Review: Secretariat (2010)


Secretariat adalah sebuah film bertemakan olahraga, yang seperti halnya The Blind Side (2009) atau The Fighter (2010), berisikan jalan cerita mengenai perjuangan menuju sebuah kesuksesan yang begitu mudah ditebak oleh setiap penontonnya. Memang, diantara banyak genre film lainnya, film-film bertema olahraga adalah genre yang paling sedikit memberikan variasi di dalam jalan ceritanya. Namun, letak keunggulan film-film bertemakan olahraga bukanlah pada betapa kreatifnya naskah cerita yang dihadirkan. Bagaimana para produser film-film olahraga tersebut dalam mengantarkan jalan cerita yang telah begitu familiar menjadi sebuah kisah yang inspiratif dan menyentuh hati setiap penontonnya adalah letak kelebihan setiap film-film tersebut. Dan dalam hal ini, Secretariat dapat ditempatkan pada posisi sebagai salah satu yang terbaik diantaranya.

Nama Secretariat mungkin sangat asing bagi mereka tinggal di luar wilayah Amerika Serikat. Namun, bagi warga Amerika Serikat sendiri, Secretariat merupakan sebuah perlambang dari sebuah usaha keras dalam menghadapi semua rintangan yang ada ketika semua orang hampir mengatakan bahwa hal tersebut sama sekali tidak dapat dilakukan. Dan keberhasilan itu sendiri bukan datang dari seorang atlet, ataupun dalam wujud seorang manusia… melainkan dalam wujud seekor kuda. Sama seperti halnya Seabiscuit (2003), yang mengisahkan mengenai seekor kuda pacuan yang begitu populer bagi masyarakat Amerika Serikat, Secretariat mengisahkan mengenai seekor kuda pacuan yang pada tahun 1973 berhasil memenangkan tiga pacuan paling prestisius di Amerika Serikat dan menjadi kuda pertama dalam 25 tahun yang melakukannya.

Dengan cerita yang ditulis berdasarkan buku William Nack, Secretariat: The Making of a Champion (2002), ada begitu banyak kisah dibalik kesuksesan Secretariat. Sebagai seekor kuda pacuan, kuda yang pada awalnya bernama Big Red ini bukanlah berasal dari jenis kuda yang dapat diandalkan untuk dapat memenangkan pacuan kuda. Walau begitu, fakta tersebut tidak membuat pemiliknya, Penny Chenery (Diane Lane), menyerah begitu saja. Dengan bantuan seorang pelatih kuda pacuan terkenal, Lucien Laurin (John Malkovich), Penny kemudian merawat dan melatih Secretariat untuk menjadi seekor kuda yang tangguh. Tantangan tidak saja berasal dari sang kuda. Keberadaan Penny yang seorang wanita di dunia pacuan kuda yang didominasi oleh banyak pria sendiri disepelekan banyak orang. Berkat usaha yang keras, dan rasa cinta yang begitu mendalam pada sang kuda, Penny berhasil mematahkan semua prediksi dan menghantarkan Secretariat menjadi seekor kuda pacuan terbaik.

Naskah cerita yang ditulis Mike Rich (Finding Forrester, 2000) berfokus pada tantangan dan perubahan yang dialami oleh karakter Penny Chenery selama melatih dan membawa Secretariat dalam berbagai pacuan kuda. Hal ini yang berhasil membuat Secretariat lebih terasa humanis jika dibandingkan dengan Seabiscuit yang lebih banyak menyentuh masalah sosial politik. Rich juga berhasil menyelipkan sedikit tema penceritaan mengenai emansipasi wanita dan kisah keluarga yang cukup mampu memberikan poin tambahan terhadap kisah familiar yang dihadirkan di sepanjang Secretariat.

Yang paling mengagumkan dari Secretariat mungkin adalah pemilihan sutradara Randall Wallace (We Were Soldiers, 2002) untuk menghadirkan kisah ini dengan tata teknis yang begitu mengagumkan, khususnya pada tata sinematografi yang dihadirkan ketika adegan pacuan kuda sedang berlangsung. Dengan kombinasi pengambilan gambar dengan sudut-sudut kamera yang tepat dan beberapa pengambilan gambar secara close-up, Wallace membuat penonton Secretariat serasa benar-benar sedang berada di tengah-tengah perlombaan pacuan kuda tersebut, yang berhasil memberikan atmosfer cerita yang begitu mendebarkan dan menegangkan bagi setiap penonton. Tata suara yang dinamis juga semakin mendukung keunggulan tata teknis gambar tersbut dan membuat menyaksikan Secretariat benar-benar menjadi seperti sebuah pengalaman tersndiri.

Keunggulan lain datang dari departemen akting. Aktris Diane Lane, yang selalu dapat diandalkan untuk memerankan berbagai karakter, memberikan penampilan terbaiknya sebagai Penny Chenery. Sebagai Penny, Lane tampil penuh kelugasan dalam setiap dialognya, namun tetap mampu tampil dengan penuh kelembutan ketika ia dihadirkan di tengah-tengah keluarga atau orang-orang yang ia cintai. John Malkovich juga tidak tampil mengecewakan sebagai pelatih Secretariat, Lucien Laurin. Bahkan, Malkovich seringkali berhasil mencuri perhatian dalam setiap kehadirannya di berbagai adegan.

Ketiadaan sesuatu baru yang dapat disampaikan oleh naskah cerita Secretariat ternyata tidak menghalangi Randall Wallace untuk memberikan eksplorasi maksimal pada kisah mengagumkan mengenai seekor kuda pacuan populer asal Amerika Serikat ini. Dengan memanfaatkan tata teknis yang sanggup membuat setiap penonton seperti merasa sedang berada di tengah-tengah pacuan kuda, Secretariat akan berhasil tampil memukau setiap penontonnya. Beberapa kelemahan memang ditemukan pada naskah ceritanya, namun dengan penampilan para jajaran pemeran yang berhasil menghidupkan setiap karakter dengan baik, Secretariat cukup mampu untuk tampil sebagai sebuah film bertema olahraga yang inspiratif dan menyentuh hati setiap penontonnya.

Secretariat (Walt Disney Pictures/Mayhem Pictures/Walt Disney Studios Motion Pictures, 2010)

Secretariat (2010)

Directed by Randall Wallace Produced by Mark Ciardi, Gordon Gray Written by Mike Rich (screenplay), William Nack (book) Starring Diane Lane, John Malkovich, AJ Michalka, Drew Roy, Margo Martindale, Dylan Walsh, Scott Glenn, Kevin Connolly, Dylan Baker, Carissa Capobianco, James Cromwell, Sean Cunningham  Music by Nick Glennie-Smith Cinematography Dean Semler Editing by John Wright Studio Walt Disney Pictures/Mayhem Pictures Distributed by Walt Disney Studios Motion Pictures Running time 123 minutes Country United States Language English

Advertisements

2 thoughts on “Review: Secretariat (2010)”

  1. ane baru aja nonton ini film di TV kabel gan, aneh nyampe terharu dan meneteskan air mata gan. asli suer. langsung search review nya (kebalik ya) ? overall keren reviewnya dan film nya juga emang cool

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s