jetta A3, Honda Civic Coupe, Honda Acura Integra dan Dodge Charger 1970 pada FnF 1, Nissan Skyline GTR (milik pribadi Paul Walker), Mitsubishi Evo VII, Mitsubishi Eclipse Spyder, Dodge Challenger 1970, dan Chevrolet Camaro 1969 pada FnF 2, dan puncak kemunculan mobil-mobil jalanan ada pada FnF 3 (Tokyo Drift) dimana seri ini menampilkan banyak sekali tipe, seperti Nissan Fair Lady 350Z, Nissan Silvia, Mitsubishi Evo IX, Mazda RX7, VW Golf GTi dan Honda Acura NSX. Sampai seri 3, FnF 3 (Tokyo Drift) adalah seri yang terbaik (menurut saya) dari segi mobil dan aksi. Pada Fast and Furious 4, keadaan sepertinya hancur lebur. Seri 4 sangat membosankan. Baik dari cerita, aksi maupun mobilnya. Walau waktu itu Nissan Skyline GTR milik Paul Walker dimunculkan kembali dan muncul pula Subaru Impreza WRX STi, selebihnya adalah mobil-mobil muscle car classic produksi Amerika Serikat. Sebelum saya menonton Fast 5 sempat terbersit perasaan bahwa saya akan kembali dikecewakan seperti pada seri 4-nya. Namun saya putuskan untuk tetap menonton. Ternyata aksi pada Fast 5 sangat menakjubkan, kalau kita memang tidak peduli pada kemampuan akting dan penceritaan di film ini. Hahaha. Fast and Furious adalah film untuk bersenang-senang. Jadi jangan serius menyimak ceritanya, namun nikmati saja aksinya. Walau pada Fast 5 saya menemukan banyak hal yang janggal dan tidak masuk akal, namun penceritaan dengan ritme cepat tidak sempat membuat kita merasa terganggu dengan berbagai kelemahan dan cacat yang ada pada film ini. Kalau anda adalah penggemar sejati Fast and Furious, maka pada dialog-dialog tertentu anda pasti akan diingatkan kembali pada seri-seri sebelumnya. Yah, cukup menggelitiklah dan bisa membuat kita tertawa. Tetapi kalau anda tidak mengikuti perjalaan FnF dari seri sebelumnya, mungkin anda akan heran mengapa orang tertawa pada dialog tersebut. Walau Fast 5 (menurut saya telah berubah dari formula yang dipakai pada FnF 1, 2 dan 3 yang mengandalkan penampilan mobil-mobil balap dan aksi balapan liar dan taruhan, namun Fast 5 telah berhasil mengangkat kembali citra FnF ke posisi puncak kesenangan penontonnya. Hanya yang cukup mengganggu saya adalah benang merah pada FnF 1, 2, 3, 4 dan 5, yaitu mengapa mobil-mobil balap buatan Jepang dan Eropa ditampilkan dalam model-model terbaru (yang klasik hanya Nissan Skyline GTR dan Mazda RX7), sementara mobil-mobil produksi Amerika Serikat yang ditampilkan kebanyakan klasik. Berbeda dengan Transformer yang begitu menganggungkan produk-produk terbaru dari General Motor Company. Hahaha. Only Heaven Knows!

  2. Melengkapi comment nyanyianhening, Fast n Furious 1, 2 dan 3 juga sangat mengandalkan musik Original Soundtracknya. Untuk Original Soundtrack Theme-nya yang terbaik adalah FnF 2 dan 3. Sampai sekarang musik 50 cent dan Teriyaki Boys masih terngiang di telinga saya setiap mengingat Fast and Furious. Haha!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s