A Year in Review: Worst Movies of 2010

Di antara ratusan judul yang dirilis di layar bioskop setiap tahunnya, tentu saja tidak secara keseluruhan yang mampu memenuhi harapan kualitas setiap penontonnya. Beberapa kali, penonton akan dihadapkan pada situasi ketika mereka mengharapkan sesuatu yang lebih dari sebuah film yang akan mereka tonton, namun kemudian harus menghadapi kenyataan bahwa film tersebut ternyata… sangat buruk setelah ditonton – yang membuat beberapa di antara beberapa penonton berharap bahwa mereka dapat mengulang kembali waktu dan berharap mereka tidak melakukan kesalahan yang sama.

Well… berikut dua daftar yang berisi sepuluh film yang paling buruk kualitasnya sepanjang tahun 2010. Daftar pertama berisi film-film asing berkualitas buruk yang beredar di Indonesia, sementara daftar kedua berisi film-film Indonesia dengan kualitas yang tidak jauh berbeda.

WORST FOREIGN FILMS OF 2011

01 Vampires Suck (Directors: Jason Friedberg & Aaron Seltzer, 20th Century Fox)

Tidak banyak yang dapat untuk dikatakan mengenai Vampires Suck, film keenam dalam filmografi kerjasama Jason Friedberg dan Aaron Seltzer sebagai penulis naskah dan sutradara. Bagi mereka yang masih dapat mentolerir keburukan Disaster Movie dan menganggapnya lucu kemungkinan besar akan kembali menyaksikan film ini. Namun dengan jalan cerita yang sangat berantakan, humor yang tidak bekerja sama sekali dan akting para pemeran yang cenderung mengesalkan, Vampires Suck adalah sebuah mimpi buruk yang seharusnya tidak dialami semua orang.

02 Valentine’s Day (Director: Garry Marshall, New Line Cinema)

Sekelompok aktor dan aktris papan atas Hollywood melakukan bunuh diri karir mereka secara bersama-sama. Terlalu banyak cerita, terlalu banyak karakter, terlalu banyak hal-hal manis, terlalu banyak cinta… gagal dieksekusi dengan benar. Film ini malah terasa berjalan lama, membosankan dan cenderung mengesalkan, bahkan bagi mereka (yang biasanya cukup terbuka dengan genre-genre ringan bertemakan romansa seperti ini. Valentine’s Day adalah salah satu film paling mengecewakan yang pernah Anda saksikan.

03 Furry Vengeance (Director: Roger Kumble, Summit Entertainment)

Dengan naskah cerita yang sangat minim pengembangan, durasi 92 menit yang dihadirkan Furry Vengeance dihabiskan kebanyakan pada adegan aksi balas dendam yang dilakukan oleh karakter penghuni hutan terhadap karakter Dan Sanders, yang kemudian dilakukan secara berulang-ulang. Sangat membosankan! Visual effect yang dihadirkan juga sangat memprihatinkan dan benar-benar membuat Furry Vengeance sepertinya hanya dapat dinikmati oleh para penonton di bawah umur. Dangkal dan dihadirkan dengan cara yang benar-benar buruk!

04 Gulliver’s Travel (Director: Rob Letterman, 20th Century Fox)

Tidak ada satupun elemen dari Gulliver’s Travel yang benar-benar dapat diunggulkan dan dibanggakan. Mulai dari jalan cerita yang berisi lelucon kekanak-kanakan, dialog konyol yang sangat bodoh hingga para pemerannya yang seperti tidak dengan benar-benar mau memerankan karakter mereka. Sangat berantakan dan sama sekali tidak menarik untuk disimak.

 

05 The Bounty Hunter (Director: Andy Tennant, Columbia Pictures)

Well… sebenarnya dengan melihat premis yang ada, para penonton seharusnya sudah tahu mengenai hal apa yang hendak ditawarkan film ini. Sayangnya, premis yang telah diketahui oleh penonton tersebut rasanya dihadirkan dengan sangat sederhana, tidak mengalami pengembangan ataupun sedikit perbaikan. Bergantung penuh pada daya tarik dua pemeran utamanya, Jennifer Aniston dan Gerard Butler, tanpa mampu menghadirkan cerita yang menarik, The Bounty Hunter hadir sebagai sebuah drama komedi romantis yang datar dan cenderung membosankan tiap menit film ini berjalan.

