Review: Easy A (2010)

This is it, Emma Stone! This is the exact moment that you’ve been waiting for! The real road to stardom! Ya… Emma Stone jelas bukan seorang aktris baru yang ditemukan sutradara Will Gluck untuk membintangi film yang menjadi karya keduanya, Easy A. Sebelumnya, Stone telah menunjukkan bakat yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang aktris dengan bakat komedi yang sangat menyegarkan di Superbad (2007), The House Bunny (2008) dan Zombieland (2009), namun dengan porsi peran yang tidak begitu besar. Namun lewat Easy A, sebuah film drama komedi remaja yang memiliki kualitas cerita yang jauh berada di atas film-film sepantarannya, Emma Stone benar-benar diberikan kesempatan untuk bersinar terang. Dan ia melakukannya dengan baik. Dengan sangat baik!

Kapan sebuah film drama komedi remaja berada pada level secerdas ini? Mungkin Mean Girls (2004) — yang ditulis oleh Tina Fey dan berhasil meroketkan nama Lindsay Lohan — adalah yang terakhir melakukannya. Seperti halnya film drama komedi remaja sukses lainnya yang mengambil tema cerita literatur klasik sebagai inspirasi ceritanya – Clueless (1995) yang mengambil inspirasi dari karya Jane Austen, Emma, dan 10 Things I Hate About You (1999) yang mengambil inspirasi dari karya William Shakespeare, The Taming of the Shrew — penulis naskah, Bert V. Royal, juga mengadaptasi jalan cerita The Scarlet Letter karya Nathaniel Hawthorne untuk jalan cerita Easy A, yang berkisah mengenai perjuangan untuk menciptakan kehidupan baru setelah melalui beberapa kejadian yang membuat kehidupan sang karakter utama dipandang sebelah mata.

Dalam Easy A, Stone berperan sebagai Olivia Penderghast, seorang gadis biasa yang eksistensinya di sekolah sama sekali tidak pernah dipedulikan banyak orang… hingga akhirnya ia membuat suatu kebohongan pada temannya, Rhiannon (Aly Michalka), bahwa ia telah kehilangan keperawanan… yang secara tidak sengaja terdengar oleh Marianne Bryant (Amanda Bynes), seorang gadis yang selalu menerapkan prinsip agama dalam setiap pandangan dan perbuatannya. Olivia jelas tidak akan menyangka kebohongan yang ia ungkapkan akan menjadi sebesar itu dan membuat ia kini menjadi pusat perhatian seluruh siswa di sekolah.

Perhatian seluruh masyarakat di sekolah… namun tidak untuk hal yang baik. Ia secara perlahan kini dianggap sebagai simbol wanita murahan bagi teman-temannya. Awalnya, Olivia menikmati status dan perhatian tersebut, walaupun setelah beberapa lama, Olivia tersadar bahwa dia membenci dirinya yang baru. Tidak mau terjebak seperti karakter Hester Prynne di novel The Scarlett Letter yang ia pelajari, dimana karakter tersebut hanya dapat berdiam diri ketika ia dihakimi oleh banyak orang, Olivia kini menyusun rencana untuk dapat memulihkan nama baiknya kembali di sekolah.

Untuk sebuah drama komedi remaja dengan durasi tayang selama 92 menit, Easy A menawarkan begitu banyak tema yang mendalam di sepanjang jalan ceritanya. Mulai dari seks, persahabatan, keperawanan, pengkhianatan hingga fanatisme dalam mempercayai suatu hal mampu diolah dengan baik oleh penulis naskah, Bert V. Royal, dengan sangat baik. Semua tema yang terkesan berat dan dimasukkan dalam jalan cerita Easy A tersebut justru tidak mengurangi kandungan komedi yang ada di dalamnya ketika Bert secara cerdas berhasil muncul dengan banyak dialog-dialog satir yang sangat mampu untuk mengundang senyum siapapun yang mendengarnya.

