Review: Super (2010)


Mengikuti formula yang sebelumnya telah digunakan oleh Defendor (2009) dan Kick-Ass (2010), Super berkisah mengenai Frank D’Arbo (Rainn Wilson), seorang juru masak di sebuah restoran kecil, yang berusaha untuk menjadi seorang superhero dengan tujuan agar dapat merebut kembali istrinya, Sarah Helgeland (Liv Tyler), yang kabur dengan seorang pemilik klub malam sekaligus merupakan seorang bandar narkotika dan obat-obatan terlarang, Jacques (Kevin Bacon). Sarah sendiri, sebelum berkenalan dan menikah dengan Frank, merupakan seorang mantan pecandu narkoba yang sedang berada dalam masa rehabilitasinya. Awal pernikahannya dengan Frank berjalan lancar, hingga akhirnya Sarah berkenalan dengan Jacques yang akhirnya membawanya kembali untuk menggunakan barang-barang haram tersebut.

Kehadiran Frank sebagai seorang superhero, yang menamakan dirinya The Crimson Bolt, secara perlahan mulai menarik perhatian publik. Dengan menggunakan senjata seadanya, The Crimson Bolt mulai memerangi berbagai tindak kejahatan yang terjadi di sekitarnya, mulai dari penjualan narkoba, tindakan seks di bawah umur hingga menindak mereka yang menyela antrian di sebuah gedung bioskop. Tindak-tanduk The Crimson Bolt tersebut ternyata menarik perhatian Libby (Ellen Page), seorang gadis penjaga toko komik yang selama ini telah menduga bahwa Frank adalah orang yaang berada di balik topeng The Crimson Bolt. Berhasil meyakinkan Frank bahwa The Crimson Bolt membutuhkan pasangan kerja, Libby pun kemudian menjelma menjadi Boltie. Berdua, keduanya kemudian mulai memerangi kejahatan dan menyusun rencana untuk dapat melumpuhkan gembong narkoba yang dipimpin Jacques sekaligus merebut Sarah kembali.

Walaupun memiliki premis yang cenderung sangat familiar, Super memiliki cukup banyak keistimewaan jika dibandingkan dengan film-film lain yang memiliki tema cerita yang serupa. Tidak seperti Defendor yang bergerak terlalu gelap atau Kick-Ass yang terlalu komikal, Super mampu bertahan di pertengahan kedua area tersebut dan menghasilkan jalan cerita yang terasa lebih realistis. James Gunn juga mampu menjaga alur penceritaan Super dengan begitu seksama: ia mengarahkan Super layaknya sebuah film drama komedi mengenaai kehidupan seorang pria yang baru saja ditinggal oleh sang istri di durasi awal film, untuk kemudian bergerak menjadi sebuah film yang menceritakan mengenai balas dendam yang berbalut banyak adegan kekerasan di durasi sisanya.

Tidak hanya melulu terobsesi untuk mengisahkan mengenai rasaa sakit hati yang dialami oleh sang karakter utama, Super juga menyelipkan beberapa tema penceritaan lainnya seperti tema relijius, personal dan kekerasan yang membuat jalan cerita Super terasa lebih berwarna. Tidak perlu khawatir jika Super berakhir sebagai sebuah film yang terkesan terlalu berat dengan segala pesan-pesan kehidupannya. James Gunn bagaimanapun telah mengemas Super untuk menjadi sebuah sajian drama komedi yang walau seringkali gagal untuk memberikan hiburan yang mendalam, namun tetap mampu tampil ringan untuk dinikmati.

Super sendiri tidak selalu berjalan dengan lancar. Menit-menit awal film ini, dimana Rainn Wilson menguasai jalan cerita dengan berbagai ilusi keagamaan yang ia alami selepas kepergian istrinya, beberapa kali sempat memberikan momen-momen yang berjalan terlalu datar. Untungnya kemudian karakter Libby yang diperankan oleh Ellen Page datang dan memberikan sebuah warna antusiasisme baru di dalam jalan cerita. Walau Page memberikan nafas yang hampir serupa terhadap karakter Libby seperti yang pernah ia berikan dalam memerankan Juno MacGuff dalam Juno (2007), namun tetap saja penampilan Libby berhasil memberikan poin tersendiri bagi jalan cerita Super.

Sebuah twist cerita dihadirkan oleh Gunn menjelang jalan cerita film ini berakhir. Twist dimana Gunn memutuskan untuk mematikan salah satu karakter sentral-nya. Momen yang cukup mengejutkan, namun harus diakui mampu bekerja dengan baik. Jalan cerita yang tadinya berjalan dengan intensitas tinggi dan dipenuhi dengan guyonan-guyonan khas black comedy, kemudian berjalan dengan penuh emosional walaupun intensitasnya masih dipertahankan pada posisi yang sama. Hal ini yang membuat paruh kedua Super terasa berjalan lebih baik daripada sebelumnya, walaupun Gunn sempat kehilangan fokus cerita dalam mengisahkan hubungan antara Frank dan Libby yang melebihi dari sekedar hubungan dua orang sahabat.