06 When in Rome (Director: Mark Steven Johnson, Touchstone Pictures)

Naskah cerita When In Rome yang sangat dangkal sepertinya telah benar-benar menghancurkan peluang film ini untuk mengembangkan diri dan memberikan sajian hiburan tersendiri bagi para penontonnya. Tidak pernah benar-benar romantis dan memang benar-benar tidak pernah menawarkan sebuah sajian komedi yang menghibur, When In Rome tersudut menjadi sebuah film yang tidak menawarkan apa-apa selain menawarkan keindahan tampang dua pemerannya serta sesekali keindahan latar belakang lokasi pengambilan gambar yang dilakukan di Roma, Italia. Shame on!

07 Possession (Directors: Joel Bergvall & Simon Sandquist, Yari Film Group Releasing

Datarnya jalan cerita, tentu sedikit banyak berpengaruh pada akting yang diberikan para jajaran pemeran film ini. Akting yang kebanyakan dilakukan oleh Gellar dan Pace sebenarnya sudah cukup lumayan, namun karena kurang menggigitnya jalan cerita yang ada, akting mereka sepertinya hanya dapat dinikmati sebagai akting berkualitas standar, tidak buruk namun jauh dari kategori memuaskan. Sepertinya, Possession mungkin lebih baik untuk langsung dirilis ke DVD, itupun dengan porsi dinikmati ketika Anda benar-benar telah kehabisan bahan tontonan lainnya, karena film ini sama sekali tidak mengesankan.

08 The Experiment (Director: Paul Scheuring, Stage 6 Films)

Tidak banyak yang dapat ditawarkan oleh The Experiment. Walau menawarkan jajaran pemeran yang cukup menggiurkan, lemahnya karakterisasi pada naskah cerita film ini membuat para pemerannya tidak mampu melakukan banyak hal untuk mengembangkan akting mereka. Terlebih lagi jalan cerita yang dihadirkan juga sangat terasa tidak hidup dan cenderung berjalan datar semenjak film ini dimulai. Sangat mengecewakan untuk sebuah film yang mampu menarik perhatian dua aktor pemenang Oscar.

09 Cop Out (Director: Kevin Smith, Warner Bros.)

Cop Out tidak menawarkan apapun yang baru kepada para penontonnya. Masih menawarkan kisah persahabatan antara dua orang polisi yang kemudian berusaha memecahkan permasalahan pribadi maupun kasus kejahatan yang mereka hadapi bersama, Cop Out seperti kebingungan dalam mempadupadankan potensi komedi, drama dan action yang ada di dalam naskah ceritanya untuk dapat disampaikan kepada para penontonnya. Diperparah dengan jajaran pemerannya yang seperti setengah hati dalam memerankan karakter mereka, menghasilkan Cop Out seperti sebuah film yang dibuat dalam keadaan terpaksa dan sumber daya yang seadanya. Mengecewakan.

10 Extraordinary Measures (Director: Tom Vaughan, CBS Films)

Sebuah kisah nyata, dengan tema cerita yang masih belum banyak digali dari film-film Hollywood lainnya, ternyata belum menjamin bahwa sebuah film dapat menjadi sebuah tontonan yang menarik. Extraordinary Measures membuktikan bahwa dengan arahan yang biasa, cerita potensial yang sebenarnya dapat digali dari sebuah cerita menjadi terbuang dengan sia-sia. Naskah yang terlalu berfokus pada tiga karakter utamanya, dan mengenyampingkan potensi dramatis yang dapat diberikan pada penontonnya, membuat para pemerannya tidak dapat berbuat banyak untuk menghidupkan karakter mereka. Hasilnya, Extraordinary Measures hanya menjadi sebuah film keluarga inspirasional biasa, tanpa mampu memberikan kelebihan lainnya pada penontonnya.

