Review: The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec (2010)

Perkenalkan Adèle Blanc-Sec! Seorang jurnalis wanita yang tidak hanya dianugerahi dengan wajah yang cantik, namun memiliki keberanian dan ketangguhan diri untuk mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Dalam The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec, yang diadaptasi dari seri komik Perancis karya Jacques Tardi oleh sutradara Luc Besson, Adèle (Louise Bourgoin) dikisahkan harus berkelana hingga Mesir, melakukan pencurian sebuah mumi untuk dibawa dan dihidupkan kembali oleh Professor Espérandieu (Jacky Nercessian). Namun jangan salah! Tujuan Adèle dalam mencuri dan menghidupkan kembali mumi tersebut adalah untuk mengobati adiknya, Agathe (Laure de Clermont), yang telah lama berada dalam keadaan koma akibat sebuah kecelakaan.

The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec tidak hanya bercerita mengenai kisah petualangan Adèle dalam usahanya untuk mengobati sang adik. Berlatar belakang kisah kota Paris di awal abad 20, film ini juga mengisahkan kekacauan yang terjadi di kota tersebut ketika Professor Espérandieu yang dengan kekuatan telepatisnya secara tidak sengaja menetaskan fosil telur seekor pterodactyl yang telah berusia 136 juta tahun. Kematian seorang pejabat kota Paris yang disebabkan oleh pterodactyl tersebut kemudian menyebabkan begitu banyak pihak — termasuk Presiden Perancis, Armand Fallières (Gérard Chaillou) — yang ingin agar masalah tersebut terselesaikan dengan cepat.

Setelah beberapa seri Arthur (2006) yang cukup sukses, Besson sepertinya masih ingin mengisi daftar filmografinya dengan film-film yang dapat dinikmati oleh keluarga, termasuk dengan mengarahkan The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec, dengan jalan cerita yang cukup menyenangkan untuk dinikmati serta diisi deretan karakter yang bervariasi. Masalahnya, The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec memiliki terlalu banyak karakter serta plot cerita yang terjadi pada karakter-karakter tersebut sehingga pada satu titik, The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec terkesan kehilangan pegangannya untuk tetap mampu menghadirkan jalan cerita yang relevan kepada penontonnya.

Dua plot cerita yang berjalan – mengenai usaha mengungkap misteri keberadaan sang pterodactyl serta mengenai usaha Adèle dalam menyembuhkan Agathe – juga tidak mampu saling berdifusi antara plot satu dengan yang lainnya, jika tidak mau disebut terlalu dipaksakan untuk saling terhubung satu sama lain. Jalan cerita yang berjalan sedikit absurd sepertinya tidak akan menjadi masalah yang begitu besar karena Besson memang menujukan film ini murni sebagai sebuah film petualangan yang menghibur dan, harus diakui, berhasil dijalankan dengan cukup baik walaupun di awal film sempat terasa bahwa The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec berjalan sedikit terlalu lamban dan kurang menggigit.

Besson sangat beruntung untuk memiliki seorang Louise Bourgoin yang memerankan karakter utama,  Adèle Blanc-Sec. Permainan Bourgoin terasa sangat mampu dalam menghidupkan karakter Adèle: seorang wanita cerdas, cantik, dan tangguh yang rasanya tidak aka nada seorangpun yang mau mencari masalah dengannya. Bourgoin juga mampu mengantarkan setiap dialog-dialog tajam nan jenaka yang dikeluarkan karakter Adèle dengan sangat baik dan menjadi satu unsur keunggulan tersendiri bagi film ini. Kemampuan akting Bourgoin juga mampu diimbangi dengan baik oleh para pemeran pendukung lainnya yang menghasilkan deretan departemen akting yang sangat kuat bagi film ini secara keseluruhan.

Menghadirkan karakter pterodactyl dan deretan mumi yang kembali dari kematiannya, Besson membekali The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec dengan tata produksi yang memuaskan. Tampilan special effect yang hadir di sepanjang cerita terlihat sangat meyakinkan dan terasa begitu nyata. Sebuah keberhasilan tim produksi lainnya datang ketika banyak diantara karakter-karakter yang hadir di dalam jalan cerita juga tampil dengan tata rias yang hampir menutupi wajah asli pemerannya secara keseluruhan. Ditambah dengan iringan tata musik yang cukup mampu menambah aliran emosi pada banyak adegan, serta tata kostum dan sinematografi yang berhasil memberikan kesan Paris yang begitu hidup di awal abad 20, The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec adalah sebuah pencapaian yang cukup berhasil dari sisi teknisnya.