Pernah bekerja sama lewat Juno sebelumnya, cukup tidak mengherankan jika Rainn Wilson mampu memberikan chemistry yang sangat erat dengan Ellen Page.Keduanya mampu memberikan penampilan yang saling mendukung satu sama lain dalam menghidupkan karakter yang mereka perankan. Tidak banyak yang dapat dikatakan untuk Kevin Bacon dan Liv Tyler. Peran yang diberikan kepada mereka cukup terbatas walaupun keduanya tetap mampu memberikan penampilan akting yang tidak mengecewakan. Nathan Fillion sendiri sering tampil mencuri perhatian lewat perannya sebagai superhero relijius, The Holy Avenger. Lewat penampilan yang eksentrik dan cukup terbatas, Fillion mampu memberikan kesan tersendiri di setiap kehadirannya di dalam jalan cerita Super.

Meski sangat terasa bahwa tata produksi Super memiliki kualitas yang terbatas, namun hal tersebut, untungnya, tidak mempengaruhi kemampuan James Gunn untuk bercerita banyak lewat filmnya. Meskipun pada beberapa bagian cerita masih terasa datar dan kurang fokus, namun Super mampu tampil menonjol lewat jalan penceritaan yang hadir secara personal serta tampilan kekerasan di dalam jalan cerita yang diekspos secara maksimal. Jajaran pemeran film ini juga memberikan dukungan penuh dengan keberhasilan mereka dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Bukan sebuah karya yang istimewa, namun tetap mampu untuk tampil sebagai sebuah karya yang cukup mampu untuk bekerja dengan  baik kepada para penontonnya.

Super (This Is That Productions/HanWay Films/Ambush Entertainment, 2010)

Super (2010)

Directed by James Gunn Produced by Ted Hope, Miranda Bailey Written by James Gunn Starring Rainn Wilson, Ellen Page, Liv Tyler, Kevin Bacon, Nathan Fillion, Michael Rooker, Gregg Henry, Andre Royo, Sean Gunn, Stephen Blackeheart, Linda Cardellini, Rob Zombie Music by Tyler Bates Cinematography Steve Gainer Editing by Cara Silverman Studio This Is That Productions/HanWay Films/Ambush Entertainment Running time 91 minutes Country United States Language English

Advertisements

2 thoughts on “Review: Super (2010)”

  1. mulanya saya mengira ini murni film komedi, namun pelan2 tapi pasti saya paham ternyata film ini sangat berbeda dengan film kick-ass. kick ass dimulai dengan cerita seorang biasa yang ingin menjadi superhero, tetapi pada akhirnya menjadi seperti superhero sungguhan. tidak demikian dengan super. ia tetap konsisten bahwa demikianlah jadinya kalau orang biasa mau berlagak menjadi superhero. jalan ceritanya semakin gelap dan pahit di paruh kedua film, mungkin setingkat dengan film defendor. kita secara perlahan dibuat sadar bahwa frank sesungguhnya adalah seorang pria dengan gangguan jiwa scizophrenia, dan Libby, rekan kerjanya yang keliatan normal dari luar ternyata adalah seorang sociopath yang dengan enteng mau membunuh orang hanya gara2 orang tsb merusak kunci mobil temannya. walaupun dibalut dengan komedi orang yang benar2 memperhatikan ceritanya akan sadar bahwa justru kedua tokoh superhero-wannabe ini lebih psiko dibanding penjahat yang menjadi lawan mereka.

    mendekati akhir film seperti yang anda bilang ada twist yang mengejutkan dan ga disangka-sangka, tidak seperti tipikal film2 mainstream keluaran hollywood yang akan memberikan ending yang happy dan klise. endingnya depressing, bikin sedih dan membuat anda kasihan dengan nasib apesnya frank. ternyata hanya Libby yang bisa memahami frank karena mereka sama2 sakit jiwa. sarah hanya menjadikan frank sebagai pelarian saat kondisinya sedang labil karena masalah narkotik. pesannya menurut saya cukup mengena :
    1. KALAU BERHALUSINASI YANG ANEH2 SEGERALAH BEROBAT
    2. JANGAN BELAGA JADI JAGOAN

    pada akhirnya hanya dua hal yang paling saya ingat dari film ini:
    1. It’s all gushy~~~ (hahahaha)
    2. Kepala yang hancur separuh T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s