WORST INDONESIAN FILMS OF 2010

01 Istri Bo’ongan (Director: Arie Azis, Kanta Indah Film)

Pepatah jangan menilai sesuatu dari penampilannya mungkin benar. Namun untuk Istri Bo’ongan, dan segudang judul drama komedi dewasa lainnya, para penonton seharusnya semenjak awal sudah tahu hendak kemana arah film ini sebenarnya. Sangat disesalkan keberadaan nama Dwi Sasono di film ini. Catatan filmnya yang kebanyakan berkualitas, akan tercoreng dengan film ini. Fahrani — yang tampil sangat memukai di Radit & Jani — sepertinya semakin terperosok jauh dengan film-film sekelas sampah ini, setelah sebelumnya membintangi Perjaka Terakhir dan Taring (2010). Dan Julia Perez… tetaplah seorang Julia Perez. Sebuah film yang seharusnya berada di daftar catatan kelam dunia sinema Indonesia yang seharusnya tidak pernah dibuat apalagi disaksikan khalayak ramai. Jika saja ada hukum yang akan menindak tegas para pembuat film sampah.

02 Obama Anak Menteng (Directors: John De Rantau & Damien Dematra, MVP Pictures)

Masih ingat masa ketika seluruh penduduk Indonesia terkena euphoria mengenai kedatangan Presiden Amerika Serikat, Barrack Hussein Obama, dan beberapa produser langsung berupaya mengeruk keuntungan dari hal tersebut? Ini adalah hasil produk dari hasrat komersial yang terlalu menggebu-gebu tersebut. Dengan naskah yang kerdil dan kemampuan akting para pemeran yang sangat menyedihkan, Obama Anak Menteng berakhir sebagai sebuah mimpi yang benar-benar buruk!

03 Lihat Boleh, Pegang Jangan (Director: Findo Purnomo HW, Maxima Pictures)

Cerita yang dangkal, akting yang buruk dan beberapa kesalahan produksi yang dapat dengan mudah ditemukan di sepanjang jalan cerita membuat Lihat Boleh, Pegang Jangan menjadi sebuah pengalaman menonton yang sama sekali tidak akan ingin diingat dalam jangka waktu yang panjang. Tentu saja, sineas Indonesia pernah menawarkan sesuatu yang lebih buruk daripada film ini. Namun hal tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran untuk menganggap film ini sebagai sebuah karya yang lebih baik. A disaster!

04 Laskar Pemimpi (Director: Monty Tiwa, Starvision Plus)

Monty Tiwa seperti terlalu berhasrat untuk menjadikan film ini menjadi sebuah film musikal komedi perjuangan, namun dengan isi yang serampangan. Perpaduan antara sisi komedi dengan musikal dan drama perjuangan yang diletakkan sama sekali tidak dapat berpadu dengan baik. Ditambah dengan jajaran pemeran yang sama sekali tidak menunjukkan kemampuan mereka untuk merebut perhatian penonton, menyisakan Laskar Pemimpi menjadi sebuah film berkualitas kacangan yang sama sekali tidak menarik untuk disaksikan.

05 Red CobeX (Director: Up, Starvision Plus)

Sangat disesalkan sebenarnya melihat jajaran aktris dengan nama-nama besar dan sepertinya sangat menjanjikan tersebut hanya mampu membintangi film sekelas komedi murahan ini. Berisi banyak dialog-dialog yang sangat dangkal, karakterisasi yang sangat berlebihan dan cenderung mengesalkan serta jalan cerita yang sama sekali tidak lucu dan membosankan membuat Red CobeX terkesan hanyalah sebagai sebuah proyek film yang digarap hanya karena dasar pertemanan para jajaran pemerannya, dan tidak digarap dengan serius. Cukup dangkal dan  mengesalkan untuk membuat Anda menyesal telah menyaksikan film ini.

06 Pengantin Topeng (Director: Awi Suryadi, Besinema)

Selain Masayu, sepertinya Pengantin Topeng tidak menyisakan banyak hal untuk diceritakan. Naskah cerita yang dangkal yang ditarik sedemikian panjang, bloopers yang banyak ditemukan di sepanjang film hingga eksekusi intensitas yang dilakukan terlambat membuat film ini cenderung akan melelahkan daripada menjadi sebuah tontonan yang menarik.

