Review: The Eagle (2011)

Karir sutradara asal Skotlandia, Kevin Macdonald, sama sekali jauh dari kata mengecewakan. Memulai karirnya sebagai seorang sutradara film dokumenter pada tahun 1995, ia kemudian berhasil memperoleh sebuah Academy Awards untuk film dokumenternya, One Day in September (1999), yang berkisah mengenai pembunuhan atlit Israel di Olimpiade Munich pada tahun 1972. Setelah beberapa film dokumenter setelahnya, Macdonald melakukan debut penyutradaraan pada film layar lebar dengan mengarahkan The Last King of Scotland (2006), yang berhasil memenangkan sebuah Academy Awards untuk aktor Forest Whitaker, yang diikuti dengan adaptasi miniseri State of Play (2009) yang kemudian berhasil meraih banyak pujian dari kritikus film dunia.

Karya terakhir Macdonald, The Eagle, yang merupakan adaptasi dari novel historis populer karya Rosemary Sutcliff yang berjudul The Eagle of the Ninth (1954), sayangnya, tidak akan memberikan kredibilitas tambahan pada karir penyutradaraan Macdonald. Menyinggung mengenai misteri hilangnya satu legiun tentara Roma yang dikenal sebagai Ninth Legion di dalam medan perang – satu topik yang juga baru diangkat sutradara Neil Marshall lewat filmnya, Centurion (2010), Macdonald harus diakui mampu merangkai tiap adegan peperangan yang ada di dalam cerita dengan tingkat kerapian yang cukup baik. Sayangnya, jalan cerita yang terlalu bertele-tele untuk sebuah tema yang telah banyak diangkat serta kemampuan akting para pemerannya yang tidak terlalu menonjol membuat 114 menit durasi film ini terasa cukup melelahkan.

Berlatar belakang pada abad ke-2 SM, The Eagle dibuka dengan narasi yang menceritakan mengenai pasukan Roma yang hampir tidak dapat dikalahkan di setiap peperangan yang mereka hadapi, kecuali pada sebuah perang yang terjadi di pegunungan Skotlandia. Pasukan Roma yang dikirim ke daerah tersebut, disebut sebagai Ninth Legion, menghilang tanpa jejak, yang diikuti dengan hilangnya sebuah patung emas berbentuk elang yang dianggap para pembesar Roma sebagai sebuah lambang harga diri bangsa mereka. Kekalahan tersebut dianggap sangat memalukan dan terus berusaha ditutup-tutupi oleh banyak pihak.

Berlanjut pada masa dua puluh tahun kemudian, The Eagle mengenalkan penontonnya pada Marcus Aquila (Channing Tatum), anak dari pimpinan Ninth Legion yang dianggap bertanggungjawab terhadap kekalahan pasukan tersebut. Marcus memiliki obsesi yang sangat besar untuk berusaha menemukan patung elang emas yang hilang agar dapat mengembalikan nama baik keluarganya. Untuk itu, Marcus akhirnya memutuskan melakukan perjalanan ke daerah sebuah suku pedalaman yang dianggap menyimpan patung tersebut. Walau telah diingatkan oleh sang paman, Aquila (Donald Sutherland), bahwa perjalanan tersebut adalah sangat mematikan, Marcus mengacuhkannya dan terus melanjutkan perjalanan yang ia lakukan bersama budaknya, Esca (Jamie Bell).

Dengan premis yang digambarkan tersebut, sepertinya penonton telah dapat menebak kemana arah film ini akan berjalan. Dua karakter utamanya, yang pada awalnya tidak saling mempedulikan satu sama lain, akan mulai saling menghormati dan bahu membahu dalam menghadapi berbagai rintangan yang mereka hadapi di sepanjang perjalanan. Sangat simpel, dan memang tidak ada sebuah elemen baru yang coba ditanamkan sutradara Kevin Macdonald di dalam jalan ceritanya.

Macdonald, harus diakui, mampu merangkai setiap adegan peperangan yang ada di dalam jalan cerita film ini dengan cukup baik. Adegan-adegan itu mampu terjalin dengan begitu erat dan terlihat nyata yang kemudian menjadi bagian terbaik di sepanjang penceritaan film ini. Namun, hal tersebut tetap tidak mampu menutupi betapa tipisnya cerita film ini. Dan ketika Macdonald menghadirkannya dalam tempo yang sederhana serta durasi yang hampir mencapai dua jam penuh, sangat dapat dirasakan bahwa The Eagle memiliki jalan cerita yang menjemukan dan seringkali melelahkan untuk terus diikuti.

Sebuah kesalahan fatal lainnya berada di tangan sang aktor utama, Channing Tatum. Harus diakui, secara fisik, Tatum memiliki seluruh persyaratan yang dapat membuatnya terlihat sebagai seorang prajurit pasukan Roma. Namun sebagai seorang pemimpin pasukan? Tatum sama sekali tidak memiliki kharisma yang kuat untuk sampai di tahap tersebut. Lihat saja pada beberapa bagian ketika karakter Marcus berteriak dan memberikan perintah pada pasukannya. Tatum masih perlu banyak belajar untuk dapat menuangkan seluruh aliran emosi yang tepat dalam setiap kalimat dan ekspresi wajah yang diperlukan untuk menghidupkan karakternya.

Selain Tatum, seluruh aktor lainnya menampilkan permainan yang tidak mengecewakan… setidaknya bila dibandingkan dengan Tatum. Yang paling terasa, tentu saja, Jamie Bell yang mendampingi Tatum hampir di setiap adegan. Sayangnya, seluruh karakter yang ada di The Eagle, selain karakter yang diperankan Tatum, sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk menonjolkan diri mereka di dalam jalan cerita. Hasilnya, akting Bell, Mark Strong, aktor senior Donald Sutherland, serta aktor Perancis yang baru saja sukses lewat A Prophet (2009), Tahar Rahim, terasa tidak begitu berarti untuk peningkatan kualitas film ini secara keseluruhan.

The Eagle sama sekali bukanlah sebuah film yang sangat buruk. Pada beberapa adegan, film ini sempat tampil cukup meyakinkan. Tata sinematografi yang dihasilkan oleh Anthony Dod Mantle juga sangat memikat di sepanjang cerita film. Namun, hal tersebut juga tetap tidak mampu menghilangkan fakta lemahnya kualitas penulisan cerita film ini, yang kemudian dihadirkan Macdonald dengan tempo yang tidak begitu cepat dan durasi yang begitu lama, yang semakin membuat The Eagle menjadi terasa terlalu menjemukan untuk diikuti kisahnya.

The Eagle (Toledo Productions/Film4/Focus Features, 2011)

The Eagle (2011)

Directed by Kevin Macdonald Produced by Duncan Kenworthy Written by Jeremy Brock (screenplay), Rosemary Sutcliff (novel) Starring Channing Tatum, Jamie Bell, Donald Sutherland, Mark Strong, Tahar Rahim, Paul Ritter Music by Atli Örvarsson Cinematography Anthony Dod Mantle Editing by Justine Wright Studio ToledoProductions/Film4 Distributed by Focus Features Running time 114 minutes Country United States, United Kingdom Language English

One thought on “Review: The Eagle (2011)”

Leave a Reply