Review: The Next Three Days (2010)


Setelah In the Valley of Elah (2007) yang sangat menyentuh namun sepertinya kurang berhasil mendapatkan perhatian yang lebih besar, pemenang dua Academy Awards, Paul Haggis, kini kembali ke kursi sutradara untuk mengarahkan Russell Crowe dan Elizabeth Banks dalam The Next Three Days. Film ini sendiri merupakan remake dari film Perancis yang menjadi debut penyutradaraan bagi sutradara Fred Cavayé, Pour Elle, yang sempat meraih kesuksesan besar ketika dirilis pada tahun 2008 silam.

The Next Three Days sendiri seperti ingin mempertanyakan kembali mengenai apa yang akan Anda lakukan untuk orang yang Anda cintai, suatu hal yang sepertinya ingin dibuktikan oleh John Brennan (Crowe) kepada istrinya, Lara (Banks), ketika sang istri dipenjara akibat terkena tuduhan telah membunuh bosnya. John, yang seorang guru, kemudian menghabiskan masa waktu tiga tahun untuk berusaha melakukan segala upaya hukum untuk dapat membuktikan bahwa sang istri tak bersalah. Namun, dalam jangka tiga tahun tersebut, John akhirnya menyadari bahwa kesempatan dirinya untuk dapat membebaskan Lara adalah sama sekali tidak mungkin.

John akhirnya memutuskan untuk melakukan hal yang mungkin akan dilakukan setiap suami lainnya ketika istri mereka dipenjara karena tuduhan yang sebenarnya tidak mereka lakukan: berusaha menembus penjara untuk kemudian melarikan sang istri. John kemudian menghabiskan masa waktu tiga bulan untuk melakukan observasi terhadap lingkungan penjara tempat Lara ditahan. Ia juga berkonsultasi dengan Damon Pennington (Liam Neeson), seorang penulis yang dahulunya popular sebagai seorang narapidana yang selalu berhasil meloloskan diri dari kurungan penjara. Seperti belum cukup menghadapi hambatan dalam usahanya, John kemudian mendapatkan surat pemberitahuan dari pihak kepolisian bahwa istrinya akan direlokasi ke penjara lainnya dalam waktu dekat. Kini, John hanya punya waktu tiga hari untuk melaksanakan seluruh rencananya dalam membebaskan sang istri.

Di tangan Paul Haggis, The Next Three Days terasa bagaikan sebuah film thriller yang berjalan terlalu pelan akibat banyaknya detil yang berusaha dimasukkan oleh Hagis di dalam jalan cerita film ini. Beberapa detil tersebut — kebanyakan berfokus pada kepribadian John Brennan ketika ia sedang tidak menyusun rencana besarnya yang sepertinya bahkan tidak terlalu signifikan untuk dimasukkan ke dalam jalan cerita — membuat beberapa bagian The Next Three Days berjalan terlalu menjemukan untuk disimak. Hal ini pula yang sepertinya membuat The Next Three Days berjalan lebih panjang daripada film aslinya.

Ritme perlahan tersebut kemudian berubah pada masa durasi satu jam terakhir film ini. The Next Three Days yang awalnya seperti sebuah drama yang berfokus pada karakterisasi setiap tokoh yang ada di dalam jalan ceritanya kemudian berubah menjadi sebuah thriller action ketika John Brennan digambarkan sedang berusaha mengeluarkan istrinya dari penjara. Di masa-masa inilah The Next Three Days mencapai masa puncaknya. Denganmenggunakan alur cepat, intensitas ketegangan yang terjaga dengan baik, dan ditambah dengan kemampuan setiap karakter yang terlibat dalam menghidupkan jalan cerita dengan baik, bagian ini sedikit banyak berhasil menghapuskan rasa lelah yang sebelumnya timbul akibat terlalu serius dan perlahannya The Next Three Days berjalan.

Walau jalan ceritanya kadang berjalan menjemukan, namun tak ada yang dapat meragukan performa Russell Crowe di film ini. Seringkali mendapatkan peran sebagai karakter yang heroik, Crowe sekali lagi mampu membuktikan bahwa ia adalah aktor yang brilian dengan keberhasilannya membuat karakter John Brennan menjadi seorang karakter yang membumi dan mudah dipercaya sebagai karakter pria yang dapat ditemukan di mana saja. Kemampuan dramatik Crowe membuat jalan cerita The Next Three Days yang sepertinya tidak terlalu masuk akal untuk benar-benar dapat dilaksanakan di dunia nyata terlihat menjadi cukup meyakinkan untuk diikuti.

Tidak hanya Crowe, Paul Haggis juga mendapatkan barisan pemeran pendukung yang sangat baik dalam melaksanakan tugas mereka. Walau karakter-karakter ini mendapatkan waktu tayang yang jauh lebih sedikit daripada Crowe, namun kehadiran merekalah yang seringkali membuat keefektifan penampilan Crowe menjadi lebih terasa. Elizabeth Banks mampu menampilkan kemampuan dramanya yang sepertinya semakin sering terasah akhir-akhir ini. Liam Neeson dan Brian Dennehy mendapatkan peran yang lebih minimal lagi, namun keduanya mampu tampil maksimal dalam menghidupkan peran mereka yang singkat.

Sebagai sebuah thriller, Paul Haggis sayangnya terlalu lamban dalam mengolah jalan cerita The Next Three Days. Haggis membutuhkan waktu lebih dari satu jam jalan cerita untuk melakukan karakterisasi yang mendalam terhadap setiap karakter – yang sayangnya, kadang malah terlalu dipenuhi oleh banyak detil yang sebenarnya tidak diperlukan untuk jalan cerita film ini. Ini berakibat buruk dalam menjadikan The Next Three Days cenderung menjadi membosankan. Haggis, untungnya, mengganti arah penceritaan film ini menjadi sebuah thriller yang berjalan cepat di satu jam akhir dan berhasil meningkatkan kembali intensitas ketegangan yang sedari awal sepertinya melempem. Barisan pemerannya memberikan penampilan yang sangat memuaskan dan untungnya mampu menjadikan The Next Three Days sebagai sebuah film yang tidak begitu mengecewakan.

Rating: 3.5 / 5

The Next Three Days (Highway 61 Films/Lionsgate, 2010)

The Next Three Days (2010)

Directed by Paul Haggis Produced byMichael Nozik, Olivier Delbosc, Paul Haggis, Marc Missonnier Written by Paul Haggis, Fred Cavayé Starring Russell Crowe, Elizabeth Banks, Liam Neeson, Brian Dennehy, Olivia Wilde, Jason Beghe, Lennie James, Aisha Hinds, Daniel Stern, RZA, Kevin Corrigan, Allan Steele Music by Danny Elfman Cinematography Stéphane Fontaine Studio Highway 61 Films Distributed by Lionsgate Running time 122 minutes Country United States Language English

Advertisements

2 thoughts on “Review: The Next Three Days (2010)”

  1. Amazing … Ok banget neh film, Sport jantung nontonnya.
    Benar2 “Mission Impossible” ( coz pelakunya orang awam bukan seorang yang Ahli).
    Saya jadi bertanya2 mengapa harus cara penuh resiko dan ga mungkin, ga masuk akal seperti itu yang ditempuh? Bukannya lebih mungkin berusaha membuktikan bahwa istrinya tidak bersalah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s