 

07 Ratu Kostmopolitan (Director: Ody C. Harahap, MVP Pictures)

Lagi-lagi, demi alasan komedi, naskah cerita Ratu Kostmopolitan sepertinya memaksakan berbagai adegan dan jalan cerita yang tidak rasional untuk hadir. Murni mengandalkan berbagai adegan komikal (baca: bodoh) untuk memberikan tawa dan hiburan kepada para penonton film ini, membuat Ratu Kostmopolitan tidak memberikan sesuatu yang berarti pada para penontonnya. Toh, beberapa orang masih akan terhibur dengan film ini. Namun, apakah memang peminat film Indonesia sebegitu dangkalnya untuk dapat merasa terhibur dengan film semacam ini?

08 D’Love (Director: Helfi Kardit, Bintang Timur Films/Dreamcatcher Pictures)

Kesalahan utama D’Love terletak pada jajaran pemerannya yang terlihat sama sekali tidak berusaha untuk menghidupkan karakter mereka atas dasar sebuah naskah cerita yang memang dangkal tersebut. Dari sisi naskah, D’Love sendiri juga sangat terasa sebagai sebuah film yang terlalu berusaha untuk terlihat pintar dengan banyaknya variasi karakter serta tambahan plot cerita, yang ketika tidak berhasil dieksekusi dengan baik, justru membuat kualitas D’Love sebagai sebuah film semakin terpuruk tajam.

09 Melodi (Director: Harry Dagoe Suharyadi, Imajika Films/Gerilya Films/Dagoe Film Workshop)

Jujur saja, Harry Dagoe Suharyadi masih pantas untuk mendapatkan apresiasi atas apa yang ia lakukan untuk memberikan sebuah tontonan yang menyenangkan bagi anak-anak Indonesia. Namun, jika ingin berpendapat sinis, justru karena ingin memasarkan film ini kepada para anak-anak, yang akan hanya menikmati dan tidak akan memberi penilaian lebih, para pembuat film Melodi seperti membuat film ini dengan setengah hati, yang terlihat dengan banyaknya kecacatan produksi yang banyak ditemukan di sepanjang film. Hasilnya, Melodi bagaikan dua buah mata pisau: di satu sisi film ini akan sangat menghibur para anak-anak yang menonton — dan buta mengenai teknis sebuah film –, di lain sisi film ini akan banyak mendapatkan backlash dari mereka penonton dewasa yang mencoba untuk menikmati film ini, namun disuguhkan dengan film yang ‘belum benar-benar jadi.’

10 Kabayan Jadi Milyuner (Director: Guntur Soeharjanto, Starvision Plus)

Dengan karakter yang telah sangat familiar dan jajaran pemeran yang sebenarnya cukup menjanjikan, Kabayan Jadi Milyuner harus diakui terlihat seperti sebuah kesempatan besar yang terbuang dengan percuma akibat buruknya jalan cerita yang dihadirkan. Naskah yang dihadirkan benar-benar sangat tidak mampu untuk menghadirkan sebuah tontonan yang dapat menghibur setiap penontonnya. Membosankan dan dengan karakterisasi yang sangat dangkal. Ini yang kemudian menjadikan jajaran pemeran film ini gagal memberikan permainan terbaiknya, selain faktor miscast yang terasa terjadi pada beberapa karakter. Sebuah komedi yang sangat mengecewakan.

5 thoughts on “A Year in Review: Worst Movies of 2010”

    1. The Last Airbender dan Skyline bukannya kelupaan. Daftar “buruk” ini khan berisi film-film yang mendapat penilaian buruk menurut saya selama setahun terakhir. Untuk pengurutannya, saya menilainya dari film-film yang menurut saya gak mungkin atau gak berminat untuk saya tonton kembali. Dan jika dibandingkan dengan sepuluh film keatas, saya masih lebih memilih untuk menonton The Last Airbender dan Skyline… walau faktor kualitasnya masih tetap setara buruknya.

Leave a Reply