Seperti layaknya Arthur, apakah Luc Besson masih akan melanjutkan kisah petualangan Adèle Blanc-Sec dalam film selanjutnya? Sebagai sebuah film yang bertemakan petualangan, The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec adalah sebuah film yang cukup berhasil dalam menghanyutkan penontonnya untuk masuk ke dalam jalan cerita yang diisi dengan begitu banyak pengalaman aneh yang dibawakan oleh seorang jurnalis wanita cantik nan tangguh, Adèle Blanc-Sec. Tata teknis film ini sangat tidak mengecewakan dengan Louis Bourgoin tampil begitu mempesona sebagai sang karakter utama. Besson tinggal memoles departemen penulisan cerita film ini untuk menjadikan petualangan Adèle Blanc-Sec berikutnya menjadi lebih menegangkan. Untuk sementara, apa yang dihasilkan Besson lewat The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec adalah sebuah hasil yang tidak mengecewakan walaupun seharusnya mampu tampil lebih baik lagi.

The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec (Europa Corp./Apipoulaï Prod./TF1 Films Production/Canal+/Sofica Europacorp/Cofinova 6/EuropaCorp. Distribution, 2010)

The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec (Les Aventures Extraordinaires d’Adèle Blanc-Sec) (2010)

Directed by Luc Besson Produced by Virginie Silla Written by Luc Besson (screenplay), Jacques Tardi (comic books) Starring Louise Bourgoin, Gilles Lellouche, Jacky Nercessian, Philippe Nahon, Jean-Paul Rouve, Mathieu Amalric, Nicolas Giraud, Laure de Clermont, Gérard Chaillou Music by Éric Serra Cinematography Thierry Arbogast Editing by Julien Rey Studio Europa Corp./Apipoulaï Prod./TF1 Films Production/Canal+/Sofica Europacorp/Cofinova 6 Distributed by EuropaCorp. Distribution Running time 107 minutes Country France Language French

7 thoughts on “Review: The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec (2010)”

  1. Hi, aku sudah baca blognya hampir setahun. Love the review, and its also quite update.
    Tampilannya jg “clean” jd enak bacanya. Keep up the good work! D):

    1. Terima kasih banyak mbak udah terus membaca At the Movies. Mudah-mudahan ke depannya bisa terus update deh blog-nya. Salam kenal yah!

      1. salam kenal jg. umm enaknya aku panggil apa ya? ada beberapa film disini yang belum aku “temukan” seperti dog tooth. ada referensi ga, kl di jakarta cari dimana ya?

        1. Hmmm… panggil nama saja. Hmmm… banyak juga yang menanyakan Dogtooth. Saya juga kemaren dapatnya dari teman kemaren yang punya hobi download film. Mungkin bisa bergabung ke beberapa forum film seperti di Kaskus. Disana bisa dapat banyak informasi juga tentang film dan gimana cara ngedapetin film-film yang susah didapetin.

  2. Eh, kemaren baru nonton nih film. Emang sih plotnya rada tumpang tindih gitu. Tapi sebagai hiburan, bagus lah. Apalagi Adèle-nya enak dilihat. Hehehehe. Btw, abis nonton gue langsung nyari komiknya, tapi ternyata gambar tokoh Adèle di komiknya beda banget ya sama di film?! Mendingan di film kemana-mana. Hahahahaha. Jadi kurang semangat deh baca komiknya…. :p

  3. Film-film Luc Besson memang selalu mampu menghibur. Memang tidak semua karya Luc Besson adalah karya terbaik, namun hampir dapat dipastikan penonton pasti terhibur. Sejauh ini saya belum pernah kecewa menonton karyanya. Khusus untuk Adele, memang sepertinya kita menonton kumpulan klip-klip dari cerita yang berbeda dan berusaha dihubungkan satu dengan yang lain. Tapi seperti yang sudah dikatakan, sebagai hiburan film ini tidak mengecewakan.

Leave a Reply