Kelemahan Easy A terdapat pada paruh kedua film ini, ketika karakter Olivia digambarkan telah menemui titik terendah dalam kehidupannya dan berusaha untuk bangkit kembali. Entah mengapa, bagian ini terasa hanya sebagai bagian yang diperpanjang dan kurang begitu esensial untuk berada di dalam jalan cerita. Bagian ketika Olivia mendapat ajakan kencan pertama oleh seorang pemuda juga tidak terasa terlalu berguna ketika bagian tersebut kurang begitu mampu dipertajam kehadirannya oleh Will Gluck. Untungnya, titik-titik lemah ini sama sekali tidak membawa turun kualitas Easy A secara keseluruhan – walaupun ending yang disajikan juga terkesan terlalu biasa setelah kualitas tinggi yang dihadirkan film ini di sepanjang cerita sebelumnya.

Dan apa yang membuat nama Emma Stone begitu banyak dibicarakan ketika ia membintangi film ini? Daya tariknya, yang paling terutama. Daya tarik akan seorang gadis berambut merah yang mampu melontarkan begitu banyak kalimat-kalimat satir dari mulutnya. Sebagai Olivia, Stone dengan sangat sempurna mengeluarkan daya tarik tersebut sekaligus kemampuannya dalam menghidupkan setiap dialog dan adegan yang menyertakan dirinya. Tak hanya Stone, bintang-bintang muda lainnya juga berhasil mencuri perhatian di film ini, khususnya Amanda Bynes yang berperan sebagai Marianne Bryant. Walau tidak mendapatkan porsi peran sebesar Stone, namun dialog-dialog Marianne yang tak kalah satirnya dengan dialog Olivia berhasil membuat Bynes tampil sangat menyegarkan.

Selain dipenuhi dengan talenta-talenta muda, Easy A juga dipenuhi dengan nama-nama aktor dan aktris komedi kaliber seperti Stanley Tucci, Patricia Clarkson, Thomas Haden Church, Lisa Kudrow dan Malcolm McDowell. Yang membuat peran mereka sedikit berbeda dengan peran-peran karakter dewasa di banyak film drama komedi remaja lainnya, di sini mereka digambarkan sebagai karakter dewasa yang cerdas dan bijaksana, daripada digambarkan hanya sebagai peran pendamping tanpa memberikan kontribusi peran yang jelas. Dari nama-nama tersebut, Tucci dan Clarkson tampil sangat jenaka dengan peran mereka sebagai orangtua Olive. Beberapa dari penonton kemungkinan besar akan mengharapkan bahwa mereka memiliki orangtua yang sejenaka pasangan Tucci dan Clarkson.

Easy A mungkin bukanlah film pertama yang berhasil mengeluarkan sisi terbaik dari sebuah kisah yang memanfaatkan kehidupan remaja dan sekolah sebagai latar belakang ceritanya. Namun, hampir tidak ada drama komedi remaja yang tampil selucu dan secerdas ini dalam beberapa tahun terakhir. Ini yang membuat Easy A tampil begitu istimewa. Naskah yang dipenuhi dengan jalan cerita yang menyenangkan untuk diikuti, dialog-dialog satir nan cerdas serta mampu dihidupkan dengan sangat baik oleh para jajaran pemerannya – khususnya Emma Stone yang tampil dengan begitu menyihir di sepanjang film, Easy A adalah sebuah drama komedi remaja dengan kualitas yang akan diharapkan setiap orang ada di setiap film bergenre serupa.

Easy A (Will Gluck Productions/Screen Gems, 2010)

Easy A (2010)

Directed by Will Gluck Produced by Will Gluck, Zane Devine Written by Bert V. Royal Starring Emma Stone, Penn Badgley, Amanda Bynes, Thomas Haden Church, Patricia Clarkson, Stanley Tucci, Cam Gigandet, Lisa Kudrow, Malcolm McDowell, Aly Michalka, Dan Byrd Music by Brad Segal Cinematography Michael Grady Editing by Susan Littenberg Studio Will Gluck Productions Distributed by Screen Gems Running time 92 minutes Country United States Language English

3 thoughts on “Review: Easy A (2010)”

Leave a Reply